Penyerahan Donasi dari IPRIJA ke Baznas Bazis DKI Jakarta untuk Korban Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Informasi Peristiwa- Est 2 min
- 0 Views
- 1 month ago
DEMA IPRIJA Gelar Pelatihan Jurnalistik Bentuk Jurnalis Muda Kreatif, Kritis Melalui Etika Jurnalistik
Event Informasi Peristiwa Rublik MHS- Est 2 min
- 0 Views
- 2 months ago
Rasil TV: Mahasiswa IPRIJA Berpotensi Besar Menjadi Wartawan
Event Peristiwa Rublik MHS- Est 3 min
- 0 Views
- 2 months ago
Mahasiswi Hafidzah asal IPRIJA menjadi Pembicara di MAS dan IBS Istiqlal
Peristiwa Rublik MHS- Est 2 min
- 1 Views
- 2 months ago
HGN Tidak Hanya Akademik Tapi Spiritual (Refleksi PPL IPRIJA di MA Ulul Ilmi)
Peristiwa- Est 5 min
- 0 Views
- 2 months ago
Sinergi Peningkatan Kompetensi Bahasa Arab Siswa Kolaboratif
Peristiwa- Est 4 min
- 24 Views
- 2 months ago
Penyelesaian Borang Akreditasi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)
Peristiwa- Est 4 min
- 6 Views
- 2 months ago
Top 10 News
Buku
Terbaru
QURANIC READING: An English Reading Comprehension for Islamic Students
Buku Baru- Est 2 min
- 0 Views
- 1 month ago
Credontologia Quranica: Telaah Ontologis atas Pilar-Pilar Iman dalam Teks Suci
Buku Baru- Est 2 min
- 8 Views
- 3 months ago
Berita
Kampus
IPRIJA Dorong Akses Pendidikan Berkualitas Berkarakter Islami melalui Sosialisasi PMB SMAS Nurul Hikmah
Jakarta — Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) melalui Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di SMAS Nurul Hikmah Jonggol Kabupaten Bogor Jawa Barat sebagai bagian dari upaya memperluas akses informasi pendidikan tinggi kepada peserta didik tingkat menengah atas. Kegiatan ini menjadi langkah strategis IPRIJA dalam memperkenalkan dunia perguruan tinggi sekaligus membangun motivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kegiatan sosialisasi berlangsung dengan antusias dan penuh interaksi. Hadir sebagai pembicara utama, Ketua Program Studi PGMI IPRIJA, M. Zainul Umam, M.Pd.I, yang memaparkan secara komprehensif profil IPRIJA, visi keilmuan, serta peluang akademik dan nonakademik yang dapat diakses oleh calon mahasiswa. Kegiatan ini dipandu oleh Umi Sulistyani, M.Pd, dosen PGMI IPRIJA, yang bertindak sebagai moderator dan mengarahkan jalannya acara secara komunikatif dan inspiratif.
Dalam sambutannya, M. Zainul Umam, M.Pd.I menyampaikan bahwa sosialisasi PMB merupakan bagian dari komitmen IPRIJA untuk hadir lebih dekat dengan sekolah-sekolah menengah atas, khususnya dalam memberikan pemahaman yang utuh mengenai pentingnya pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam pembinaan karakter dan nilai-nilai keislaman. Menurutnya, tantangan pendidikan di era modern menuntut perguruan tinggi untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa IPRIJA Institute hadir sebagai perguruan tinggi yang mengintegrasikan ilmu pendidikan, sains, dan teknologi dengan nilai-nilai rohani Islam. Hal ini tercermin dalam kurikulum yang dirancang adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam proses pembelajaran. Dengan pendekatan tersebut, lulusan IPRIJA diharapkan memiliki kompetensi akademik, keterampilan profesional, serta integritas moral yang kuat.
Pada sesi pemaparan materi, peserta sosialisasi diperkenalkan dengan berbagai program studi yang tersedia di IPRIJA, khususnya Program Studi PGMI yang berfokus pada pencetakan pendidik profesional di jenjang madrasah ibtidaiyah dan sekolah dasar. Disampaikan pula prospek lulusan PGMI yang tidak hanya terbatas pada profesi guru, tetapi juga terbuka peluang sebagai peneliti pendidikan, pengembang media pembelajaran, praktisi pendidikan Islam, serta wirausaha di bidang pendidikan.
Moderator, Umi Sulistyani, M.Pd, dalam pengantarnya menekankan pentingnya peran guru masa depan yang adaptif, kreatif, dan memiliki kepekaan sosial. Ia mengajak para siswa SMAS Nurul Hikmah untuk mulai mempersiapkan diri sejak dini, baik secara akademik maupun mental, dalam menentukan pilihan studi lanjut. Menurutnya, memilih perguruan tinggi bukan sekadar memilih tempat belajar, tetapi juga memilih lingkungan yang akan membentuk karakter dan arah masa depan.
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah pemaparan terkait Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2026/2027. Dalam kesempatan tersebut dijelaskan bahwa pendaftaran PMB IPRIJA telah dimulai sejak 1 Februari 2024, dengan berbagai jalur seleksi yang dapat diikuti oleh calon mahasiswa. Jalur tersebut dirancang untuk memberikan kesempatan yang adil dan luas bagi lulusan SMA/MA/SMK dari berbagai latar belakang.
