DEMA IPRIJA Gelar Pelatihan Jurnalistik Bentuk Jurnalis Muda Kreatif, Kritis Melalui Etika Jurnalistik
Event Informasi Peristiwa Rublik MHS- Est 2 min
- 0 Views
- 3 weeks ago
Rasil TV: Mahasiswa IPRIJA Berpotensi Besar Menjadi Wartawan
Event Peristiwa Rublik MHS- Est 3 min
- 0 Views
- 4 weeks ago
Mahasiswi Hafidzah asal IPRIJA menjadi Pembicara di MAS dan IBS Istiqlal
Peristiwa Rublik MHS- Est 2 min
- 1 Views
- 1 month ago
HGN Tidak Hanya Akademik Tapi Spiritual (Refleksi PPL IPRIJA di MA Ulul Ilmi)
Peristiwa- Est 5 min
- 0 Views
- 1 month ago
Sinergi Peningkatan Kompetensi Bahasa Arab Siswa Kolaboratif
Peristiwa- Est 4 min
- 24 Views
- 1 month ago
Penyelesaian Borang Akreditasi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)
Peristiwa- Est 4 min
- 6 Views
- 1 month ago
Integrasi Nilai Sejarah Wali Songo dalam PPL Mahasiswa IPRIJA di MA Ulul Ilmi
Peristiwa- Est 4 min
- 10 Views
- 2 months ago
Top 10 News
Buku
Terbaru
Perencanaan dan Strategi Pembelajaran: Membangun Ruang Belajar untuk Semua
Buku Baru- Est 2 min
- 0 Views
- 1 week ago
QURANIC READING: An English Reading Comprehension for Islamic Students
Buku Baru- Est 2 min
- 0 Views
- 1 week ago
Credontologia Quranica: Telaah Ontologis atas Pilar-Pilar Iman dalam Teks Suci
Buku Baru- Est 2 min
- 8 Views
- 2 months ago
Berita
Kampus
Menutup Tahun 2025, Membaca Arah Pendidikan Indonesia: Refleksi Kritis dari PGMI
Jakarta, 31 Desember 2025. Menjelang pergantian tahun, dunia pendidikan Indonesia kembali dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: sejauh mana perjalanan pendidikan telah membawa perubahan yang bermakna, dan ke arah mana langkah berikutnya harus diarahkan. Refleksi inilah yang menjadi ruh utama dalam podcast refleksi akhir tahun yang menghadirkan Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Bapak M. Zainul Umam, M.Pd.I, dengan moderator Ibu Umi Sulistyani, M.Pd.
Podcast yang diselenggarakan pada 31 Desember 2025 ini menjadi ruang dialog akademik sekaligus reflektif, tidak hanya untuk sivitas akademika PGMI, tetapi juga bagi para pemerhati pendidikan dasar di Indonesia. Dalam suasana akhir tahun yang sarat evaluasi, diskusi berlangsung hangat, mendalam, dan menyentuh persoalan-persoalan esensial pendidikan nasional.
Pendidikan Indonesia dalam Fase Transisi
Mengawali diskusi, moderator mengajak narasumber untuk merefleksikan kondisi umum pendidikan Indonesia sepanjang tahun 2025, khususnya pada pendidikan dasar dan PGMI. Menurut M. Zainul Umam, pendidikan Indonesia saat ini berada dalam fase transisi yang sangat dinamis.
Ia menegaskan bahwa di satu sisi, terdapat sejumlah kemajuan yang patut diapresiasi. Digitalisasi pembelajaran semakin masif, kesadaran akan pentingnya literasi dan numerasi kian menguat, serta upaya penguatan kurikulum terus dilakukan oleh berbagai pemangku kebijakan. Transformasi ini menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia tidak diam, melainkan terus bergerak mengikuti tuntutan zaman.
Namun demikian, di balik capaian tersebut, tantangan mendasar masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah, beban administratif yang tinggi bagi guru, serta kesiapan sumber daya manusia yang belum merata menjadi catatan penting. Dalam konteks PGMI, tantangan utama adalah menyiapkan calon guru madrasah ibtidaiyah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, spiritualitas, dan karakter yang kuat.
“Guru PGMI ke depan tidak cukup hanya pintar mengajar, tetapi juga harus mampu membaca realitas sosial peserta didik dan lingkungannya,” ungkapnya.
Evaluasi Kebijakan: Dari Konsep ke Implementasi
Diskusi kemudian berlanjut pada evaluasi kebijakan pendidikan. Moderator menanyakan kebijakan atau praktik pendidikan apa yang menurut narasumber perlu mendapat perhatian serius ke depan. Menjawab hal ini, M. Zainul Umam menekankan pentingnya mengevaluasi implementasi kebijakan di lapangan, bukan sekadar merumuskan konsep di atas kertas.
Ia menilai bahwa banyak kebijakan pendidikan yang sejatinya baik dan visioner, namun belum sepenuhnya dipahami dan dijalankan secara utuh oleh satuan pendidikan. Kesenjangan antara regulasi dan praktik sering kali melahirkan kebingungan di tingkat guru dan dosen.
