Ritual 12 Anggur di Pergantian Tahun 2026: Tradisi Viral dalam Tinjauan Islam dan Budaya Digital

Oleh : M. Zainul Umam, Umi Sulistyani, Husnul Khotimah, Mujiono
Pergantian tahun selalu menjadi momentum penting dalam kehidupan manusia. Ia bukan sekadar penanda perubahan kalender, tetapi juga ruang refleksi, harapan, dan evaluasi diri. Menjelang Tahun Baru 2026, media sosial global diramaikan oleh sebuah fenomena budaya yang kembali viral, yakni ritual makan 12 anggur saat detik-detik pergantian tahun. Praktik ini dipercaya oleh sebagian masyarakat dunia sebagai simbol keberuntungan, kelancaran rezeki, dan kebahagiaan selama satu tahun ke depan. Fenomena tersebut menjadi menarik untuk dikaji, terutama ketika dilihat dari perspektif budaya digital dan pandangan Islam.
Asal-Usul Ritual 12 Anggur
Ritual 12 anggur bukanlah tradisi baru. Ia berasal dari Spanyol dan dikenal dengan istilah Las Doce Uvas de la Suerte atau “dua belas anggur keberuntungan”. Tradisi ini telah dilakukan sejak awal abad ke-20. Dalam praktiknya, seseorang memakan satu butir anggur setiap kali lonceng jam berbunyi pada detik-detik terakhir pergantian tahun. Setiap butir anggur melambangkan satu bulan dalam setahun, yang diharapkan membawa keberuntungan dan kebaikan.
Seiring perkembangan zaman, tradisi ini menyebar ke berbagai negara Eropa dan Amerika Latin. Namun, lonjakan popularitasnya secara global terjadi ketika media sosial mengambil peran besar dalam mendistribusikan budaya. TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi medium utama yang mengubah ritual lokal menjadi fenomena internasional.
Ritual 12 Anggur dalam Budaya Digital
Di era budaya digital, tradisi tidak lagi dibatasi oleh ruang dan wilayah. Media sosial telah menjadi ruang baru tempat lahirnya makna, simbol, dan praktik budaya. Ritual 12 anggur mengalami transformasi makna: dari tradisi lokal menjadi konten global. Para kreator konten mengemas ritual ini dengan narasi visual yang menarik, musik emosional, serta pesan afirmasi positif seperti manifestation, positive vibes, dan new year goals.
Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya digital bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga arena pembentukan identitas dan harapan. Generasi muda, khususnya, memaknai ritual ini sebagai simbol optimisme, resolusi hidup, dan penguatan mental. Dalam konteks ini, ritual 12 anggur sering diposisikan bukan sebagai keyakinan religius, melainkan sebagai simbol motivasi personal.
Namun demikian, budaya digital juga memiliki kecenderungan untuk menyederhanakan makna. Simbol-simbol budaya sering kali dilepaskan dari konteks sejarah dan nilai asalnya. Ritual 12 anggur yang awalnya memiliki latar budaya tertentu kini hadir dalam berbagai tafsir, bahkan terkadang bercampur dengan keyakinan spiritual baru yang tidak memiliki dasar yang jelas.

Perspektif Islam terhadap Ritual dan Tradisi
Islam sebagai agama yang sempurna memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi tradisi dan budaya. Dalam kaidah ushul fiqh dikenal prinsip al-‘adah muhakkamah (adat atau kebiasaan dapat dijadikan pertimbangan hukum), selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariat Islam. Artinya, tidak semua tradisi otomatis ditolak, tetapi perlu dikaji substansi dan maknanya.
Dalam konteks ritual 12 anggur, persoalan utama bukan pada aktivitas makan buahnya, melainkan keyakinan yang menyertainya. Jika ritual tersebut diyakini sebagai penentu keberuntungan, keselamatan, atau rezeki, maka hal ini berpotensi bertentangan dengan prinsip tauhid. Islam menegaskan bahwa hanya Allah SWT yang memiliki kuasa mutlak atas takdir dan rezeki manusia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada satu pun musibah atau kebaikan yang terjadi kecuali atas izin-Nya. Keyakinan bahwa suatu benda, ritual, atau simbol tertentu dapat menentukan nasib secara independen termasuk dalam bentuk tathayyur (anggapan sial atau keberuntungan dari sesuatu), yang dalam Islam perlu dihindari.
Namun, apabila ritual tersebut dimaknai sekadar sebagai tradisi budaya, hiburan, atau simbol refleksi diri tanpa keyakinan spiritual tertentu, maka posisinya menjadi berbeda. Di sinilah pentingnya niat dan pemahaman yang lurus.
Antara Simbol dan Keyakinan
Islam sangat menekankan pentingnya niat (innamal a‘malu binniyat). Aktivitas yang sama dapat bernilai ibadah atau sebaliknya, tergantung pada niat dan keyakinan yang mendasarinya. Ritual 12 anggur, ketika diyakini membawa keberuntungan secara otomatis, berpotensi menggeser ketergantungan manusia dari Allah kepada simbol.
Sebaliknya, Islam mengajarkan umatnya untuk menggantungkan harapan kepada Allah melalui doa, ikhtiar, dan tawakal. Pergantian tahun dalam Islam tidak dirayakan dengan ritual khusus, tetapi dimaknai sebagai momentum muhasabah (evaluasi diri). Umar bin Khattab pernah menegaskan pentingnya menghitung diri sendiri sebelum dihitung oleh Allah.
Dalam tradisi Islam, pergantian waktu seharusnya diisi dengan refleksi iman, perbaikan akhlak, dan peningkatan amal saleh. Inilah pembeda mendasar antara simbolisme budaya populer dan spiritualitas Islam.