Selain itu, disampaikan pula informasi mengenai fasilitas pendukung pembelajaran di IPRIJA, seperti ruang kelas representatif, dosen yang kompeten dan berpengalaman, serta kegiatan kemahasiswaan yang mendukung pengembangan soft skills. IPRIJA juga memberikan perhatian khusus pada pembinaan spiritual mahasiswa melalui berbagai program keagamaan yang terintegrasi dalam kehidupan kampus.
Antusiasme peserta terlihat jelas dari banyaknya pertanyaan yang diajukan pada sesi diskusi dan tanya jawab. Para siswa SMAS Nurul Hikmah tampak aktif menggali informasi seputar sistem perkuliahan, peluang beasiswa, hingga prospek kerja setelah lulus. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab secara lugas dan informatif oleh narasumber, sehingga memberikan gambaran yang jelas dan realistis mengenai dunia perkuliahan di IPRIJA.
Kegiatan sosialisasi ini tidak hanya menjadi ajang promosi institusi, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan motivasi bagi siswa. Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa memiliki wawasan yang lebih luas tentang pentingnya melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sebagai bekal menghadapi tantangan global di masa depan.
Pihak SMAS Nurul Hikmah menyambut baik pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini dan mengapresiasi kehadiran tim dari IPRIJA. Kerja sama antara sekolah dan perguruan tinggi dinilai sangat penting dalam membangun kesinambungan pendidikan serta mempersiapkan lulusan yang siap bersaing dan berkontribusi positif bagi masyarakat.
Sebagai penutup, M. Zainul Umam, M.Pd.I mengajak seluruh peserta untuk tidak ragu melanjutkan studi dan terus mengembangkan potensi diri. Ia menegaskan bahwa IPRIJA terbuka bagi generasi muda yang ingin tumbuh menjadi pendidik dan insan intelektual yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing. Melalui sosialisasi PMB ini, IPRIJA berharap dapat menjadi bagian dari perjalanan akademik para siswa SMAS Nurul Hikmah menuju masa depan yang lebih cerah.
Dengan terselenggaranya kegiatan Sosialisasi PMB di SMAS Nurul Hikmah, IPRIJA kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif, responsif, dan berkomitmen dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang bermutu dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Reportase: Miss Umi, Zainul
PGMI IPRIJA Dorong Literasi Akademik Lewat Seminar Nasional Penulisan Karya Ilmiah di Era AI
Jakarta — Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) menyelenggarakan Seminar Nasional Webinar Series PGMI bertema “Menulis Skripsi/Tesis, Jurnal, dan Buku di Era Artificial Intelligence” pada Kamis (29/1/2026). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan secara langsung melalui PGMI IPRIJA TV, serta diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Seminar nasional ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Peserta yang hadir berasal dari kalangan mahasiswa, dosen pemula, praktisi pendidikan, hingga masyarakat umum yang memiliki minat dalam pengembangan keterampilan menulis akademik. Tema yang diangkat dinilai relevan dengan kebutuhan akademik saat ini, seiring pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang turut memengaruhi dunia pendidikan dan penelitian.
Acara dimulai pukul 08.00 WIB dan dipandu oleh Miss Ratih Yuni Widyaningsih, mahasiswa PGMI semester 2, yang bertindak sebagai Master of Ceremony (MC). Dengan gaya komunikatif dan tertata, MC mengarahkan jalannya acara sejak pembukaan hingga penutupan, sekaligus memastikan kegiatan berjalan dengan tertib dan kondusif.
Dorongan Penguatan Budaya Menulis Akademik
Seminar ini menghadirkan Keynote Speaker Dr. Muhamad, M.A, selaku Kepala Lembaga Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IPRIJA. Dalam sambutannya, Dr. Muhamad menekankan pentingnya penguatan budaya menulis di lingkungan perguruan tinggi sebagai bagian integral dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Menurutnya, kemampuan menulis karya ilmiah bukan hanya menjadi tuntutan akademik, tetapi juga sarana strategis untuk menyebarluaskan gagasan, hasil penelitian, dan kontribusi keilmuan kepada masyarakat luas. Ia menegaskan bahwa kehadiran teknologi Artificial Intelligence harus disikapi secara bijak.
“Artificial Intelligence bukan untuk menggantikan peran akademisi, tetapi sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas karya ilmiah, selama digunakan secara etis dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Moderator Tekankan Etika dan Literasi Digital
Sesi inti seminar dipandu oleh M. Zainul Umam, M.Pd.I, selaku Ketua Program Studi PGMI IPRIJA, yang bertindak sebagai moderator. Dalam pengantarnya, ia menyampaikan bahwa tantangan utama penulisan karya ilmiah di era digital bukan hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada etika akademik dan literasi digital.
Ia menekankan bahwa mahasiswa PGMI sebagai calon pendidik perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, integritas akademik, serta pemahaman yang baik tentang pemanfaatan teknologi digital, termasuk AI, dalam proses penulisan ilmiah.
“Mahasiswa tidak cukup hanya mampu menulis, tetapi juga harus memahami batasan etis dalam menggunakan teknologi, agar karya yang dihasilkan tetap orisinal dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik,” ungkapnya.
Strategi Menulis Karya Ilmiah di Era AI
Narasumber pertama, M. Ghifari, SHd, M.Ag, Kepala LP2M IDAQU, memaparkan materi mengenai strategi menulis skripsi, tesis, dan artikel jurnal di era Artificial Intelligence. Ia menjelaskan bahwa AI dapat dimanfaatkan pada tahap awal penulisan, seperti pencarian referensi, pengelompokan ide, serta penyuntingan bahasa.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa penguasaan metodologi penelitian tetap menjadi fondasi utama dalam penulisan karya ilmiah. Tanpa pemahaman metodologi yang kuat, pemanfaatan AI justru berpotensi menurunkan kualitas dan kredibilitas karya akademik.
