Menutup Tahun 2025, Membaca Arah Pendidikan Indonesia: Refleksi Kritis dari PGMI

Jakarta, 31 Desember 2025. Menjelang pergantian tahun, dunia pendidikan Indonesia kembali dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: sejauh mana perjalanan pendidikan telah membawa perubahan yang bermakna, dan ke arah mana langkah berikutnya harus diarahkan. Refleksi inilah yang menjadi ruh utama dalam podcast refleksi akhir tahun yang menghadirkan Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Bapak M. Zainul Umam, M.Pd.I, dengan moderator Ibu Umi Sulistyani, M.Pd.

Podcast yang diselenggarakan pada 31 Desember 2025 ini menjadi ruang dialog akademik sekaligus reflektif, tidak hanya untuk sivitas akademika PGMI, tetapi juga bagi para pemerhati pendidikan dasar di Indonesia. Dalam suasana akhir tahun yang sarat evaluasi, diskusi berlangsung hangat, mendalam, dan menyentuh persoalan-persoalan esensial pendidikan nasional.

Pendidikan Indonesia dalam Fase Transisi

Mengawali diskusi, moderator mengajak narasumber untuk merefleksikan kondisi umum pendidikan Indonesia sepanjang tahun 2025, khususnya pada pendidikan dasar dan PGMI. Menurut M. Zainul Umam, pendidikan Indonesia saat ini berada dalam fase transisi yang sangat dinamis.

Ia menegaskan bahwa di satu sisi, terdapat sejumlah kemajuan yang patut diapresiasi. Digitalisasi pembelajaran semakin masif, kesadaran akan pentingnya literasi dan numerasi kian menguat, serta upaya penguatan kurikulum terus dilakukan oleh berbagai pemangku kebijakan. Transformasi ini menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia tidak diam, melainkan terus bergerak mengikuti tuntutan zaman.

Namun demikian, di balik capaian tersebut, tantangan mendasar masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah, beban administratif yang tinggi bagi guru, serta kesiapan sumber daya manusia yang belum merata menjadi catatan penting. Dalam konteks PGMI, tantangan utama adalah menyiapkan calon guru madrasah ibtidaiyah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, spiritualitas, dan karakter yang kuat.

“Guru PGMI ke depan tidak cukup hanya pintar mengajar, tetapi juga harus mampu membaca realitas sosial peserta didik dan lingkungannya,” ungkapnya.

Evaluasi Kebijakan: Dari Konsep ke Implementasi

Diskusi kemudian berlanjut pada evaluasi kebijakan pendidikan. Moderator menanyakan kebijakan atau praktik pendidikan apa yang menurut narasumber perlu mendapat perhatian serius ke depan. Menjawab hal ini, M. Zainul Umam menekankan pentingnya mengevaluasi implementasi kebijakan di lapangan, bukan sekadar merumuskan konsep di atas kertas.

Ia menilai bahwa banyak kebijakan pendidikan yang sejatinya baik dan visioner, namun belum sepenuhnya dipahami dan dijalankan secara utuh oleh satuan pendidikan. Kesenjangan antara regulasi dan praktik sering kali melahirkan kebingungan di tingkat guru dan dosen.

Selain itu, ia menyoroti perlunya keseimbangan antara tuntutan administratif dan esensi pendidikan. Guru dan dosen, menurutnya, seharusnya lebih banyak diberi ruang untuk mendidik, membimbing, dan menginspirasi peserta didik. Ketika energi pendidik terkuras pada pelaporan dan administrasi, maka ruh pendidikan berpotensi melemah.

“Pendidikan bukan hanya soal dokumen, tetapi tentang proses memanusiakan manusia,” tegasnya.

Inovasi yang Berpihak pada Peserta Didik

Dalam sesi berikutnya, moderator mengangkat isu inovasi pendidikan yang kerap menjadi jargon dalam berbagai forum. Menurut M. Zainul Umam, inovasi sejati dalam pendidikan bukan semata-mata soal penggunaan teknologi, melainkan tentang keberpihakan pada kebutuhan peserta didik.