Literasi Digital dan Tantangan Umat
Viralnya ritual 12 anggur juga menjadi pengingat akan pentingnya literasi digital, khususnya bagi umat Islam. Tidak semua tren yang populer sesuai dengan nilai keislaman. Media sosial sering kali membungkus praktik budaya dengan narasi emosional yang menarik, tetapi minim konteks.
Umat Islam dituntut untuk bersikap kritis, selektif, dan berimbang. Menolak secara total tanpa pemahaman juga bukan solusi, sebagaimana menerima tanpa kritik dapat berisiko terhadap akidah. Sikap wasathiyah (moderat) menjadi kunci dalam menyikapi fenomena budaya digital.
Lembaga pendidikan Islam, kampus, dan media akademik memiliki peran strategis dalam memberikan pemahaman yang jernih. Diskursus tentang budaya populer perlu dihadirkan dengan pendekatan edukatif, bukan menghakimi. Dengan demikian, generasi muda dapat memahami batas antara tradisi, hiburan, dan keyakinan.
Tahun Baru dalam Perspektif Islam
Islam tidak mengenal perayaan tahun baru sebagaimana tradisi modern. Namun, Islam sangat menghargai waktu. Allah bersumpah atas waktu dalam banyak ayat Al-Qur’an, seperti wal-‘ashr dan wal-fajr. Ini menunjukkan bahwa waktu memiliki nilai spiritual yang tinggi.
Pergantian tahun, termasuk tahun Masehi, dapat dijadikan momentum evaluasi diri. Sejauh mana kualitas iman meningkat, amal bertambah, dan akhlak membaik. Resolusi terbaik dalam Islam bukan sekadar target duniawi, tetapi juga komitmen untuk menjadi hamba yang lebih taat dan bermanfaat.
Daripada menggantungkan harapan pada simbol ritual, Islam mengajarkan doa yang tulus, ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta tawakal kepada Allah. Inilah fondasi keberuntungan sejati dalam pandangan Islam.

Ritual 12 anggur di pergantian Tahun Baru 2026 adalah contoh nyata bagaimana tradisi lokal dapat berubah menjadi fenomena global melalui budaya digital. Ia merepresentasikan kebutuhan manusia akan harapan, optimisme, dan rasa kendali di tengah ketidakpastian zaman.
Dalam perspektif Islam, fenomena ini perlu disikapi dengan bijak dan proporsional. Bukan semata-mata ditolak atau diikuti, tetapi dipahami secara kritis. Islam mengajarkan bahwa keberuntungan sejati tidak datang dari ritual simbolik, melainkan dari iman, amal saleh, dan ketergantungan penuh kepada Allah SWT.
Budaya boleh berubah, tren boleh berganti, tetapi prinsip tauhid tetap menjadi kompas utama bagi umat Islam. Pergantian tahun seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, memperbaiki diri, dan meneguhkan niat untuk hidup lebih bermakna. Dengan demikian, umat Islam dapat hadir secara aktif dan cerdas di tengah arus budaya digital global, tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai keislaman.