“AI hanyalah alat bantu. Substansi, analisis, dan kedalaman pemikiran tetap harus berasal dari penulis itu sendiri,” tegasnya.
Peluang Publikasi Jurnal dan Penulisan Buku
Sementara itu, narasumber kedua, Dr. M. Ridwan, M.A, dosen IPRIJA, membahas peluang dan tantangan menulis jurnal serta buku akademik di era digital. Ia memaparkan tahapan praktis penulisan artikel jurnal, mulai dari pemilihan topik yang relevan, penyusunan kerangka artikel, hingga proses submit ke jurnal nasional dan internasional.
Selain jurnal, Dr. M. Ridwan, MA juga mendorong mahasiswa dan dosen pemula untuk mulai menulis buku, baik buku ajar, buku referensi, maupun book chapter. Menurutnya, menulis buku merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata akademisi dalam pengembangan keilmuan dan peningkatan reputasi institusi.
“Jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis. Konsistensi dan keberanian memulai adalah kunci utama produktivitas akademik,” ujarnya.
Diskusi Interaktif dan Antusiasme Peserta
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta yang disampaikan melalui kolom chat Zoom. Pertanyaan yang diajukan mencakup topik etika penggunaan AI, strategi menghindari plagiarisme, pemanfaatan AI secara aman dalam penulisan skripsi, hingga tips membagi waktu antara menulis dan aktivitas akademik lainnya.
Moderator menyaring dan merangkum pertanyaan peserta, sementara para narasumber memberikan jawaban yang aplikatif dan mudah dipahami. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi tanya jawab serta respon positif terhadap materi yang disampaikan.
Komitmen PGMI IPRIJA Hadapi Tantangan Zaman
Seminar nasional ini menjadi bagian dari komitmen Program Studi PGMI Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) dalam membekali mahasiswa dan sivitas akademika dengan keterampilan akademik yang relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui kegiatan Webinar Series PGMI, IPRIJA terus berupaya menciptakan ruang diskusi ilmiah yang adaptif, inovatif, dan kontekstual, sekaligus mendorong lahirnya generasi akademisi dan pendidik yang produktif, berintegritas, serta mampu memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence secara bijak.
Acara ditutup dengan penyampaian kesimpulan dan ucapan terima kasih kepada seluruh narasumber, moderator, panitia, serta peserta. Peserta seminar juga memperoleh fasilitas berupa e-sertifikat, modul materi, serta kesempatan membangun jejaring akademik lintas institusi.
Reportase: Miss Ratih, Miss Umi, Zain
Musyawarah Besar DEMA IPRIJA Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebersamaan
Bogor — Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (DEMA IPRIJA) sukses menyelenggarakan Musyawarah Besar (Mubes) pada Sabtu, 10 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Villa Puri Amira 2, Kecamatan Cisarua, Puncak, Bogor, dengan suasana yang sejuk dan kondusif untuk bermusyawarah.
Musyawarah Besar dibuka dengan sambutan Presiden Mahasiswa DEMA IPRIJA periode 2025/2026, Prastian Muhammad Alim. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya Mubes sebagai forum tertinggi mahasiswa untuk melakukan evaluasi, pembaruan regulasi, serta regenerasi kepemimpinan demi keberlangsungan organisasi yang lebih baik dan progresif.
Agenda Musyawarah Besar kemudian dilanjutkan dengan serangkaian pleno yang berlangsung secara tertib dan demokratis. Pleno I membahas dan menetapkan tata tertib persidangan sebagai pedoman jalannya Mubes. Selanjutnya, Pleno II diisi dengan pemaparan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dari masing-masing departemen DEMA IPRIJA sebagai bentuk transparansi dan evaluasi kinerja selama satu periode kepengurusan.
Pada Pleno III, peserta Mubes membahas Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi guna menyesuaikan kebutuhan dan tantangan organisasi ke depan. Pleno IV menjadi momen penting dengan dilaksanakannya pemilihan ketua DEMA IPRIJA secara musyawarah mufakat. Sementara itu, Pleno V ditutup dengan agenda pendemisioneran mahasiswa semester 7 sebagai simbol estafet kepemimpinan dan regenerasi kader organisasi.
Setelah rangkaian pleno selesai, acara dilanjutkan dengan pemutaran video kenang-kenangan yang menampilkan perjalanan, dinamika, serta kebersamaan pengurus selama satu periode kepengurusan. Suasana haru dan kebanggaan pun terasa di antara seluruh peserta. Kegiatan kemudian diteruskan dengan musyawarah struktural untuk menyusun dan menguatkan arah kepengurusan ke depan.
Pada malam harinya, suasana Musyawarah Besar semakin hangat dengan kegiatan kebersamaan seperti bakar-bakaran dan aktivitas santai lainnya. Momen ini menjadi ajang mempererat solidaritas, kekeluargaan, dan kebersamaan antaranggota DEMA IPRIJA.
Secara keseluruhan, Musyawarah Besar DEMA IPRIJA tahun 2026 berlangsung dengan khidmat, tertib, dan penuh semangat kebersamaan. Kegiatan ini menjadi bukti komitmen mahasiswa Institut Pembina Rohani Islam Jakarta dalam menjaga nilai-nilai musyawarah, demokrasi, dan kekeluargaan demi kemajuan organisasi dan kampus tercinta.