Ia mencontohkan pentingnya pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata siswa. Pembelajaran semacam ini tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, empati, dan kepekaan sosial.

Teknologi, lanjutnya, harus diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkuat proses belajar, bukan menggantikan peran pendidik. Dalam pendidikan dasar dan PGMI, peran guru sebagai teladan nilai dan pembimbing karakter tetap tidak tergantikan.

“Inovasi tanpa sentuhan kemanusiaan justru berpotensi menjauhkan pendidikan dari tujuan hakikinya,” ujarnya.

Dosen dan Guru sebagai Penjaga Nilai

Sebagai pimpinan program studi, M. Zainul Umam juga memberikan pandangannya tentang peran dosen dan guru di tengah perubahan kebijakan yang begitu cepat. Ia menyebut dosen dan guru sebagai penjaga nilai dan arah pendidikan.

Di tengah dinamika kebijakan, pendidik dituntut untuk adaptif dan terus belajar. Namun, adaptasi tersebut tidak boleh mengorbankan prinsip dan etika profesi. Dosen, khususnya di lingkungan PGMI, memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk cara berpikir, sikap, dan tanggung jawab moral mahasiswa sebagai calon pendidik.

Menurutnya, mahasiswa PGMI tidak hanya perlu dibekali kompetensi pedagogik, tetapi juga kesadaran bahwa profesi guru adalah amanah sosial dan moral. Keteladanan dosen dalam bersikap, berinteraksi, dan mengambil keputusan menjadi bagian penting dari proses pendidikan itu sendiri.

Pendidikan Karakter sebagai Fondasi

Isu pendidikan karakter menjadi salah satu titik tekan dalam diskusi ini. Moderator menyoroti kecenderungan dunia pendidikan yang lebih menonjolkan capaian akademik dibandingkan pembentukan karakter. Menanggapi hal tersebut, M. Zainul Umam menegaskan bahwa pendidikan karakter seharusnya menjadi fondasi utama, bukan sekadar pelengkap.

Ia mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa karakter berpotensi melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin empati dan tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran, budaya kampus, serta keteladanan pendidik.

Di lingkungan PGMI, pendidikan karakter memiliki relevansi yang sangat kuat, mengingat lulusan PGMI kelak akan berperan langsung dalam membentuk karakter generasi sejak usia dini. Nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan akhlak mulia harus ditanamkan secara konsisten.

Harapan dan Pesan Akhir Tahun

Menutup diskusi, moderator mengajak narasumber untuk menyampaikan harapan dan pesan akhir tahun bagi dunia pendidikan Indonesia. Dalam refleksi penutupnya, M. Zainul Umam menyampaikan harapan agar pendidikan Indonesia ke depan semakin humanis, adil, dan berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya.

Ia mengajak seluruh insan pendidikan untuk menjadikan refleksi akhir tahun sebagai momentum memperbaiki niat, meningkatkan kualitas diri, dan memperkuat kolaborasi. Pendidikan, menurutnya, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan sinergi antara pendidik, institusi, kebijakan, dan masyarakat.

Khusus bagi para guru, dosen, dan mahasiswa PGMI, ia berpesan agar tetap menjadi pendidik yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial. Di tengah tantangan zaman, nilai-nilai inilah yang akan menjaga marwah dan kebermaknaan pendidikan.

Refleksi untuk Melangkah ke Tahun Baru

Podcast refleksi akhir tahun ini tidak hanya menjadi ruang evaluasi, tetapi juga pengingat bahwa pendidikan adalah proses panjang yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan komitmen. Di penghujung tahun 2025, refleksi yang disampaikan oleh Ketua Prodi PGMI ini menjadi cermin sekaligus kompas bagi langkah pendidikan ke depan.