Natal dan Toleransi: Menjaga Harmoni tanpa Mengaburkan Keyakinan

Oleh : M. Zainul Umam, Mujiono, Dicky Dwi Prakosa, Ahmad Bahruddin

Perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember merupakan momen keagamaan yang sakral bagi umat Kristiani. Di Indonesia yang dikenal sebagai bangsa majemuk, Natal tidak hanya menjadi peristiwa religius, tetapi juga ruang sosial yang menguji kedewasaan masyarakat dalam mempraktikkan toleransi beragama. Namun demikian, toleransi tidak berarti tanpa batas. Ia harus dijalankan secara proporsional, berlandaskan penghormatan terhadap keyakinan masing-masing, serta tidak mencampuradukkan ajaran agama.
Toleransi beragama di Indonesia berakar kuat pada nilai Pancasila dan konstitusi yang menjamin kebebasan setiap warga negara dalam menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya. Dalam konteks Natal, toleransi diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menjaga keamanan dan kenyamanan umat Kristiani dalam beribadah, serta menciptakan suasana sosial yang damai. Praktik seperti menjaga rumah ibadah, membantu pengamanan perayaan, dan menyampaikan ucapan selamat secara sosial menjadi contoh toleransi yang hidup di tengah masyarakat.
Namun, penting untuk dipahami bahwa toleransi memiliki batas yang jelas. Dalam perspektif keagamaan, toleransi tidak boleh melanggar prinsip akidah dan keyakinan masing-masing pemeluk agama. Menghormati perayaan agama lain tidak sama dengan ikut serta dalam ritual keagamaan yang bertentangan dengan keyakinan pribadi. Inilah batas fundamental toleransi yang harus dipahami secara bijak agar harmoni sosial tetap terjaga tanpa mengorbankan prinsip keimanan.
Natal, sebagai perayaan keagamaan umat Kristiani, hendaknya ditempatkan sebagai ruang ibadah internal yang dihormati oleh pemeluk agama lain. Kehadiran umat beragama lain dalam konteks sosial seperti menjaga keamanan atau menunjukkan simpati kemanusiaan tidak dapat disamakan dengan keterlibatan dalam ritual ibadah. Pemahaman ini penting untuk menghindari kesalahpahaman yang kerap muncul akibat kurangnya literasi keagamaan.
Di lingkungan pendidikan dan kampus, isu toleransi dan batas-batasnya menjadi semakin relevan. Perguruan tinggi merupakan ruang perjumpaan berbagai latar belakang agama dan budaya. Oleh karena itu, institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menanamkan pemahaman moderasi beragama kepada mahasiswa. Moderasi beragama mengajarkan keseimbangan: bersikap terbuka dan menghormati perbedaan, namun tetap teguh pada keyakinan sendiri.
Tantangan toleransi beragama di era digital juga tidak bisa diabaikan. Media sosial sering kali menjadi ruang penyebaran narasi ekstrem, baik yang terlalu eksklusif maupun yang terlalu permisif. Dalam konteks Natal, perdebatan tentang ucapan selamat, simbol keagamaan, dan partisipasi lintas iman kerap memicu polemik. Oleh karena itu, sikap bijak dan literasi digital menjadi kunci agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi konflik sosial.
Batas toleransi beragama juga berkaitan erat dengan etika sosial. Menghormati perayaan Natal berarti tidak mengganggu jalannya ibadah, tidak menyebarkan ujaran kebencian, serta tidak memaksakan pandangan pribadi kepada orang lain. Sebaliknya, umat Kristiani juga memiliki peran dalam menjaga sensitivitas sosial, dengan memahami keberagaman keyakinan di sekitarnya dan tidak menuntut keterlibatan religius dari pemeluk agama lain.
Dalam konteks kebangsaan, menjaga batas toleransi adalah bagian dari upaya merawat persatuan. Indonesia tidak dibangun di atas keseragaman, melainkan keberagaman yang diikat oleh kesepakatan bersama. Toleransi yang sehat adalah toleransi yang berkeadaban menghargai perbedaan, menjunjung tinggi hukum, serta menjaga ruang publik agar tetap inklusif dan damai.
Akhirnya, Natal dan toleransi beragama mengajarkan satu hal penting: hidup berdampingan secara damai membutuhkan pemahaman, kedewasaan, dan saling menghormati batas. Toleransi bukan tentang menghilangkan identitas keagamaan, melainkan tentang mengelola perbedaan dengan bijaksana. Dengan pemahaman yang tepat tentang batas-batas toleransi, masyarakat Indonesia dapat terus menjaga harmoni sosial tanpa kehilangan jati diri keagamaannya masing-masing.
Semoga perayaan Natal menjadi momentum refleksi bersama untuk memperkuat moderasi beragama, mempererat persaudaraan kebangsaan, dan merawat Indonesia sebagai rumah bersama yang damai dan berkeadilan.