[Seminar Nasional HKI] Pengembangan Kompetensi dan Karir di Bidang Hukum
📅 Jumat, 16 Januari 2026
🕗 09.00-10.30 WIB Read More [Seminar Nasional HKI] Pengembangan Kompetensi dan Karir di Bidang Hukum
Menutup Tahun 2025, Membaca Arah Pendidikan Indonesia: Refleksi Kritis dari PGMI
Jakarta, 31 Desember 2025. Menjelang pergantian tahun, dunia pendidikan Indonesia kembali dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: sejauh mana perjalanan pendidikan telah membawa perubahan yang bermakna, dan ke arah mana langkah berikutnya harus diarahkan. Refleksi inilah yang menjadi ruh utama dalam podcast refleksi akhir tahun yang menghadirkan Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Bapak M. Zainul Umam, M.Pd.I, dengan moderator Ibu Umi Sulistyani, M.Pd.
Podcast yang diselenggarakan pada 31 Desember 2025 ini menjadi ruang dialog akademik sekaligus reflektif, tidak hanya untuk sivitas akademika PGMI, tetapi juga bagi para pemerhati pendidikan dasar di Indonesia. Dalam suasana akhir tahun yang sarat evaluasi, diskusi berlangsung hangat, mendalam, dan menyentuh persoalan-persoalan esensial pendidikan nasional.
Pendidikan Indonesia dalam Fase Transisi
Mengawali diskusi, moderator mengajak narasumber untuk merefleksikan kondisi umum pendidikan Indonesia sepanjang tahun 2025, khususnya pada pendidikan dasar dan PGMI. Menurut M. Zainul Umam, pendidikan Indonesia saat ini berada dalam fase transisi yang sangat dinamis.
Ia menegaskan bahwa di satu sisi, terdapat sejumlah kemajuan yang patut diapresiasi. Digitalisasi pembelajaran semakin masif, kesadaran akan pentingnya literasi dan numerasi kian menguat, serta upaya penguatan kurikulum terus dilakukan oleh berbagai pemangku kebijakan. Transformasi ini menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia tidak diam, melainkan terus bergerak mengikuti tuntutan zaman.
Namun demikian, di balik capaian tersebut, tantangan mendasar masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah, beban administratif yang tinggi bagi guru, serta kesiapan sumber daya manusia yang belum merata menjadi catatan penting. Dalam konteks PGMI, tantangan utama adalah menyiapkan calon guru madrasah ibtidaiyah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, spiritualitas, dan karakter yang kuat.
“Guru PGMI ke depan tidak cukup hanya pintar mengajar, tetapi juga harus mampu membaca realitas sosial peserta didik dan lingkungannya,” ungkapnya.
Evaluasi Kebijakan: Dari Konsep ke Implementasi
Diskusi kemudian berlanjut pada evaluasi kebijakan pendidikan. Moderator menanyakan kebijakan atau praktik pendidikan apa yang menurut narasumber perlu mendapat perhatian serius ke depan. Menjawab hal ini, M. Zainul Umam menekankan pentingnya mengevaluasi implementasi kebijakan di lapangan, bukan sekadar merumuskan konsep di atas kertas.
Ia menilai bahwa banyak kebijakan pendidikan yang sejatinya baik dan visioner, namun belum sepenuhnya dipahami dan dijalankan secara utuh oleh satuan pendidikan. Kesenjangan antara regulasi dan praktik sering kali melahirkan kebingungan di tingkat guru dan dosen.
Selain itu, ia menyoroti perlunya keseimbangan antara tuntutan administratif dan esensi pendidikan. Guru dan dosen, menurutnya, seharusnya lebih banyak diberi ruang untuk mendidik, membimbing, dan menginspirasi peserta didik. Ketika energi pendidik terkuras pada pelaporan dan administrasi, maka ruh pendidikan berpotensi melemah.
“Pendidikan bukan hanya soal dokumen, tetapi tentang proses memanusiakan manusia,” tegasnya.
Inovasi yang Berpihak pada Peserta Didik
Dalam sesi berikutnya, moderator mengangkat isu inovasi pendidikan yang kerap menjadi jargon dalam berbagai forum. Menurut M. Zainul Umam, inovasi sejati dalam pendidikan bukan semata-mata soal penggunaan teknologi, melainkan tentang keberpihakan pada kebutuhan peserta didik.
Ia mencontohkan pentingnya pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata siswa. Pembelajaran semacam ini tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, empati, dan kepekaan sosial.
Teknologi, lanjutnya, harus diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkuat proses belajar, bukan menggantikan peran pendidik. Dalam pendidikan dasar dan PGMI, peran guru sebagai teladan nilai dan pembimbing karakter tetap tidak tergantikan.
“Inovasi tanpa sentuhan kemanusiaan justru berpotensi menjauhkan pendidikan dari tujuan hakikinya,” ujarnya.
Dosen dan Guru sebagai Penjaga Nilai
Sebagai pimpinan program studi, M. Zainul Umam juga memberikan pandangannya tentang peran dosen dan guru di tengah perubahan kebijakan yang begitu cepat. Ia menyebut dosen dan guru sebagai penjaga nilai dan arah pendidikan.
Di tengah dinamika kebijakan, pendidik dituntut untuk adaptif dan terus belajar. Namun, adaptasi tersebut tidak boleh mengorbankan prinsip dan etika profesi. Dosen, khususnya di lingkungan PGMI, memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk cara berpikir, sikap, dan tanggung jawab moral mahasiswa sebagai calon pendidik.