Selain itu, ia menyoroti perlunya keseimbangan antara tuntutan administratif dan esensi pendidikan. Guru dan dosen, menurutnya, seharusnya lebih banyak diberi ruang untuk mendidik, membimbing, dan menginspirasi peserta didik. Ketika energi pendidik terkuras pada pelaporan dan administrasi, maka ruh pendidikan berpotensi melemah.
“Pendidikan bukan hanya soal dokumen, tetapi tentang proses memanusiakan manusia,” tegasnya.
Inovasi yang Berpihak pada Peserta Didik
Dalam sesi berikutnya, moderator mengangkat isu inovasi pendidikan yang kerap menjadi jargon dalam berbagai forum. Menurut M. Zainul Umam, inovasi sejati dalam pendidikan bukan semata-mata soal penggunaan teknologi, melainkan tentang keberpihakan pada kebutuhan peserta didik.
Ia mencontohkan pentingnya pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata siswa. Pembelajaran semacam ini tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, empati, dan kepekaan sosial.
Teknologi, lanjutnya, harus diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkuat proses belajar, bukan menggantikan peran pendidik. Dalam pendidikan dasar dan PGMI, peran guru sebagai teladan nilai dan pembimbing karakter tetap tidak tergantikan.
“Inovasi tanpa sentuhan kemanusiaan justru berpotensi menjauhkan pendidikan dari tujuan hakikinya,” ujarnya.
Dosen dan Guru sebagai Penjaga Nilai
Sebagai pimpinan program studi, M. Zainul Umam juga memberikan pandangannya tentang peran dosen dan guru di tengah perubahan kebijakan yang begitu cepat. Ia menyebut dosen dan guru sebagai penjaga nilai dan arah pendidikan.
Di tengah dinamika kebijakan, pendidik dituntut untuk adaptif dan terus belajar. Namun, adaptasi tersebut tidak boleh mengorbankan prinsip dan etika profesi. Dosen, khususnya di lingkungan PGMI, memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk cara berpikir, sikap, dan tanggung jawab moral mahasiswa sebagai calon pendidik.
Menurutnya, mahasiswa PGMI tidak hanya perlu dibekali kompetensi pedagogik, tetapi juga kesadaran bahwa profesi guru adalah amanah sosial dan moral. Keteladanan dosen dalam bersikap, berinteraksi, dan mengambil keputusan menjadi bagian penting dari proses pendidikan itu sendiri.
Pendidikan Karakter sebagai Fondasi
Isu pendidikan karakter menjadi salah satu titik tekan dalam diskusi ini. Moderator menyoroti kecenderungan dunia pendidikan yang lebih menonjolkan capaian akademik dibandingkan pembentukan karakter. Menanggapi hal tersebut, M. Zainul Umam menegaskan bahwa pendidikan karakter seharusnya menjadi fondasi utama, bukan sekadar pelengkap.
Ia mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa karakter berpotensi melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin empati dan tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran, budaya kampus, serta keteladanan pendidik.
Di lingkungan PGMI, pendidikan karakter memiliki relevansi yang sangat kuat, mengingat lulusan PGMI kelak akan berperan langsung dalam membentuk karakter generasi sejak usia dini. Nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan akhlak mulia harus ditanamkan secara konsisten.
Harapan dan Pesan Akhir Tahun
Menutup diskusi, moderator mengajak narasumber untuk menyampaikan harapan dan pesan akhir tahun bagi dunia pendidikan Indonesia. Dalam refleksi penutupnya, M. Zainul Umam menyampaikan harapan agar pendidikan Indonesia ke depan semakin humanis, adil, dan berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya.
Ia mengajak seluruh insan pendidikan untuk menjadikan refleksi akhir tahun sebagai momentum memperbaiki niat, meningkatkan kualitas diri, dan memperkuat kolaborasi. Pendidikan, menurutnya, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan sinergi antara pendidik, institusi, kebijakan, dan masyarakat.
Khusus bagi para guru, dosen, dan mahasiswa PGMI, ia berpesan agar tetap menjadi pendidik yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial. Di tengah tantangan zaman, nilai-nilai inilah yang akan menjaga marwah dan kebermaknaan pendidikan.
Refleksi untuk Melangkah ke Tahun Baru
Podcast refleksi akhir tahun ini tidak hanya menjadi ruang evaluasi, tetapi juga pengingat bahwa pendidikan adalah proses panjang yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan komitmen. Di penghujung tahun 2025, refleksi yang disampaikan oleh Ketua Prodi PGMI ini menjadi cermin sekaligus kompas bagi langkah pendidikan ke depan.
Dengan semangat reflektif dan optimisme yang realistis, dunia pendidikan Indonesia diharapkan mampu melangkah ke tahun 2026 dengan arah yang lebih jelas: membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan berkeadaban. Dari ruang podcast sederhana, pesan besar tentang masa depan pendidikan kembali ditegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah upaya memanusiakan manusia.