#Natal

#ToleransiBeragama

#ModerasiBeragama

#KerukunanUmatBeragama

#BatasToleransi

Hari Ibu: Merawat Ingatan, Menguatkan Peran Perempuan dalam Peradaban

Oleh : M. Zainul Umam, Husnul Khotimah, Umi Sulistyani

Setiap tanggal 22 Desember, bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu sebagai momentum refleksi atas peran penting perempuan khususnya ibu dalam membangun keluarga, masyarakat, dan bangsa. Hari Ibu bukan sekadar perayaan simbolik dengan bunga atau ucapan manis, melainkan ruang untuk mengenang perjuangan, pengorbanan, serta kontribusi nyata perempuan dalam sejarah dan kehidupan sehari-hari.
Secara historis, Hari Ibu di Indonesia berakar dari Kongres Perempuan Indonesia pertama yang diselenggarakan pada 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres tersebut menjadi tonggak persatuan gerakan perempuan Indonesia dalam memperjuangkan hak, pendidikan, dan peran sosial perempuan di tengah perjuangan kemerdekaan. Oleh karena itu, Hari Ibu di Indonesia memiliki makna yang lebih luas dibandingkan peringatan serupa di negara lain, ia adalah hari kesadaran, perjuangan, dan pemberdayaan perempuan.
Dalam konteks keluarga, ibu sering disebut sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dari ibu, seorang anak pertama kali belajar tentang nilai kehidupan: kejujuran, kasih sayang, kesabaran, dan tanggung jawab. Ibu bukan hanya sosok yang melahirkan, tetapi juga mendidik, merawat, dan membentuk karakter generasi masa depan. Peran ini kerap dijalani dengan penuh pengorbanan, bahkan tanpa pengakuan atau balasan yang setimpal.
Namun, peran ibu di era modern tidak lagi terbatas pada ranah domestik. Banyak ibu yang juga berperan sebagai pendidik, pekerja profesional, pemimpin komunitas, hingga penggerak perubahan sosial. Mereka menjalani peran ganda bahkan sering kali peran berlapis dengan keteguhan dan ketulusan. Tantangan yang dihadapi pun semakin kompleks, mulai dari tuntutan ekonomi, perkembangan teknologi, hingga dinamika sosial yang terus berubah.
Peringatan Hari Ibu menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan belum sepenuhnya usai. Masih terdapat berbagai persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama, seperti akses pendidikan yang setara, perlindungan terhadap kekerasan, kesehatan ibu dan anak, serta penghargaan terhadap kerja-kerja perawatan (care work) yang selama ini kerap tidak terlihat. Menghormati ibu berarti juga memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh perempuan.
Dalam perspektif pendidikan, peran ibu sangat strategis dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan sejak dini. Ibu memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan anak, sehingga mampu menjadi agen pembentukan karakter yang efektif. Di sinilah pentingnya dukungan negara dan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas perempuan melalui pendidikan, literasi, dan pemberdayaan ekonomi.
Hari Ibu juga menjadi momentum untuk merefleksikan relasi dalam keluarga. Apresiasi terhadap ibu tidak seharusnya berhenti pada satu hari dalam setahun, tetapi diwujudkan dalam sikap saling menghargai, berbagi peran, dan membangun komunikasi yang sehat di dalam rumah tangga. Keterlibatan ayah dan anggota keluarga lain dalam tugas pengasuhan adalah bentuk nyata penghormatan terhadap peran ibu.
Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, tantangan ibu semakin beragam. Ibu dituntut untuk adaptif terhadap perubahan, sekaligus tetap menjadi penjaga nilai dan moral keluarga. Oleh karena itu, ibu juga membutuhkan ruang untuk bertumbuh, didukung secara psikologis, sosial, dan struktural agar mampu menjalankan perannya secara optimal.
Akhirnya, Hari Ibu adalah tentang merawat ingatan kolektif kita terhadap perjuangan perempuan, sekaligus meneguhkan komitmen untuk terus menguatkan peran ibu dalam peradaban. Menghormati ibu berarti menghargai kehidupan, menumbuhkan kasih sayang, dan membangun masa depan yang lebih adil dan manusiawi.
Selamat Hari Ibu. Terima kasih atas cinta yang tak pernah selesai, doa yang tak pernah putus, dan perjuangan yang sering kali tak terlihat, namun selalu terasa.

#HariIbu #PeranIbu #PerempuanBerdaya #IbuInspirasi #KasihIbu #PerempuanIndonesia #KeluargaBerkarakter #CintaTakBersyarat

Mahasiswa IPRIJA Berperan Aktif dalam Pelayanan Umat di KUA Tapos

DEPOK – Program Praktikum Profesi Lapangan (PPL) kembali menjadi ajang implementasi kompetensi mahasiswa Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA). Kali ini, Aufa Zaki (NIM S.323246), mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, sukses merampungkan kegiatan magang di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tapos, Kota Depok, dengan capaian yang impresif.

Kegiatan yang berlangsung sejak pertengahan September hingga awal November 2025 di kantor yang berlokasi di Jl. Rawa Kebo, Cimpaeun ini, bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik. Zaki terlibat aktif dalam hampir seluruh lini pelayanan KUA, mulai dari administrasi digital hingga pelayanan bimbingan masyarakat yang krusial.