Dengan semangat reflektif dan optimisme yang realistis, dunia pendidikan Indonesia diharapkan mampu melangkah ke tahun 2026 dengan arah yang lebih jelas: membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan berkeadaban. Dari ruang podcast sederhana, pesan besar tentang masa depan pendidikan kembali ditegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah upaya memanusiakan manusia.

Reportase : Umi Sulistyani, Rifaya Meherunnisa Arisalsabila, Najla Laila Arisalsabila, M. Zainul Umam

Percepatan Karier Dosen dan Misi Kemanusiaan untuk Sumatra: Peran Akademisi Menjawab Tantangan Bangsa

Jakarta, 25 Desember 2025, Dalam upaya memperkuat peran dosen sebagai penggerak pendidikan sekaligus agen kemanusiaan, Seminar Nasional “Percepatan Karier Dosen dan Misi Kemanusiaan untuk Sumatra” sukses diselenggarakan secara daring pada Kamis pagi, 25 Desember 2025, mulai pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, khususnya wilayah Sumatra dan sekitarnya.
Seminar nasional ini tidak hanya membahas strategi pengembangan karier dosen, tetapi juga mengaitkannya dengan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan, terutama dalam merespons berbagai tantangan pendidikan dan sosial yang dihadapi masyarakat Sumatra. Hal tersebut menjadi benang merah diskusi sepanjang kegiatan berlangsung.
Acara dibuka secara resmi oleh MC Umi Sulistyani, M.Pd, yang mengantarkan suasana seminar dengan tertib dan komunikatif. Selanjutnya, forum dipandu oleh Moderator M. Zainul Umam, M.Pd.I, yang secara sistematis mengarahkan alur diskusi agar berjalan dinamis dan tetap fokus pada substansi tema.
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Hj. Husnul Khotimah, M.Pd, yang menekankan pentingnya percepatan karier dosen tidak hanya sebagai target administratif, tetapi sebagai bagian dari peningkatan kualitas pendidikan nasional. Menurutnya, dosen perlu memiliki perencanaan karier yang matang, konsisten dalam tridarma perguruan tinggi, serta mampu menempatkan pengabdian masyarakat sebagai fondasi etis dalam pengembangan profesi.
Sementara itu, Assoc. Prof. Dr. Sadari, S.HI., M.SI., mengulas strategi percepatan jabatan fungsional dosen dalam perspektif kebijakan dan etika akademik. Ia menegaskan bahwa percepatan karier harus tetap berlandaskan integritas, kualitas karya ilmiah, dan komitmen terhadap pengembangan keilmuan. “Karier dosen bukan sekadar naik pangkat, tetapi juga tentang kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa,” ujarnya.
Narasumber berikutnya, Dr. Muhamad, M.A., mengaitkan pengembangan karier dosen dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial. Ia menyoroti pentingnya dosen terlibat aktif dalam misi kemanusiaan, khususnya di wilayah-wilayah yang terdampak bencana dan ketimpangan akses pendidikan seperti di beberapa daerah Sumatra. Menurutnya, dosen memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat.
Dari sisi teknologi dan inovasi pendidikan, Wahyudi, S.Kom., M.Pd., menyampaikan materi tentang pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung percepatan karier dosen. Ia menjelaskan bahwa literasi digital, pengelolaan portofolio akademik, serta pemanfaatan platform publikasi ilmiah menjadi kunci penting di era transformasi digital. Selain itu, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pengabdian masyarakat secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Banyak peserta menyoroti tantangan dosen di daerah, keterbatasan akses publikasi, serta pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam misi kemanusiaan. Moderator berhasil merangkum diskusi dengan menegaskan bahwa percepatan karier dosen harus berjalan seiring dengan penguatan nilai empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
Seminar nasional ini menjadi ruang refleksi bersama bahwa dosen bukan hanya aktor akademik di ruang kelas dan jurnal ilmiah, tetapi juga pelaku perubahan sosial. Keterlibatan dosen dalam misi kemanusiaan untuk Sumatra dipandang sebagai bentuk nyata implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif tentang pengembangan karier dosen yang berorientasi pada kualitas, integritas, dan kemanusiaan. Seminar ini sekaligus menegaskan komitmen institusi pendidikan tinggi dalam mencetak dosen yang profesional, berdaya saing, dan peka terhadap persoalan sosial.
Dengan terselenggaranya seminar nasional ini, diharapkan lahir sinergi yang lebih kuat antar-akademisi dalam mempercepat karier dosen sekaligus memperluas kontribusi nyata bagi masyarakat Sumatra dan Indonesia secara umum.