Reportase : Umi Sulistyani, Rifaya Meherunnisa Arisalsabila, Najla Laila Arisalsabila, M. Zainul Umam
Percepatan Karier Dosen dan Misi Kemanusiaan untuk Sumatra: Peran Akademisi Menjawab Tantangan Bangsa
Jakarta, 25 Desember 2025, Dalam upaya memperkuat peran dosen sebagai penggerak pendidikan sekaligus agen kemanusiaan, Seminar Nasional “Percepatan Karier Dosen dan Misi Kemanusiaan untuk Sumatra” sukses diselenggarakan secara daring pada Kamis pagi, 25 Desember 2025, mulai pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, khususnya wilayah Sumatra dan sekitarnya.
Seminar nasional ini tidak hanya membahas strategi pengembangan karier dosen, tetapi juga mengaitkannya dengan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan, terutama dalam merespons berbagai tantangan pendidikan dan sosial yang dihadapi masyarakat Sumatra. Hal tersebut menjadi benang merah diskusi sepanjang kegiatan berlangsung.
Acara dibuka secara resmi oleh MC Umi Sulistyani, M.Pd, yang mengantarkan suasana seminar dengan tertib dan komunikatif. Selanjutnya, forum dipandu oleh Moderator M. Zainul Umam, M.Pd.I, yang secara sistematis mengarahkan alur diskusi agar berjalan dinamis dan tetap fokus pada substansi tema.
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Hj. Husnul Khotimah, M.Pd, yang menekankan pentingnya percepatan karier dosen tidak hanya sebagai target administratif, tetapi sebagai bagian dari peningkatan kualitas pendidikan nasional. Menurutnya, dosen perlu memiliki perencanaan karier yang matang, konsisten dalam tridarma perguruan tinggi, serta mampu menempatkan pengabdian masyarakat sebagai fondasi etis dalam pengembangan profesi.
Sementara itu, Assoc. Prof. Dr. Sadari, S.HI., M.SI., mengulas strategi percepatan jabatan fungsional dosen dalam perspektif kebijakan dan etika akademik. Ia menegaskan bahwa percepatan karier harus tetap berlandaskan integritas, kualitas karya ilmiah, dan komitmen terhadap pengembangan keilmuan. “Karier dosen bukan sekadar naik pangkat, tetapi juga tentang kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa,” ujarnya.
Narasumber berikutnya, Dr. Muhamad, M.A., mengaitkan pengembangan karier dosen dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial. Ia menyoroti pentingnya dosen terlibat aktif dalam misi kemanusiaan, khususnya di wilayah-wilayah yang terdampak bencana dan ketimpangan akses pendidikan seperti di beberapa daerah Sumatra. Menurutnya, dosen memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat.
Dari sisi teknologi dan inovasi pendidikan, Wahyudi, S.Kom., M.Pd., menyampaikan materi tentang pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung percepatan karier dosen. Ia menjelaskan bahwa literasi digital, pengelolaan portofolio akademik, serta pemanfaatan platform publikasi ilmiah menjadi kunci penting di era transformasi digital. Selain itu, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pengabdian masyarakat secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Banyak peserta menyoroti tantangan dosen di daerah, keterbatasan akses publikasi, serta pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam misi kemanusiaan. Moderator berhasil merangkum diskusi dengan menegaskan bahwa percepatan karier dosen harus berjalan seiring dengan penguatan nilai empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
Seminar nasional ini menjadi ruang refleksi bersama bahwa dosen bukan hanya aktor akademik di ruang kelas dan jurnal ilmiah, tetapi juga pelaku perubahan sosial. Keterlibatan dosen dalam misi kemanusiaan untuk Sumatra dipandang sebagai bentuk nyata implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif tentang pengembangan karier dosen yang berorientasi pada kualitas, integritas, dan kemanusiaan. Seminar ini sekaligus menegaskan komitmen institusi pendidikan tinggi dalam mencetak dosen yang profesional, berdaya saing, dan peka terhadap persoalan sosial.
Dengan terselenggaranya seminar nasional ini, diharapkan lahir sinergi yang lebih kuat antar-akademisi dalam mempercepat karier dosen sekaligus memperluas kontribusi nyata bagi masyarakat Sumatra dan Indonesia secara umum.
Reportase : M. Zainul Umam, Umi Sulistyani
Penyerahan Donasi dari IPRIJA ke Baznas Bazis DKI Jakarta untuk Korban Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Jakarta, 22 Desember 2025 – Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) berkolaborasi dengan DEMA dan MCI El-Mahabbah secara resmi menyerahkan donasi sebesar Rp15.000.000 kepada Baznas Bazis DKI Jakarta untuk membantu korban bencana musibah banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Acara penyerahan berlangsung pada hari ini, pukul 12.00 siang, di kantor Baznas Bazis DKI Jakarta.