Dari Digitalisasi hingga Konseling Keluarga

Pada minggu-minggu awal magang, kegiatan difokuskan pada adaptasi lingkungan kerja dan penguatan administrasi. Salah satu kontribusi nyata Zaki adalah membantu proses digitalisasi data Akta Nikah tahun 2015 yang menjadi sejarah awal KUA Tapos karena sebelum tahun 2015 administratif pencatatan nikah pada wilayah Tapos menginduk kepada KUA Cimanggis kemudian pada tahun 2015 KUA Tapos hadir untuk wilayah kecamatan Tapos, maka proses digitalisasi dari tahun 2015 ini merupakan sebuah langkah vital dalam mengamankan arsip negara.

Namun, kompetensi mahasiswa IPRIJA ini benar-benar diuji ketika dihadapkan pada kasus-kasus riil di lapangan. Dalam kegiatannya, Zaki tercatat tidak hanya menjadi penonton, melainkan dipercaya menjadi konselor. Pada akhir Oktober, ia menangani sesi konsultasi bagi seorang istri yang mengadukan problematika rumah tangga, serta mempelajari penanganan kasus sensitif seperti KDRT.

“Pengalaman menghadapi problematika riil dalam menangani permasalahan rumah tangga, menjadi pembicara pada bimbingan remaja usia sekolah, moderator pada kegiatan bimbingan perkawinan serta terjun langsung mengikuti rangkaian pernikahan, membaca khutbah nikah, penyuluhan kajian keagamaan di Masjid hingga menangani kasus kendala pernikahan WNA asal Pakistan, hal ini semuanya menjadikan dan memperkaya wawasan hukum syariah serta experience yang menyempurnakan landasan teori keilmuan yang telah saya pelajari di bangku perkuliahan.” ujar Zaki.

Dedikasi dalam Dakwah dan Literasi Digital

Selain aspek hukum syariah, kemampuan public speaking dan dakwah mahasiswa IPRIJA juga mendapat panggung. Zaki dipercaya menjadi moderator dalam berbagai sesi Bimbingan Perkawinan (Binwin), baik tatap muka maupun virtual. Kreativitasnya pun tersalurkan melalui pembuatan konten edukasi digital, seperti reels “Tepuk Sakinah” dan konten peringatan Kesaktian Pancasila.

Puncak dari kegiatan praktikum ini terlihat di minggu-minggu terakhir bulan Oktober. Zaki menunjukkan kapasitasnya sebagai calon tokoh agama dengan menjadi pemateri program BRUSS (Bimbingan Remaja Usia Sekolah) di SMP Tritura, sekaligus menjadi Khotib Jumat di masjid setempat.

Tak berhenti di situ, kepercayaan Kepala KUA Tapos kepada Zaki dibuktikan dengan pelibatan dirinya dalam tugas kepenghuluan. Tercatat pada 25 dan 26 Oktober, Zaki mendampingi Bapak Penghulu dan berkesempatan menyampaikan Khutbah Nikah di empat lokasi akad yang berbeda, serta mengisi kajian subuh membahas kitab Mukhtarul Ahadits di Masjid At-Thohir.

Penutupan yang Berkesan

Rangkaian kegiatan praktikum ini ditutup secara resmi pada Senin, 3 November 2025. Dalam acara perpisahan yang hangat, Zaki menyerahkan plakat akrilik dan gelas mug sebagai tanda terima kasih kepada keluarga besar KUA Tapos.

Kegiatan praktikum ini membuktikan bahwa mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam IPRIJA siap terjun ke masyarakat, tidak hanya dengan bekal teori hukum, tetapi juga dengan kecakapan sosial, kemampuan konseling, dan kompetensi dakwah yang mumpuni.

Tags:

#IPRIJA #HukumKeluargaIslam #KUATapos #MahasiswaBerprestasi #PPL2025 #FakultasSyariah

Jejak Sunyi di Papan Tulis dan Tanah Bencana

Puisi oleh : M. Zainul Umam, Nur Aisyah Ramdhania, Suhirmanto

Di ruang sunyi bernama kelas,
kau menulis masa depan dengan kapur yang rapuh
setiap debu yang jatuh adalah doa
agar bangsa ini tak kehilangan arah.

Langkahmu tak selalu tersorot cahaya.
Sertifikasimu lahir dari kesabaran panjang,
karirmu ditempa oleh malam-malam tanpa tepuk tangan
hanya iman dan kesetiaan pada ilmu yang kau genggam.

Engkau naik bukan lewat sorak,
melainkan melalui tangga pengabdian yang terjal
dari asisten yang belajar menahan lelah,
hingga guru bangsa yang memikul peradaban.

Namun hari ini kau bukan hanya berdiri di mimbar;
kau juga berdiri bersama tanah yang retak oleh duka.
Sumatra memanggil dengan getir gemetar,
dan nuranimu menjawab tanpa banyak tanya.