Menurutnya, mahasiswa PGMI tidak hanya perlu dibekali kompetensi pedagogik, tetapi juga kesadaran bahwa profesi guru adalah amanah sosial dan moral. Keteladanan dosen dalam bersikap, berinteraksi, dan mengambil keputusan menjadi bagian penting dari proses pendidikan itu sendiri.
Pendidikan Karakter sebagai Fondasi
Isu pendidikan karakter menjadi salah satu titik tekan dalam diskusi ini. Moderator menyoroti kecenderungan dunia pendidikan yang lebih menonjolkan capaian akademik dibandingkan pembentukan karakter. Menanggapi hal tersebut, M. Zainul Umam menegaskan bahwa pendidikan karakter seharusnya menjadi fondasi utama, bukan sekadar pelengkap.
Ia mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa karakter berpotensi melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin empati dan tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran, budaya kampus, serta keteladanan pendidik.
Di lingkungan PGMI, pendidikan karakter memiliki relevansi yang sangat kuat, mengingat lulusan PGMI kelak akan berperan langsung dalam membentuk karakter generasi sejak usia dini. Nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan akhlak mulia harus ditanamkan secara konsisten.
Harapan dan Pesan Akhir Tahun
Menutup diskusi, moderator mengajak narasumber untuk menyampaikan harapan dan pesan akhir tahun bagi dunia pendidikan Indonesia. Dalam refleksi penutupnya, M. Zainul Umam menyampaikan harapan agar pendidikan Indonesia ke depan semakin humanis, adil, dan berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya.
Ia mengajak seluruh insan pendidikan untuk menjadikan refleksi akhir tahun sebagai momentum memperbaiki niat, meningkatkan kualitas diri, dan memperkuat kolaborasi. Pendidikan, menurutnya, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan sinergi antara pendidik, institusi, kebijakan, dan masyarakat.
Khusus bagi para guru, dosen, dan mahasiswa PGMI, ia berpesan agar tetap menjadi pendidik yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial. Di tengah tantangan zaman, nilai-nilai inilah yang akan menjaga marwah dan kebermaknaan pendidikan.
Refleksi untuk Melangkah ke Tahun Baru
Podcast refleksi akhir tahun ini tidak hanya menjadi ruang evaluasi, tetapi juga pengingat bahwa pendidikan adalah proses panjang yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan komitmen. Di penghujung tahun 2025, refleksi yang disampaikan oleh Ketua Prodi PGMI ini menjadi cermin sekaligus kompas bagi langkah pendidikan ke depan.
Dengan semangat reflektif dan optimisme yang realistis, dunia pendidikan Indonesia diharapkan mampu melangkah ke tahun 2026 dengan arah yang lebih jelas: membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan berkeadaban. Dari ruang podcast sederhana, pesan besar tentang masa depan pendidikan kembali ditegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah upaya memanusiakan manusia.
Reportase : Umi Sulistyani, Rifaya Meherunnisa Arisalsabila, Najla Laila Arisalsabila, M. Zainul Umam
Percepatan Karier Dosen dan Misi Kemanusiaan untuk Sumatra: Peran Akademisi Menjawab Tantangan Bangsa
Jakarta, 25 Desember 2025, Dalam upaya memperkuat peran dosen sebagai penggerak pendidikan sekaligus agen kemanusiaan, Seminar Nasional “Percepatan Karier Dosen dan Misi Kemanusiaan untuk Sumatra” sukses diselenggarakan secara daring pada Kamis pagi, 25 Desember 2025, mulai pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, khususnya wilayah Sumatra dan sekitarnya.
Seminar nasional ini tidak hanya membahas strategi pengembangan karier dosen, tetapi juga mengaitkannya dengan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan, terutama dalam merespons berbagai tantangan pendidikan dan sosial yang dihadapi masyarakat Sumatra. Hal tersebut menjadi benang merah diskusi sepanjang kegiatan berlangsung.
Acara dibuka secara resmi oleh MC Umi Sulistyani, M.Pd, yang mengantarkan suasana seminar dengan tertib dan komunikatif. Selanjutnya, forum dipandu oleh Moderator M. Zainul Umam, M.Pd.I, yang secara sistematis mengarahkan alur diskusi agar berjalan dinamis dan tetap fokus pada substansi tema.
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Hj. Husnul Khotimah, M.Pd, yang menekankan pentingnya percepatan karier dosen tidak hanya sebagai target administratif, tetapi sebagai bagian dari peningkatan kualitas pendidikan nasional. Menurutnya, dosen perlu memiliki perencanaan karier yang matang, konsisten dalam tridarma perguruan tinggi, serta mampu menempatkan pengabdian masyarakat sebagai fondasi etis dalam pengembangan profesi.
Sementara itu, Assoc. Prof. Dr. Sadari, S.HI., M.SI., mengulas strategi percepatan jabatan fungsional dosen dalam perspektif kebijakan dan etika akademik. Ia menegaskan bahwa percepatan karier harus tetap berlandaskan integritas, kualitas karya ilmiah, dan komitmen terhadap pengembangan keilmuan. “Karier dosen bukan sekadar naik pangkat, tetapi juga tentang kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa,” ujarnya.
Narasumber berikutnya, Dr. Muhamad, M.A., mengaitkan pengembangan karier dosen dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial. Ia menyoroti pentingnya dosen terlibat aktif dalam misi kemanusiaan, khususnya di wilayah-wilayah yang terdampak bencana dan ketimpangan akses pendidikan seperti di beberapa daerah Sumatra. Menurutnya, dosen memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat.
