Ritual 12 Anggur di Pergantian Tahun 2026: Tradisi Viral dalam Tinjauan Islam dan Budaya Digital
Oleh : M. Zainul Umam, Umi Sulistyani, Husnul Khotimah, Mujiono
Pergantian tahun selalu menjadi momentum penting dalam kehidupan manusia. Ia bukan sekadar penanda perubahan kalender, tetapi juga ruang refleksi, harapan, dan evaluasi diri. Menjelang Tahun Baru 2026, media sosial global diramaikan oleh sebuah fenomena budaya yang kembali viral, yakni ritual makan 12 anggur saat detik-detik pergantian tahun. Praktik ini dipercaya oleh sebagian masyarakat dunia sebagai simbol keberuntungan, kelancaran rezeki, dan kebahagiaan selama satu tahun ke depan. Fenomena tersebut menjadi menarik untuk dikaji, terutama ketika dilihat dari perspektif budaya digital dan pandangan Islam.
Asal-Usul Ritual 12 Anggur
Ritual 12 anggur bukanlah tradisi baru. Ia berasal dari Spanyol dan dikenal dengan istilah Las Doce Uvas de la Suerte atau “dua belas anggur keberuntungan”. Tradisi ini telah dilakukan sejak awal abad ke-20. Dalam praktiknya, seseorang memakan satu butir anggur setiap kali lonceng jam berbunyi pada detik-detik terakhir pergantian tahun. Setiap butir anggur melambangkan satu bulan dalam setahun, yang diharapkan membawa keberuntungan dan kebaikan.
Seiring perkembangan zaman, tradisi ini menyebar ke berbagai negara Eropa dan Amerika Latin. Namun, lonjakan popularitasnya secara global terjadi ketika media sosial mengambil peran besar dalam mendistribusikan budaya. TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi medium utama yang mengubah ritual lokal menjadi fenomena internasional.
Ritual 12 Anggur dalam Budaya Digital
Di era budaya digital, tradisi tidak lagi dibatasi oleh ruang dan wilayah. Media sosial telah menjadi ruang baru tempat lahirnya makna, simbol, dan praktik budaya. Ritual 12 anggur mengalami transformasi makna: dari tradisi lokal menjadi konten global. Para kreator konten mengemas ritual ini dengan narasi visual yang menarik, musik emosional, serta pesan afirmasi positif seperti manifestation, positive vibes, dan new year goals.
Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya digital bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga arena pembentukan identitas dan harapan. Generasi muda, khususnya, memaknai ritual ini sebagai simbol optimisme, resolusi hidup, dan penguatan mental. Dalam konteks ini, ritual 12 anggur sering diposisikan bukan sebagai keyakinan religius, melainkan sebagai simbol motivasi personal.
Namun demikian, budaya digital juga memiliki kecenderungan untuk menyederhanakan makna. Simbol-simbol budaya sering kali dilepaskan dari konteks sejarah dan nilai asalnya. Ritual 12 anggur yang awalnya memiliki latar budaya tertentu kini hadir dalam berbagai tafsir, bahkan terkadang bercampur dengan keyakinan spiritual baru yang tidak memiliki dasar yang jelas.
Perspektif Islam terhadap Ritual dan Tradisi
Islam sebagai agama yang sempurna memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi tradisi dan budaya. Dalam kaidah ushul fiqh dikenal prinsip al-‘adah muhakkamah (adat atau kebiasaan dapat dijadikan pertimbangan hukum), selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariat Islam. Artinya, tidak semua tradisi otomatis ditolak, tetapi perlu dikaji substansi dan maknanya.
Dalam konteks ritual 12 anggur, persoalan utama bukan pada aktivitas makan buahnya, melainkan keyakinan yang menyertainya. Jika ritual tersebut diyakini sebagai penentu keberuntungan, keselamatan, atau rezeki, maka hal ini berpotensi bertentangan dengan prinsip tauhid. Islam menegaskan bahwa hanya Allah SWT yang memiliki kuasa mutlak atas takdir dan rezeki manusia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada satu pun musibah atau kebaikan yang terjadi kecuali atas izin-Nya. Keyakinan bahwa suatu benda, ritual, atau simbol tertentu dapat menentukan nasib secara independen termasuk dalam bentuk tathayyur (anggapan sial atau keberuntungan dari sesuatu), yang dalam Islam perlu dihindari.