Di antara puing dan doa yang tercecer,
kau ajarkan arti harapan tanpa spidol dan layar
kuliah hari ini adalah tentang merawat sesama,
tentang tangan yang menguatkan, tentang hati yang berbagi.

Dari jauh di Jakarta, buku-buku kita menjelma selimut dan bantuan yang dikirimkan
ruang kelas kita berubah menjadi kepedulian yang menembus ribuan kilometer
dan setiap langkah kecil di medan bencana
adalah SK kemanusiaan yang ditandatangani langit.

Wahai dosen, pejuang sunyi peradaban,
karirmu menanjak menapaki tangga dunia,
namun kemuliaanmu tumbuh di jalan pengorbanan
di antara mengajar, mengabdi, dan menyelamatkan kehidupan.

Jika suatu hari namamu hanya tercatat di arsip negara
dan tak lagi di spanduk acara,
ketahuilah namamu telah abadi
di dada mahasiswa, dan di doa Sumatra yang kau kuatkan.

#Puisi

#Pengabdian

#Kepedulian

#Kemanusiaan

Rasil TV: Mahasiswa IPRIJA Berpotensi Besar Menjadi Wartawan

Jakarta, 8 Desember 2025 — Rasil TV kembali mengupayakan peningkatan kapasitas sumber daya jurnalistik melalui Zoom Meeting bertajuk “Keniscayaan Menjadi Wartawan Handal”. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh kru Rasil TV serta para mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA). Acara dipandu oleh Deritawati selaku moderator dan menghadirkan pembicara utama Rachmat Hidayat.

Sejak awal pemaparan, Rachmat Hidayat menekankan bahwa profesi wartawan tidak hanya bergantung pada kemampuan menulis, tetapi juga pada adaptasi terhadap perubahan zaman. Bahasa jurnalistik, gaya penyampaian, hingga penguasaan platform digital menjadi aspek penting yang wajib dikuasai. Ia menyinggung istilah bahasa populer yang semakin sering digunakan jurnalis modern, karena dinilai efektif menjangkau pembaca yang lebih luas tanpa mengorbankan nilai akurasi.

Menariknya, diskusi berkembang pada isu tentang hilangnya nuansa bahasa sastrawi dalam Majalah Tempo sejak tahun 2010-an. Topik ini memicu perhatian peserta dan ditanggapi langsung oleh Sunodyantoro, seorang wartawan Tempo yang turut hadir dalam forum. Menurutnya, anggapan bahwa Tempo telah meninggalkan kesastrawian sebenarnya tidak tepat. Bagi Sunodyantoro, bahasa Tempo tidak pernah dirancang untuk menjadi baku dalam standar sastra, melainkan bergantung pada gaya dan karakter masing-masing jurnalis. Ia menegaskan bahwa setiap penulis Tempo memiliki warna editorial pribadi, sehingga wajar apabila kehadiran gaya sastrawi tidak selalu dominan di setiap periode penerbitannya.

Pada sesi yang sama, Rachmat Hidayat turut menyinggung bagaimana gaya menulis jurnalis besar dunia seperti Ernest Hemingway dapat menjadi rujukan bagi wartawan masa kini. Hemingway dikenal dengan gaya penulisan yang ringkas, padat, dan bertenaga, sebuah teknik yang dikenal sebagai iceberg theory. Menurut Rachmat, wartawan masa kini dapat belajar bahwa kekuatan tulisan tidak selalu terletak pada kalimat berbunga-bunga, melainkan pada presisi, kejelasan, dan kekuatan fakta. Penyebutan Hemingway membuat diskusi semakin hidup, mengingatkan para peserta bahwa jurnalisme modern terus dipengaruhi oleh gaya penulisan tokoh-tokoh besar dunia.

Diskusi semakin hangat ketika Angga Amiruddin, jurnalis Radio Rasil, mengajukan pertanyaan seputar manajemen bahasa saat siaran langsung. Menurutnya, siaran langsung menuntut spontanitas, namun tetap harus mengikuti kaidah jurnalistik. Rachmat Hidayat menjelaskan bahwa siaran langsung menuntut kemampuan memilih diksi yang cepat, tepat, dan komunikatif. Ia menambahkan bahwa penggunaan bahasa populer pun tidak masalah selama tidak melanggar prinsip dasar jurnalistik dan tetap mengutamakan keakuratan informasi.

Keterlibatan mahasiswa IPR IJA yang sedang menjalani PPL menjadi salah satu sorotan penting dalam kegiatan ini. Banyak dari mereka mengaku mendapatkan wawasan baru tentang dunia jurnalistik setelah mendengar penjelasan para praktisi. Paparan mengenai perkembangan bahasa media, perbandingan gaya penulisan jurnalis Indonesia dengan tokoh internasional seperti Hemingway, hingga pengelolaan bahasa dalam siaran, membuat mereka semakin terdorong untuk memperdalam ilmu jurnalistik selama masa PPL. Beberapa mahasiswa bahkan menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka pandangan mereka tentang jurnalistik sebagai bidang yang dinamis dan menantang.