Dari sisi teknologi dan inovasi pendidikan, Wahyudi, S.Kom., M.Pd., menyampaikan materi tentang pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung percepatan karier dosen. Ia menjelaskan bahwa literasi digital, pengelolaan portofolio akademik, serta pemanfaatan platform publikasi ilmiah menjadi kunci penting di era transformasi digital. Selain itu, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pengabdian masyarakat secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Banyak peserta menyoroti tantangan dosen di daerah, keterbatasan akses publikasi, serta pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam misi kemanusiaan. Moderator berhasil merangkum diskusi dengan menegaskan bahwa percepatan karier dosen harus berjalan seiring dengan penguatan nilai empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
Seminar nasional ini menjadi ruang refleksi bersama bahwa dosen bukan hanya aktor akademik di ruang kelas dan jurnal ilmiah, tetapi juga pelaku perubahan sosial. Keterlibatan dosen dalam misi kemanusiaan untuk Sumatra dipandang sebagai bentuk nyata implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif tentang pengembangan karier dosen yang berorientasi pada kualitas, integritas, dan kemanusiaan. Seminar ini sekaligus menegaskan komitmen institusi pendidikan tinggi dalam mencetak dosen yang profesional, berdaya saing, dan peka terhadap persoalan sosial.
Dengan terselenggaranya seminar nasional ini, diharapkan lahir sinergi yang lebih kuat antar-akademisi dalam mempercepat karier dosen sekaligus memperluas kontribusi nyata bagi masyarakat Sumatra dan Indonesia secara umum.
Reportase : M. Zainul Umam, Umi Sulistyani
Revitalisasi Pendidikan Karakter Islami untuk Generasi Emas
Mengintegrasikan Empat Sifat Profetik Rasulullah SAW sebagai Pilar Peradaban
Di tengah derasnya arus globalisasi, digitalisasi, dan krisis keteladanan, pendidikan tidak lagi cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata. Tantangan zaman menuntut hadirnya pendidikan yang mampu membentuk manusia seutuhnya cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara spiritual. Menjawab kebutuhan inilah buku Revitalisasi Pendidikan Karakter Islami untuk Generasi Emas hadir sebagai rujukan strategis bagi dunia pendidikan Islam kontemporer.
Buku ini menegaskan bahwa pendidikan karakter Islami bukan sekadar slogan normatif, melainkan sebuah sistem pembinaan yang harus dirancang secara sadar, terstruktur, dan berkelanjutan. Penulis mengajak pembaca kembali pada sumber teladan utama dalam Islam, yakni Rasulullah SAW, dengan menjadikan empat sifat profetik shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah sebagai pilar utama pembentukan karakter generasi emas Indonesia.
Keunggulan buku ini terletak pada pendekatan integratifnya. Pendidikan karakter tidak diposisikan sebagai mata pelajaran tambahan, tetapi sebagai ruh yang menjiwai seluruh proses pendidikan: mulai dari perencanaan kurikulum, strategi pembelajaran, budaya sekolah, hingga keteladanan pendidik. Dengan demikian, nilai-nilai karakter tidak berhenti pada tataran kognitif, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam sikap dan perilaku peserta didik.
Disusun dengan alur yang sistematis, buku ini menguraikan secara runtut konsep dasar pendidikan karakter Islami, urgensinya dalam konteks tantangan zaman, serta strategi revitalisasi yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Setiap pembahasan dilengkapi dengan analisis konseptual dan refleksi aplikatif, sehingga memudahkan pembaca baik akademisi, guru, mahasiswa, maupun pemerhati Pendidikan untuk memahami sekaligus menerapkannya dalam konteks nyata.
Tidak hanya bersifat teoritis, buku ini juga menawarkan kerangka praktis implementasi pendidikan karakter berbasis nilai profetik. Penulis menekankan pentingnya peran pendidik sebagai moral agent dan role model yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik dengan keteladanan. Dalam perspektif ini, sekolah dan madrasah dipandang sebagai ekosistem pembentukan karakter, bukan sekadar ruang transfer ilmu.
Bahasa yang digunakan dalam buku ini relatif komunikatif, lugas, dan tetap menjaga kedalaman akademik. Hal ini menjadikan buku Revitalisasi Pendidikan Karakter Islami untuk Generasi Emas tidak hanya relevan sebagai referensi ilmiah, tetapi juga sebagai bacaan strategis yang inspiratif dan aplikatif. Buku ini cocok digunakan sebagai bahan ajar, referensi penelitian, maupun pegangan praktis bagi pendidik dan pengelola lembaga pendidikan Islam.
Diterbitkan oleh Rajawali Pers, buku ini menjadi bagian dari komitmen penerbit dalam menghadirkan karya-karya akademik yang bermutu, kontekstual, dan berdampak nyata bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Kehadiran buku ini diharapkan dapat memperkaya khazanah literatur pendidikan karakter serta menjadi kontribusi nyata dalam membangun generasi emas yang berakhlak mulia, berdaya saing, dan berperadaban.
Dengan landasan nilai profetik yang kokoh dan pendekatan pendidikan yang relevan dengan tantangan zaman, buku ini layak menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang peduli terhadap masa depan pendidikan dan karakter generasi bangsa.