Reportase : M. Zainul Umam, Umi Sulistyani

Rasil TV: Mahasiswa IPRIJA Berpotensi Besar Menjadi Wartawan

Jakarta, 8 Desember 2025 — Rasil TV kembali mengupayakan peningkatan kapasitas sumber daya jurnalistik melalui Zoom Meeting bertajuk “Keniscayaan Menjadi Wartawan Handal”. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh kru Rasil TV serta para mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA). Acara dipandu oleh Deritawati selaku moderator dan menghadirkan pembicara utama Rachmat Hidayat.

Sejak awal pemaparan, Rachmat Hidayat menekankan bahwa profesi wartawan tidak hanya bergantung pada kemampuan menulis, tetapi juga pada adaptasi terhadap perubahan zaman. Bahasa jurnalistik, gaya penyampaian, hingga penguasaan platform digital menjadi aspek penting yang wajib dikuasai. Ia menyinggung istilah bahasa populer yang semakin sering digunakan jurnalis modern, karena dinilai efektif menjangkau pembaca yang lebih luas tanpa mengorbankan nilai akurasi.

Menariknya, diskusi berkembang pada isu tentang hilangnya nuansa bahasa sastrawi dalam Majalah Tempo sejak tahun 2010-an. Topik ini memicu perhatian peserta dan ditanggapi langsung oleh Sunodyantoro, seorang wartawan Tempo yang turut hadir dalam forum. Menurutnya, anggapan bahwa Tempo telah meninggalkan kesastrawian sebenarnya tidak tepat. Bagi Sunodyantoro, bahasa Tempo tidak pernah dirancang untuk menjadi baku dalam standar sastra, melainkan bergantung pada gaya dan karakter masing-masing jurnalis. Ia menegaskan bahwa setiap penulis Tempo memiliki warna editorial pribadi, sehingga wajar apabila kehadiran gaya sastrawi tidak selalu dominan di setiap periode penerbitannya.

Pada sesi yang sama, Rachmat Hidayat turut menyinggung bagaimana gaya menulis jurnalis besar dunia seperti Ernest Hemingway dapat menjadi rujukan bagi wartawan masa kini. Hemingway dikenal dengan gaya penulisan yang ringkas, padat, dan bertenaga, sebuah teknik yang dikenal sebagai iceberg theory. Menurut Rachmat, wartawan masa kini dapat belajar bahwa kekuatan tulisan tidak selalu terletak pada kalimat berbunga-bunga, melainkan pada presisi, kejelasan, dan kekuatan fakta. Penyebutan Hemingway membuat diskusi semakin hidup, mengingatkan para peserta bahwa jurnalisme modern terus dipengaruhi oleh gaya penulisan tokoh-tokoh besar dunia.

Diskusi semakin hangat ketika Angga Amiruddin, jurnalis Radio Rasil, mengajukan pertanyaan seputar manajemen bahasa saat siaran langsung. Menurutnya, siaran langsung menuntut spontanitas, namun tetap harus mengikuti kaidah jurnalistik. Rachmat Hidayat menjelaskan bahwa siaran langsung menuntut kemampuan memilih diksi yang cepat, tepat, dan komunikatif. Ia menambahkan bahwa penggunaan bahasa populer pun tidak masalah selama tidak melanggar prinsip dasar jurnalistik dan tetap mengutamakan keakuratan informasi.