Turut hadir dalam acara penyerahan donasi ini beberapa pimpinan kampus IPRIJA yaitu Wakil Rektor 1 sekaligus Direktur MCI El-Mahabbah Dr. Hj. Husnul Khotimah M.Pd., Wakil Rektor 3 Dr. H. AH Bahruddin, MA., Kabiro ITE Wahyudi S.Kom. M.Pd., dan perwakilan dari mahasiswa Prastian Muhammad Alim selaku Presiden Mahasiswa DEMA IPRIJA dan Siti Hapsoh selaku Sekretaris Umum DEMA IPRIJA.
Acara dimulai dengan sambutan dari Wakil Rektor 3 IPRIJA, Dr. H. AH Bahruddin, MA., yang menekankan pentingnya gotong royong dalam menghadapi musibah seperti ini. “Bencana ini mengingatkan kita akan kerapuhan kehidupan manusia. Melalui donasi ini, kami berharap dapat berkontribusi dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah terdampak,” ujarnya.
Selanjutnya, Wakil Rektor 1 IPRIJA sekaligus Direktur MCI El-Mahabbah, Dr. Hj. Husnul Khotimah M.Pd, memimpin delegasi dan menyampaikan bahwa donasi ini merupakan bentuk kepedulian institut terhadap korban bencana alam yang sedang menderita. “Kami di IPRIJA merasa terpanggil untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana. Semoga donasi ini dapat meringankan beban mereka dan mempercepat proses pemulihan,” ungkap Dr. Hj. Husnul Khotimah.
Donasi tersebut diterima langsung oleh Kepala UPZ Baznas Bazis DKI Jakarta, Bapak Ahmad Aminuddin M. Ag. Dalam sambutannya, Bapak Ahmad Aminuddin M.Ag., menyampaikan terima kasih atas kontribusi IPRIJA. “Donasi ini akan kami salurkan secara tepat sasaran melalui program-program Baznas Bazis DKI Jakarta untuk membantu korban di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Kami mengapresiasi inisiatif IPRIJA yang telah menunjukkan empati dan solidaritas tinggi,” ungkapnya.
Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di ketiga wilayah tersebut telah menyebabkan kerugian besar, termasuk hilangnya nyawa, kerusakan infrastruktur, dan kesulitan akses bagi masyarakat setempat. Baznas Bazis DKI Jakarta berkomitmen untuk mendistribusikan bantuan ini dalam bentuk logistik, bantuan medis, dan dukungan rehabilitasi.
Acara penyerahan donasi ini diharapkan dapat menginspirasi pihak lain untuk turut berkontribusi dalam upaya kemanusiaan. IPRIJA sendiri dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan berbasis nilai-nilai Islam, dan langkah ini semakin memperkuat citra institut sebagai lembaga yang peduli terhadap masyarakat luas.
Menutup Tahun dengan Refleksi: PGMI IPRIJA Siap Ungkap Arah Pendidikan Indonesia Lewat Podcast Spesial Akhir Tahun
Jakarta – 17 Desember 2025, menjelang akhir tahun 2025, dunia pendidikan kembali dihadapkan pada kebutuhan untuk berhenti sejenak, merenung, dan mengevaluasi arah perjalanan yang telah ditempuh. Menyikapi hal tersebut, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) akan menyelenggarakan diskusi reflektif melalui PGMI IPRIJA TV Podcast, yang mengangkat tema “Refleksi Pendidikan Akhir Tahun: Evaluasi, Inovasi, dan Arah Kebijakan Pendidikan Indonesia”.
Podcast ini akan disiarkan secara live pada Rabu, 31 Desember 2025, dan dirancang sebagai ruang dialog akademik sekaligus penutup rangkaian kegiatan PGMI IPRIJA di penghujung tahun. Melalui media digital, kegiatan ini diharapkan dapat menjangkau lebih luas kalangan akademisi, mahasiswa, praktisi pendidikan, serta masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan dan kebijakan pendidikan nasional.
PGMI IPRIJA TV Podcast kali ini akan menghadirkan M. Zainul Umam, M.Pd.I, Ketua Program Studi PGMI IPRIJA, sebagai narasumber utama. Diskusi akan dipandu oleh Umi Sulistyani, M.Pd, dosen PGMI IPRIJA, yang akan berperan sebagai moderator. Perpaduan narasumber dan moderator ini diharapkan mampu menghadirkan diskusi yang tajam, reflektif, sekaligus kontekstual dengan realitas pendidikan di Indonesia.
Dalam podcast yang akan datang ini, M. Zainul Umam dijadwalkan membahas pentingnya refleksi akhir tahun sebagai momentum strategis bagi insan pendidikan. Refleksi tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan evaluasi formal, tetapi sebagai proses kritis untuk membaca ulang kebijakan, praktik pembelajaran, serta kesiapan sumber daya manusia pendidikan dalam menghadapi tantangan masa depan. Menurutnya, pendidikan harus terus dimaknai sebagai proses pembentukan karakter, nalar kritis, dan tanggung jawab sosial peserta didik.