Perwakilan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Jimmy Senduk, turut hadir dan memberikan pandangan singkat mengenai pentingnya etika dalam profesi wartawan. Ia menegaskan bahwa integritas merupakan pondasi utama yang menentukan kualitas seorang jurnalis. Menurutnya, kemampuan menulis yang baik tidak akan berarti tanpa kejujuran, ketelitian, dan komitmen terhadap kebenaran.

Menutup sesi diskusi, peserta dan narasumber sepakat bahwa menjadi wartawan handal bukanlah sesuatu yang lahir dalam semalam. Profesi ini menuntut ketekunan, latihan terus-menerus, dan pemahaman mendalam tentang bahasa. Rasil TV menyampaikan harapannya agar kegiatan ini mampu memicu semangat para mahasiswa IPR IJA untuk terus belajar, mempertajam kemampuan menulis, dan memahami dunia jurnalistik dari para praktisi secara langsung.

Zoom Meeting ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Selain memperkaya wawasan mengenai perkembangan bahasa jurnalistik, kegiatan ini juga mempertemukan mahasiswa dengan para praktisi yang memberikan gambaran nyata tentang tantangan profesi wartawan di era digital. Dengan semangat yang terbentuk, para mahasiswa IPRIJA berharap pengalaman ini menjadi bekal penting bagi perjalanan mereka setelah menyelesaikan PPL.

Menunggu Semester 8: Gerbang Terakhir di Kampus

Oleh: Fauqa Mty – Mahasiswa Semester 7

Ada seorang mahasiswa yang kini duduk di ambang semester 8, bernama Sabrang. Hidupnya selama bertahun-tahun di kampus bagaikan perjalanan panjang dalam serial drama: penuh kejutan, kadang kocak, kadang melelahkan, tapi selalu membuat penasaran apa yang terjadi di episode berikutnya.

Masa Awal Perkuliahan: Manis, Polos, dan Disesatkan Senior

Ketika pertama kali masuk, Sabrang adalah makhluk polos—masih lembut, belum tergores tugas, dan belum mengenal revisi bab 2 yang menyakitkan itu. Orientasi adalah gerbang pertama yang ia lewati. Senior-senior tampil dengan wibawa palsu dan selera humor yang meragukan. Ada yang bilang:

“Kalau mau cepat lulus, jangan pernah menatap mata patung rektor. Pamali.”

Atau: “Kalau dapat dosen killer, cukup tersenyum. Walau nilai tetap C.”

Dan seperti kebanyakan mahasiswa baru, Sabrang percaya semua itu.

Masa semester awal terasa manis, walaupun diselipkan kenakalan senior yang kadang membuat jengkel tapi lucu untuk dikenang. Kampus terasa seperti dunia baru yang menjanjikan… sampai tugas datang.

Tugas Mendadak: Kejutan yang Jadi Rutinitas

Setelah jam kuliah berjalan normal, kehidupan Sabrang berubah drastis. Tugas datang bertubi-tubi. Dosen mengakhiri materi dengan kalimat:

“Minggu depan kita presentasi kelompok, ya.”

Tapi yang dimaksud minggu depan biasanya tidak sampai satu minggu. Dua hari kemudian, Sabrang sudah berdiri di depan kelas dengan slide yang dibuat terburu-buru. Begitulah ritme perkuliahan: dosen bicara santai, mahasiswa panik.

Tugas makalah, jurnal, esai, sampai analisis film yang bahkan tidak tersedia di platform legal—semua menghiasi perjalanan Sabrang. Ia sering merasa sedang mengikuti lomba lari yang track-nya berubah setiap jam.

Hampir Menyerah, Tapi Ingat Orang Tua

Di semester-semester selanjutnya, ada titik di mana Sabrang hampir menyerah. Deadline bertebaran seperti undangan kondangan. Tiga mata kuliah menuntut laporan pada hari yang sama. Sabrang sempat membayangkan hidup sebagai penjaga warkop saja mungkin lebih damai.

Namun setiap kali melihat foto orang tuanya, semangatnya kembali menyala.

Ibunya pernah berkata, “Nak, selesaikan kuliahmu. Ilmu itu bekal hidup.”

Kalimat sederhana itu menjadi jangkar yang menahan Sabrang dari niat dropout halus.

Organisasi Kampus: Minat Ada, Nyali Tidak

Suatu masa, Sabrang tergoda masuk organisasi kemahasiswaan. Ia melihat senior rapat dengan gaya seperti anggota kabinet. Namun setelah melihat jadwal rapat yang mencurigakan intensitasnya, minatnya langsung surut.