Namun, apabila ritual tersebut dimaknai sekadar sebagai tradisi budaya, hiburan, atau simbol refleksi diri tanpa keyakinan spiritual tertentu, maka posisinya menjadi berbeda. Di sinilah pentingnya niat dan pemahaman yang lurus.
Antara Simbol dan Keyakinan
Islam sangat menekankan pentingnya niat (innamal a‘malu binniyat). Aktivitas yang sama dapat bernilai ibadah atau sebaliknya, tergantung pada niat dan keyakinan yang mendasarinya. Ritual 12 anggur, ketika diyakini membawa keberuntungan secara otomatis, berpotensi menggeser ketergantungan manusia dari Allah kepada simbol.
Sebaliknya, Islam mengajarkan umatnya untuk menggantungkan harapan kepada Allah melalui doa, ikhtiar, dan tawakal. Pergantian tahun dalam Islam tidak dirayakan dengan ritual khusus, tetapi dimaknai sebagai momentum muhasabah (evaluasi diri). Umar bin Khattab pernah menegaskan pentingnya menghitung diri sendiri sebelum dihitung oleh Allah.
Dalam tradisi Islam, pergantian waktu seharusnya diisi dengan refleksi iman, perbaikan akhlak, dan peningkatan amal saleh. Inilah pembeda mendasar antara simbolisme budaya populer dan spiritualitas Islam.
Literasi Digital dan Tantangan Umat
Viralnya ritual 12 anggur juga menjadi pengingat akan pentingnya literasi digital, khususnya bagi umat Islam. Tidak semua tren yang populer sesuai dengan nilai keislaman. Media sosial sering kali membungkus praktik budaya dengan narasi emosional yang menarik, tetapi minim konteks.
Umat Islam dituntut untuk bersikap kritis, selektif, dan berimbang. Menolak secara total tanpa pemahaman juga bukan solusi, sebagaimana menerima tanpa kritik dapat berisiko terhadap akidah. Sikap wasathiyah (moderat) menjadi kunci dalam menyikapi fenomena budaya digital.
Lembaga pendidikan Islam, kampus, dan media akademik memiliki peran strategis dalam memberikan pemahaman yang jernih. Diskursus tentang budaya populer perlu dihadirkan dengan pendekatan edukatif, bukan menghakimi. Dengan demikian, generasi muda dapat memahami batas antara tradisi, hiburan, dan keyakinan.
Tahun Baru dalam Perspektif Islam
Islam tidak mengenal perayaan tahun baru sebagaimana tradisi modern. Namun, Islam sangat menghargai waktu. Allah bersumpah atas waktu dalam banyak ayat Al-Qur’an, seperti wal-‘ashr dan wal-fajr. Ini menunjukkan bahwa waktu memiliki nilai spiritual yang tinggi.
Pergantian tahun, termasuk tahun Masehi, dapat dijadikan momentum evaluasi diri. Sejauh mana kualitas iman meningkat, amal bertambah, dan akhlak membaik. Resolusi terbaik dalam Islam bukan sekadar target duniawi, tetapi juga komitmen untuk menjadi hamba yang lebih taat dan bermanfaat.
Daripada menggantungkan harapan pada simbol ritual, Islam mengajarkan doa yang tulus, ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta tawakal kepada Allah. Inilah fondasi keberuntungan sejati dalam pandangan Islam.
Ritual 12 anggur di pergantian Tahun Baru 2026 adalah contoh nyata bagaimana tradisi lokal dapat berubah menjadi fenomena global melalui budaya digital. Ia merepresentasikan kebutuhan manusia akan harapan, optimisme, dan rasa kendali di tengah ketidakpastian zaman.
Dalam perspektif Islam, fenomena ini perlu disikapi dengan bijak dan proporsional. Bukan semata-mata ditolak atau diikuti, tetapi dipahami secara kritis. Islam mengajarkan bahwa keberuntungan sejati tidak datang dari ritual simbolik, melainkan dari iman, amal saleh, dan ketergantungan penuh kepada Allah SWT.
Budaya boleh berubah, tren boleh berganti, tetapi prinsip tauhid tetap menjadi kompas utama bagi umat Islam. Pergantian tahun seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, memperbaiki diri, dan meneguhkan niat untuk hidup lebih bermakna. Dengan demikian, umat Islam dapat hadir secara aktif dan cerdas di tengah arus budaya digital global, tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai keislaman.