Podcast ini juga akan menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi pendidikan Indonesia sepanjang tahun 2025. Mulai dari percepatan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah, hingga tuntutan profesionalisme guru yang semakin kompleks. Topik-topik tersebut akan dibahas sebagai bahan evaluasi bersama, sekaligus pintu masuk untuk merumuskan inovasi pendidikan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Khusus dalam konteks pendidikan dasar dan madrasah ibtidaiyah, diskusi direncanakan akan menekankan peran strategis guru sebagai agen perubahan. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial, kemampuan pedagogik yang adaptif, serta keteladanan akhlak. Melalui podcast ini, PGMI IPRIJA ingin menegaskan komitmennya dalam menyiapkan calon guru madrasah ibtidaiyah yang unggul secara akademik dan kuat dalam nilai-nilai keislaman.
Sebagai moderator, Umi Sulistyani, M.Pd akan mengarahkan diskusi agar tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi juga menyentuh realitas implementasi kebijakan pendidikan di lapangan. Isu kesenjangan antara kebijakan pusat dan kebutuhan nyata satuan pendidikan diproyeksikan menjadi salah satu fokus diskusi. Dengan pendekatan dialogis, podcast ini diharapkan mampu menghadirkan sudut pandang yang relevan dengan pengalaman guru dan lembaga pendidikan.
Selain itu, podcast ini juga akan mengangkat pentingnya menjadikan refleksi sebagai budaya akademik yang berkelanjutan. Refleksi akhir tahun diharapkan tidak berhenti pada wacana, tetapi melahirkan rekomendasi dan langkah tindak lanjut yang dapat diterapkan oleh institusi pendidikan tinggi, dosen, maupun mahasiswa sebagai calon pendidik.
Melalui PGMI IPRIJA TV, program studi PGMI terus berupaya memanfaatkan media digital sebagai ruang intelektual yang produktif. Podcast ini bukan hanya menjadi sarana berbagi informasi, tetapi juga media untuk membangun tradisi berpikir kritis, dialog ilmiah, dan kesadaran kolektif tentang masa depan pendidikan Indonesia.
Dengan terselenggaranya PGMI IPRIJA TV Podcast ini, PGMI IPRIJA mengajak seluruh insan pendidikan untuk bersama-sama menutup tahun dengan refleksi yang jujur dan membuka tahun baru dengan semangat perbaikan. Pendidikan adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi, kolaborasi, dan inovasi berkelanjutan. Melalui diskusi ini, diharapkan lahir gagasan dan semangat baru untuk membangun pendidikan Indonesia yang lebih bermutu dan berkarakter.
DEMA IPRIJA Gelar Pelatihan Jurnalistik Bentuk Jurnalis Muda Kreatif, Kritis Melalui Etika Jurnalistik
Jakarta,- Mengawali rangkaian kegiatan ini pelatihan jurnal resmi dibuka di aula kampus IPRIJA. Read More DEMA IPRIJA Gelar Pelatihan Jurnalistik Bentuk Jurnalis Muda Kreatif, Kritis Melalui Etika Jurnalistik
Mahasiswa IPRIJA Berperan Aktif dalam Pelayanan Umat di KUA Tapos
DEPOK – Program Praktikum Profesi Lapangan (PPL) kembali menjadi ajang implementasi kompetensi mahasiswa Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA). Kali ini, Aufa Zaki (NIM S.323246), mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, sukses merampungkan kegiatan magang di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tapos, Kota Depok, dengan capaian yang impresif.
Kegiatan yang berlangsung sejak pertengahan September hingga awal November 2025 di kantor yang berlokasi di Jl. Rawa Kebo, Cimpaeun ini, bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik. Zaki terlibat aktif dalam hampir seluruh lini pelayanan KUA, mulai dari administrasi digital hingga pelayanan bimbingan masyarakat yang krusial.
Dari Digitalisasi hingga Konseling Keluarga
Pada minggu-minggu awal magang, kegiatan difokuskan pada adaptasi lingkungan kerja dan penguatan administrasi. Salah satu kontribusi nyata Zaki adalah membantu proses digitalisasi data Akta Nikah tahun 2015 yang menjadi sejarah awal KUA Tapos karena sebelum tahun 2015 administratif pencatatan nikah pada wilayah Tapos menginduk kepada KUA Cimanggis kemudian pada tahun 2015 KUA Tapos hadir untuk wilayah kecamatan Tapos, maka proses digitalisasi dari tahun 2015 ini merupakan sebuah langkah vital dalam mengamankan arsip negara.
Namun, kompetensi mahasiswa IPRIJA ini benar-benar diuji ketika dihadapkan pada kasus-kasus riil di lapangan. Dalam kegiatannya, Zaki tercatat tidak hanya menjadi penonton, melainkan dipercaya menjadi konselor. Pada akhir Oktober, ia menangani sesi konsultasi bagi seorang istri yang mengadukan problematika rumah tangga, serta mempelajari penanganan kasus sensitif seperti KDRT.