#PendidikanIslam
#PendidikanKarakter
#LiterasiPendidikan
#BukuPendidikan
#ReferensiAkademik
#PendidikInspiratif
Perencanaan dan Strategi Pembelajaran: Membangun Ruang Belajar untuk Semua
Mengapa Buku ini layak di miliki ?
Buku Perencanaan dan Strategi Pembelajaran: Membangun Ruang Belajar untuk Semua bukan sekadar buku teori pendidikan, melainkan panduan praktis dan komprehensif bagi mahasiswa, calon guru, dan pendidik profesional yang ingin merancang pembelajaran secara terarah, efektif, dan relevan dengan tantangan pendidikan masa kini.
Di dalam buku ini, pembaca akan menemukan pembahasan yang disusun secara sistematis dan runtut, mulai dari landasan konseptual perencanaan pembelajaran, analisis kurikulum, perumusan tujuan, pemilihan strategi dan metode, hingga perancangan evaluasi pembelajaran. Setiap bab dirancang untuk saling terhubung, sehingga pembaca memperoleh gambaran utuh tentang bagaimana sebuah pembelajaran yang berkualitas dirancang sejak awal.
Keunggulan utama buku ini terletak pada kekuatan metodologinya yang aplikatif dan mudah diterapkan. Konsep-konsep penting tidak disajikan secara abstrak, tetapi diterjemahkan ke dalam langkah-langkah konkret yang dapat langsung digunakan dalam praktik pembelajaran. Hal ini menjadikan buku ini sangat relevan sebagai pegangan dalam perkuliahan, pelatihan guru, maupun pengembangan profesional pendidik.
Untuk memudahkan pemahaman, setiap materi disajikan secara poin per poin, ringkas, dan fokus, sehingga pembaca dapat dengan cepat menangkap inti pembahasan dan menggunakannya sebagai rujukan praktis dalam menyusun perangkat pembelajaran. Pola penyajian ini juga membuat buku mudah dipelajari secara mandiri maupun digunakan sebagai buku ajar di kelas.
Ditulis dengan bahasa yang lugas, komunikatif, dan bersahabat, buku ini praktis dan siap pakai. Materi di dalamnya dapat langsung diaplikasikan untuk menyusun RPP, modul ajar, strategi pembelajaran inklusif, serta perencanaan pembelajaran yang berorientasi pada penguatan karakter dan kebutuhan peserta didik. Buku ini sangat tepat bagi pendidik yang tidak hanya ingin mengajar, tetapi juga ingin membangun ruang belajar yang bermakna, humanis, dan berkelanjutan.
Dengan pendekatan yang menyatukan teori, praktik, dan nilai, buku ini menjadi referensi penting bagi dunia pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam, sekaligus kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di berbagai satuan pendidikan.
#BukuWajibGuru
#BukuReferensi
#PendidikanBerkualitas
#BelajarSepanjangHayat
#RuangBelajarInklusif
#StrategiPembelajaran
#PerencanaanPembelajaran
#PressIPRIJA
Penyerahan Donasi dari IPRIJA ke Baznas Bazis DKI Jakarta untuk Korban Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Jakarta, 22 Desember 2025 – Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) berkolaborasi dengan DEMA dan MCI El-Mahabbah secara resmi menyerahkan donasi sebesar Rp15.000.000 kepada Baznas Bazis DKI Jakarta untuk membantu korban bencana musibah banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Acara penyerahan berlangsung pada hari ini, pukul 12.00 siang, di kantor Baznas Bazis DKI Jakarta.
Turut hadir dalam acara penyerahan donasi ini beberapa pimpinan kampus IPRIJA yaitu Wakil Rektor 1 sekaligus Direktur MCI El-Mahabbah Dr. Hj. Husnul Khotimah M.Pd., Wakil Rektor 3 Dr. H. AH Bahruddin, MA., Kabiro ITE Wahyudi S.Kom. M.Pd., dan perwakilan dari mahasiswa Prastian Muhammad Alim selaku Presiden Mahasiswa DEMA IPRIJA dan Siti Hapsoh selaku Sekretaris Umum DEMA IPRIJA.
Acara dimulai dengan sambutan dari Wakil Rektor 3 IPRIJA, Dr. H. AH Bahruddin, MA., yang menekankan pentingnya gotong royong dalam menghadapi musibah seperti ini. “Bencana ini mengingatkan kita akan kerapuhan kehidupan manusia. Melalui donasi ini, kami berharap dapat berkontribusi dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah terdampak,” ujarnya.
Selanjutnya, Wakil Rektor 1 IPRIJA sekaligus Direktur MCI El-Mahabbah, Dr. Hj. Husnul Khotimah M.Pd, memimpin delegasi dan menyampaikan bahwa donasi ini merupakan bentuk kepedulian institut terhadap korban bencana alam yang sedang menderita. “Kami di IPRIJA merasa terpanggil untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana. Semoga donasi ini dapat meringankan beban mereka dan mempercepat proses pemulihan,” ungkap Dr. Hj. Husnul Khotimah.
Donasi tersebut diterima langsung oleh Kepala UPZ Baznas Bazis DKI Jakarta, Bapak Ahmad Aminuddin M. Ag. Dalam sambutannya, Bapak Ahmad Aminuddin M.Ag., menyampaikan terima kasih atas kontribusi IPRIJA. “Donasi ini akan kami salurkan secara tepat sasaran melalui program-program Baznas Bazis DKI Jakarta untuk membantu korban di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Kami mengapresiasi inisiatif IPRIJA yang telah menunjukkan empati dan solidaritas tinggi,” ungkapnya.
Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di ketiga wilayah tersebut telah menyebabkan kerugian besar, termasuk hilangnya nyawa, kerusakan infrastruktur, dan kesulitan akses bagi masyarakat setempat. Baznas Bazis DKI Jakarta berkomitmen untuk mendistribusikan bantuan ini dalam bentuk logistik, bantuan medis, dan dukungan rehabilitasi.
Acara penyerahan donasi ini diharapkan dapat menginspirasi pihak lain untuk turut berkontribusi dalam upaya kemanusiaan. IPRIJA sendiri dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan berbasis nilai-nilai Islam, dan langkah ini semakin memperkuat citra institut sebagai lembaga yang peduli terhadap masyarakat luas.
Menutup Tahun dengan Refleksi: PGMI IPRIJA Siap Ungkap Arah Pendidikan Indonesia Lewat Podcast Spesial Akhir Tahun
Jakarta – 17 Desember 2025, menjelang akhir tahun 2025, dunia pendidikan kembali dihadapkan pada kebutuhan untuk berhenti sejenak, merenung, dan mengevaluasi arah perjalanan yang telah ditempuh. Menyikapi hal tersebut, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) akan menyelenggarakan diskusi reflektif melalui PGMI IPRIJA TV Podcast, yang mengangkat tema “Refleksi Pendidikan Akhir Tahun: Evaluasi, Inovasi, dan Arah Kebijakan Pendidikan Indonesia”.
Podcast ini akan disiarkan secara live pada Rabu, 31 Desember 2025, dan dirancang sebagai ruang dialog akademik sekaligus penutup rangkaian kegiatan PGMI IPRIJA di penghujung tahun. Melalui media digital, kegiatan ini diharapkan dapat menjangkau lebih luas kalangan akademisi, mahasiswa, praktisi pendidikan, serta masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan dan kebijakan pendidikan nasional.
PGMI IPRIJA TV Podcast kali ini akan menghadirkan M. Zainul Umam, M.Pd.I, Ketua Program Studi PGMI IPRIJA, sebagai narasumber utama. Diskusi akan dipandu oleh Umi Sulistyani, M.Pd, dosen PGMI IPRIJA, yang akan berperan sebagai moderator. Perpaduan narasumber dan moderator ini diharapkan mampu menghadirkan diskusi yang tajam, reflektif, sekaligus kontekstual dengan realitas pendidikan di Indonesia.
Dalam podcast yang akan datang ini, M. Zainul Umam dijadwalkan membahas pentingnya refleksi akhir tahun sebagai momentum strategis bagi insan pendidikan. Refleksi tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan evaluasi formal, tetapi sebagai proses kritis untuk membaca ulang kebijakan, praktik pembelajaran, serta kesiapan sumber daya manusia pendidikan dalam menghadapi tantangan masa depan. Menurutnya, pendidikan harus terus dimaknai sebagai proses pembentukan karakter, nalar kritis, dan tanggung jawab sosial peserta didik.
Podcast ini juga akan menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi pendidikan Indonesia sepanjang tahun 2025. Mulai dari percepatan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah, hingga tuntutan profesionalisme guru yang semakin kompleks. Topik-topik tersebut akan dibahas sebagai bahan evaluasi bersama, sekaligus pintu masuk untuk merumuskan inovasi pendidikan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Khusus dalam konteks pendidikan dasar dan madrasah ibtidaiyah, diskusi direncanakan akan menekankan peran strategis guru sebagai agen perubahan. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial, kemampuan pedagogik yang adaptif, serta keteladanan akhlak. Melalui podcast ini, PGMI IPRIJA ingin menegaskan komitmennya dalam menyiapkan calon guru madrasah ibtidaiyah yang unggul secara akademik dan kuat dalam nilai-nilai keislaman.
Sebagai moderator, Umi Sulistyani, M.Pd akan mengarahkan diskusi agar tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi juga menyentuh realitas implementasi kebijakan pendidikan di lapangan. Isu kesenjangan antara kebijakan pusat dan kebutuhan nyata satuan pendidikan diproyeksikan menjadi salah satu fokus diskusi. Dengan pendekatan dialogis, podcast ini diharapkan mampu menghadirkan sudut pandang yang relevan dengan pengalaman guru dan lembaga pendidikan.
Selain itu, podcast ini juga akan mengangkat pentingnya menjadikan refleksi sebagai budaya akademik yang berkelanjutan. Refleksi akhir tahun diharapkan tidak berhenti pada wacana, tetapi melahirkan rekomendasi dan langkah tindak lanjut yang dapat diterapkan oleh institusi pendidikan tinggi, dosen, maupun mahasiswa sebagai calon pendidik.
Melalui PGMI IPRIJA TV, program studi PGMI terus berupaya memanfaatkan media digital sebagai ruang intelektual yang produktif. Podcast ini bukan hanya menjadi sarana berbagi informasi, tetapi juga media untuk membangun tradisi berpikir kritis, dialog ilmiah, dan kesadaran kolektif tentang masa depan pendidikan Indonesia.
Dengan terselenggaranya PGMI IPRIJA TV Podcast ini, PGMI IPRIJA mengajak seluruh insan pendidikan untuk bersama-sama menutup tahun dengan refleksi yang jujur dan membuka tahun baru dengan semangat perbaikan. Pendidikan adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi, kolaborasi, dan inovasi berkelanjutan. Melalui diskusi ini, diharapkan lahir gagasan dan semangat baru untuk membangun pendidikan Indonesia yang lebih bermutu dan berkarakter.