Rapat internal, rapat evaluasi, rapat rencana rapat, dan rapat tindak lanjut rapat.

Sabrang berpikir: “Saya ini mau kuliah atau mau jual waktu?”

Akhirnya, ia menjadi mahasiswa yang hampir masuk organisasi—nyaris berkomitmen—lalu menghilang seperti angin. Keputusan itu cukup membahagiakan hatinya.

Tugas Legendaris: Badal Khatib Jumat di Pinang Ranti

Di antara semua tugas unik yang Sabrang terima, ada satu yang paling epik: menjadi badal khatib Jumat. Bukan di kampus. Bukan juga simulasi. Tapi di Masjid Pinang Ranti, dekat rumah sang dosen.

Dosen yang biasanya tegas itu mendadak harus keluar kota. Maka dengan ringan dia berkata:

“Sabrang, kamu jadi badal khatib ya. Masjidnya dekat rumah saya di Pinang Ranti. Jamaahnya cukup banyak. Bawa teks saja.”

Sabrang nyaris jatuh dari kursi.

Hari Jumat itu, ia berdiri di mimbar masjid dengan tangan dingin. Jamaah menatap serius. Bapak-bapak saf depan seperti ingin menguji apakah khutbahnya layak tayang di televisi. Tapi Sabrang tetap maju. Selesai khutbah, ia turun dengan napas lepas dan satu kesimpulan penting:

“Tugas kuliah ini seharusnya dapat nilai A plus plus.” Sejak saat itu, ia punya cerita legendaris di kampus: mahasiswa yang turun panggung bukan dari seminar kelas, tapi dari mimbar masjid.

Semakin Banyak Belajar, Semakin Banyak Tidak Tahu

Seiring semester berganti, Sabrang merasakan paradoks besar: semakin banyak ilmu yang ia pelajari, semakin sering ia merasa bodoh. Setiap memahami teori baru, muncul tiga teori lain yang tidak ia pahami. Setiap mengerti satu konsep, muncul lima pertanyaan lain yang tidak punya jawaban. Ia akhirnya menyimpulkan: “Kampus adalah tempat di mana kebingungan dianggap proses belajar.” Dan memang benar. Ilmu itu luas. Kepala mahasiswa itu sempit. Maka ketidaktahuan adalah perjalanan, bukan kegagalan.

Para Dosen: Antara Malaikat dan Monster Jam Akademik

Dalam kisah Sabrang, dosen-dosen hadir sebagai tokoh yang sangat berpengaruh. Ada dosen yang luar biasa disiplin, datang lebih cepat dari mahasiswa, menjelaskan materi dengan jelas, memberi nilai adil, dan membuat mahasiswa percaya bahwa pendidikan masih punya harapan. Sabrang sangat menghargai mereka.

Lalu ada dosen killer: tegas, suaranya menggetarkan, dan nilainya bikin jantung mahasiswa berdetak seperti speaker masjid saat takbir. Ada pula dosen molor, yang datang terlambat 35 menit lalu berkata, “Waktu kita sedikit, jadi langsung quiz ya.”

Jenis dosen seperti ini membuat mahasiswa mempertanyakan banyak hal dalam hidup. Tapi apa pun gaya mereka, Sabrang tetap hormat. Karena tanpa mereka, perjalanan akademis hanyalah lorong kosong tanpa cahaya.

Semester 8: Gerbang Terakhir

Kini Sabrang berdiri di pintu semester 8. Perasaan campur aduk: senang, gugup, bangga, dan takut. Di depannya ada skripsi, bimbingan, revisi, sidang, dan segala drama akademik yang siap menunggu. Namun di balik itu ada akhir yang indah: wisuda, toga, dan pelukan orang tua. Perjalanan panjang ini membuatnya sadar bahwa kampus bukan sekadar tempat belajar. Kampus adalah tempat manusia dibentuk: logikanya, mentalnya, humornya, dan kekuatan bertahannya. Karena tanpa humor, tak ada mahasiswa yang selamat sampai semester 8.

GlosSarium
  • Badal khatib – khatib pengganti; tugas yang mendadak namun penuh keberkahan (atau kepanikan).
  • Dosen killer – dosen yang membuat mahasiswa mendadak rajin belajar atau rajin pasrah.
  • Rapat organisasi – ritual panjang yang menguji kesabaran mahasiswa.
  • Deadline – jam kematian kreativitas yang memaksa mahasiswa berpikir cepat.
  • Molor waktu – kebiasaan dosen tertentu datang terlambat tapi tetap mengambil waktu dosen berikutnya.
  • Semester 8 – gerbang final, antara kemerdekaan dan ketakutan.