“Pengalaman menghadapi problematika riil dalam menangani permasalahan rumah tangga, menjadi pembicara pada bimbingan remaja usia sekolah, moderator pada kegiatan bimbingan perkawinan serta terjun langsung mengikuti rangkaian pernikahan, membaca khutbah nikah, penyuluhan kajian keagamaan di Masjid hingga menangani kasus kendala pernikahan WNA asal Pakistan, hal ini semuanya menjadikan dan memperkaya wawasan hukum syariah serta experience yang menyempurnakan landasan teori keilmuan yang telah saya pelajari di bangku perkuliahan.” ujar Zaki.

Dedikasi dalam Dakwah dan Literasi Digital
Selain aspek hukum syariah, kemampuan public speaking dan dakwah mahasiswa IPRIJA juga mendapat panggung. Zaki dipercaya menjadi moderator dalam berbagai sesi Bimbingan Perkawinan (Binwin), baik tatap muka maupun virtual. Kreativitasnya pun tersalurkan melalui pembuatan konten edukasi digital, seperti reels “Tepuk Sakinah” dan konten peringatan Kesaktian Pancasila.
Puncak dari kegiatan praktikum ini terlihat di minggu-minggu terakhir bulan Oktober. Zaki menunjukkan kapasitasnya sebagai calon tokoh agama dengan menjadi pemateri program BRUSS (Bimbingan Remaja Usia Sekolah) di SMP Tritura, sekaligus menjadi Khotib Jumat di masjid setempat.
Tak berhenti di situ, kepercayaan Kepala KUA Tapos kepada Zaki dibuktikan dengan pelibatan dirinya dalam tugas kepenghuluan. Tercatat pada 25 dan 26 Oktober, Zaki mendampingi Bapak Penghulu dan berkesempatan menyampaikan Khutbah Nikah di empat lokasi akad yang berbeda, serta mengisi kajian subuh membahas kitab Mukhtarul Ahadits di Masjid At-Thohir.
Penutupan yang Berkesan
Rangkaian kegiatan praktikum ini ditutup secara resmi pada Senin, 3 November 2025. Dalam acara perpisahan yang hangat, Zaki menyerahkan plakat akrilik dan gelas mug sebagai tanda terima kasih kepada keluarga besar KUA Tapos.
Kegiatan praktikum ini membuktikan bahwa mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam IPRIJA siap terjun ke masyarakat, tidak hanya dengan bekal teori hukum, tetapi juga dengan kecakapan sosial, kemampuan konseling, dan kompetensi dakwah yang mumpuni.
Tags:
#IPRIJA #HukumKeluargaIslam #KUATapos #MahasiswaBerprestasi #PPL2025 #FakultasSyariah
PGMI IPRIJA Akan Gelar Seminar Nasional “Rahasia Percepatan Karir Dosen & Misi Kemanusiaan untuk Sumatra”
Jakarta, 10 Desember 2025 – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) kembali akan menyelenggarakan kegiatan akademik berskala nasional berupa Seminar Nasional bertajuk “Rahasia Percepatan Karir Dosen & Misi Kemanusiaan untuk Sumatra.” Kegiatan ini dijadwalkan akan dilaksanakan pada Kamis, 25 Desember 2025, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui PGMI IPRIJA TV.
Seminar nasional ini terbuka untuk umum dan gratis, sehingga dapat diikuti oleh dosen, mahasiswa, praktisi pendidikan, serta masyarakat luas yang memiliki perhatian terhadap pengembangan karir dosen dan isu-isu kemanusiaan, khususnya di wilayah Sumatra. Melalui kegiatan ini, PGMI IPRIJA berupaya menghadirkan ruang diskusi ilmiah yang tidak hanya berorientasi pada penguatan karir akademik, tetapi juga pada kepedulian sosial dan kemanusiaan sebagai wujud implementasi tridharma perguruan tinggi.
Kegiatan ini akan menghadirkan sejumlah pimpinan dan narasumber dari lingkungan IPRIJA yang memiliki kompetensi di bidangnya. Di antaranya Drs. Mujiono, MA selaku Rektor IPRIJA, Assoc. Prof. Dr. Hj. Husnul Khotimah, M.Pd selaku Wakil Rektor I IPRIJA, serta Assoc. Prof. Dr. Sadari, S.H.I., M.S.I selaku Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM). Selain itu, turut menjadi pemateri Wahyudi, S.Kom., M.Pd selaku Kepala Biro ITE dan Dr. Muhamad, MA selaku Kepala LP2M. Sementara itu, Umi Sulistyani, M.Pd (Dosen PGMI) dan M. Zainul Umam, M.Pd.I (Ketua Prodi PGMI) akan bertugas sebagai MC dan moderator yang mengomandoi jalannya seminar.
Ketua Prodi PGMI IPRIJA, M. Zainul Umam, M.Pd.I, menyampaikan bahwa seminar ini dirancang sebagai wadah berbagi pengalaman, strategi, dan informasi penting terkait percepatan karir dosen, khususnya dalam hal pengusulan jabatan fungsional. Menurutnya, masih banyak dosen yang mengalami kendala dalam pengurusan jabatan akademik karena kurangnya informasi teknis, pemahaman regulasi, serta pendampingan yang berkelanjutan.
“Melalui seminar ini, kami ingin membantu para dosen agar lebih siap baik secara administrasi, akademik, maupun mental dalam menapaki jenjang karirnya. Harapannya, semakin banyak dosen yang termotivasi untuk mengurus dan mempercepat jabatan fungsionalnya,” ujarnya.
Sementara itu, dari sisi kebijakan institusi, Rektor IPRIJA Drs. Mujiono, MA menegaskan bahwa peningkatan karir dosen merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peningkatan mutu perguruan tinggi. Ia menilai bahwa dosen yang berkembang secara akademik akan berdampak langsung pada kualitas pembelajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, pihak rektorat mendukung penuh pelaksanaan seminar nasional ini sebagai bagian dari agenda strategis penguatan sumber daya manusia di lingkungan IPRIJA.
“Seminar ini menjadi langkah konkret dalam membangun dosen yang profesional, kompeten, dan berdaya saing,” tegasnya.
Selain fokus pada percepatan karir dosen, seminar ini juga mengangkat tema besar “Misi Kemanusiaan untuk Sumatra.” Tema ini dipilih sebagai bentuk kepedulian sosial sivitas akademika IPRIJA terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang masih terjadi di wilayah Sumatra, baik akibat bencana alam, persoalan pendidikan, maupun masalah sosial lainnya.
Dr. Muhamad, MA selaku Kepala LP2M menjelaskan bahwa kegiatan akademik idealnya selalu terhubung dengan realitas sosial masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi harus hadir tidak hanya dalam ruang kelas dan jurnal ilmiah, tetapi juga di tengah-tengah persoalan umat. Ia berharap seminar ini dapat menumbuhkan kesadaran kolektif dosen dan mahasiswa untuk turut berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan melalui program pengabdian kepada masyarakat.
Dari aspek mutu dan sistem akademik, Assoc. Prof. Dr. Sadari, S.H.I., M.S.I selaku Kepala LPM akan memaparkan strategi sistematis percepatan jabatan fungsional dosen sesuai dengan regulasi yang berlaku. Materi yang akan disampaikan mencakup pemetaan angka kredit, publikasi ilmiah pada jurnal terindeks, pengelolaan Beban Kerja Dosen (BKD), serta optimalisasi kinerja tridharma perguruan tinggi. Pemateri juga akan mengulas berbagai kendala yang sering dihadapi dosen dalam pengusulan jabatan fungsional beserta solusi praktisnya.
Sementara itu, Wahyudi, S.Kom., M.Pd selaku Kepala Biro ITE akan menyoroti pentingnya digitalisasi dalam menunjang karir dosen. Ia akan membahas pemanfaatan teknologi informasi mulai dari pengelolaan data kepegawaian, sistem informasi akademik, publikasi daring, hingga pemanfaatan platform digital untuk mendukung produktivitas dosen di bidang penelitian dan pengabdian. Sedangkan Umi Sulistyani, M.Pd akan memoderatori jalannya diskusi antara pemateri dan peserta agar berlangsung interaktif dan dinamis.
Panitia seminar juga menyiapkan berbagai fasilitas bagi peserta, antara lain e-sertifikat, modul materi, perluasan relasi akademik, serta tambahan wawasan dan pengetahuan baru. Pendaftaran peserta dilakukan secara daring melalui tautan yang telah disediakan oleh panitia dan dapat diakses oleh seluruh calon peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Melalui pelaksanaan seminar nasional ini, PGMI IPRIJA berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan karir dosen di Indonesia sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya misi kemanusiaan sebagai bagian dari tanggung jawab akademisi. Kegiatan ini menjadi wujud komitmen IPRIJA dalam menghadirkan program-program akademik yang relevan, bermutu, dan berdampak luas bagi masyarakat.
Reportase: M. Zainul Umam
Rasil TV: Mahasiswa IPRIJA Berpotensi Besar Menjadi Wartawan
Jakarta, 8 Desember 2025 — Rasil TV kembali mengupayakan peningkatan kapasitas sumber daya jurnalistik melalui Zoom Meeting bertajuk “Keniscayaan Menjadi Wartawan Handal”. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh kru Rasil TV serta para mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA). Acara dipandu oleh Deritawati selaku moderator dan menghadirkan pembicara utama Rachmat Hidayat.
Sejak awal pemaparan, Rachmat Hidayat menekankan bahwa profesi wartawan tidak hanya bergantung pada kemampuan menulis, tetapi juga pada adaptasi terhadap perubahan zaman. Bahasa jurnalistik, gaya penyampaian, hingga penguasaan platform digital menjadi aspek penting yang wajib dikuasai. Ia menyinggung istilah bahasa populer yang semakin sering digunakan jurnalis modern, karena dinilai efektif menjangkau pembaca yang lebih luas tanpa mengorbankan nilai akurasi.
Menariknya, diskusi berkembang pada isu tentang hilangnya nuansa bahasa sastrawi dalam Majalah Tempo sejak tahun 2010-an. Topik ini memicu perhatian peserta dan ditanggapi langsung oleh Sunodyantoro, seorang wartawan Tempo yang turut hadir dalam forum. Menurutnya, anggapan bahwa Tempo telah meninggalkan kesastrawian sebenarnya tidak tepat. Bagi Sunodyantoro, bahasa Tempo tidak pernah dirancang untuk menjadi baku dalam standar sastra, melainkan bergantung pada gaya dan karakter masing-masing jurnalis. Ia menegaskan bahwa setiap penulis Tempo memiliki warna editorial pribadi, sehingga wajar apabila kehadiran gaya sastrawi tidak selalu dominan di setiap periode penerbitannya.
Pada sesi yang sama, Rachmat Hidayat turut menyinggung bagaimana gaya menulis jurnalis besar dunia seperti Ernest Hemingway dapat menjadi rujukan bagi wartawan masa kini. Hemingway dikenal dengan gaya penulisan yang ringkas, padat, dan bertenaga, sebuah teknik yang dikenal sebagai iceberg theory. Menurut Rachmat, wartawan masa kini dapat belajar bahwa kekuatan tulisan tidak selalu terletak pada kalimat berbunga-bunga, melainkan pada presisi, kejelasan, dan kekuatan fakta. Penyebutan Hemingway membuat diskusi semakin hidup, mengingatkan para peserta bahwa jurnalisme modern terus dipengaruhi oleh gaya penulisan tokoh-tokoh besar dunia.
Diskusi semakin hangat ketika Angga Amiruddin, jurnalis Radio Rasil, mengajukan pertanyaan seputar manajemen bahasa saat siaran langsung. Menurutnya, siaran langsung menuntut spontanitas, namun tetap harus mengikuti kaidah jurnalistik. Rachmat Hidayat menjelaskan bahwa siaran langsung menuntut kemampuan memilih diksi yang cepat, tepat, dan komunikatif. Ia menambahkan bahwa penggunaan bahasa populer pun tidak masalah selama tidak melanggar prinsip dasar jurnalistik dan tetap mengutamakan keakuratan informasi.
Keterlibatan mahasiswa IPR IJA yang sedang menjalani PPL menjadi salah satu sorotan penting dalam kegiatan ini. Banyak dari mereka mengaku mendapatkan wawasan baru tentang dunia jurnalistik setelah mendengar penjelasan para praktisi. Paparan mengenai perkembangan bahasa media, perbandingan gaya penulisan jurnalis Indonesia dengan tokoh internasional seperti Hemingway, hingga pengelolaan bahasa dalam siaran, membuat mereka semakin terdorong untuk memperdalam ilmu jurnalistik selama masa PPL. Beberapa mahasiswa bahkan menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka pandangan mereka tentang jurnalistik sebagai bidang yang dinamis dan menantang.
Perwakilan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Jimmy Senduk, turut hadir dan memberikan pandangan singkat mengenai pentingnya etika dalam profesi wartawan. Ia menegaskan bahwa integritas merupakan pondasi utama yang menentukan kualitas seorang jurnalis. Menurutnya, kemampuan menulis yang baik tidak akan berarti tanpa kejujuran, ketelitian, dan komitmen terhadap kebenaran.
Menutup sesi diskusi, peserta dan narasumber sepakat bahwa menjadi wartawan handal bukanlah sesuatu yang lahir dalam semalam. Profesi ini menuntut ketekunan, latihan terus-menerus, dan pemahaman mendalam tentang bahasa. Rasil TV menyampaikan harapannya agar kegiatan ini mampu memicu semangat para mahasiswa IPR IJA untuk terus belajar, mempertajam kemampuan menulis, dan memahami dunia jurnalistik dari para praktisi secara langsung.
Zoom Meeting ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Selain memperkaya wawasan mengenai perkembangan bahasa jurnalistik, kegiatan ini juga mempertemukan mahasiswa dengan para praktisi yang memberikan gambaran nyata tentang tantangan profesi wartawan di era digital. Dengan semangat yang terbentuk, para mahasiswa IPRIJA berharap pengalaman ini menjadi bekal penting bagi perjalanan mereka setelah menyelesaikan PPL.
Mahasiswa IPRIJA Melakukan Aksi Penggalangan Dana Untuk Korban Musibah Banjir dan Longsor di Sumatra
JAKARTA. Mahasiswa IPRIJA yang diinisiasi oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (DEMA IPRIJA) mengadakan aksi penggalangan dana untuk para korban bencana alam Read More Mahasiswa IPRIJA Melakukan Aksi Penggalangan Dana Untuk Korban Musibah Banjir dan Longsor di Sumatra