Keterlibatan mahasiswa IPR IJA yang sedang menjalani PPL menjadi salah satu sorotan penting dalam kegiatan ini. Banyak dari mereka mengaku mendapatkan wawasan baru tentang dunia jurnalistik setelah mendengar penjelasan para praktisi. Paparan mengenai perkembangan bahasa media, perbandingan gaya penulisan jurnalis Indonesia dengan tokoh internasional seperti Hemingway, hingga pengelolaan bahasa dalam siaran, membuat mereka semakin terdorong untuk memperdalam ilmu jurnalistik selama masa PPL. Beberapa mahasiswa bahkan menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka pandangan mereka tentang jurnalistik sebagai bidang yang dinamis dan menantang.

Perwakilan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Jimmy Senduk, turut hadir dan memberikan pandangan singkat mengenai pentingnya etika dalam profesi wartawan. Ia menegaskan bahwa integritas merupakan pondasi utama yang menentukan kualitas seorang jurnalis. Menurutnya, kemampuan menulis yang baik tidak akan berarti tanpa kejujuran, ketelitian, dan komitmen terhadap kebenaran.

Menutup sesi diskusi, peserta dan narasumber sepakat bahwa menjadi wartawan handal bukanlah sesuatu yang lahir dalam semalam. Profesi ini menuntut ketekunan, latihan terus-menerus, dan pemahaman mendalam tentang bahasa. Rasil TV menyampaikan harapannya agar kegiatan ini mampu memicu semangat para mahasiswa IPR IJA untuk terus belajar, mempertajam kemampuan menulis, dan memahami dunia jurnalistik dari para praktisi secara langsung.

Zoom Meeting ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Selain memperkaya wawasan mengenai perkembangan bahasa jurnalistik, kegiatan ini juga mempertemukan mahasiswa dengan para praktisi yang memberikan gambaran nyata tentang tantangan profesi wartawan di era digital. Dengan semangat yang terbentuk, para mahasiswa IPRIJA berharap pengalaman ini menjadi bekal penting bagi perjalanan mereka setelah menyelesaikan PPL.

Webinar IPRIJA: Bekali Guru Madrasah Hadapi Peluang dan Tantangan Pendidikan Masa Depan

Memasuki era disrupsi teknologi dan perubahan sosial yang cepat, peran guru madrasah menjadi semakin strategis dalam mencetak generasi penerus bangsa yang unggul dan berkarakter. Menyikapi hal tersebut, Institut Pendidikan RI Jakarta (IPRIJA) menyelenggarakan Webinar dengan tema “Peluang dan Tantangan Guru Madrasah Songsong Masa Depan Indonesia”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Rabu, 12 Maret 2025 ini berhasil menarik minat para peserta dari kalangan mahasiswa, guru dan calon guru madrasah. Read More Webinar IPRIJA: Bekali Guru Madrasah Hadapi Peluang dan Tantangan Pendidikan Masa Depan

Tingkatkan Kualitas Proposal, LP2M IPRIJA Gelar Coaching Clinic Bidik Hibah Litapdimas dan LPDP

Dalam upaya meningkatkan kompetensi dan kualitas proposal penelitian dan pengabdian masyarakat (PkM) dosen, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Institut Pendidikan RI Jakarta (IPRIJA) menyelenggarakan Coaching Clinic Penyusunan Proposal Penelitian dan PkM. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Rabu, 19 Februari 2025 ini secara khusus membidik hibah kompetitif dari Litapdimas dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Read More Tingkatkan Kualitas Proposal, LP2M IPRIJA Gelar Coaching Clinic Bidik Hibah Litapdimas dan LPDP

KKN Lingkar Kampus IPRIJA Tahun 2025 di Kelurahan Kelapa Dua Wetan

Pada Kamis, 30 Januari 2025, bertempat di aula Kantor Kelurahan Kelapa Dua Wetan, digelar acara pembukaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Lingkar Kampus IPRIJA Angkatan 21. Acara ini diikuti oleh 80 peserta mahasiswa dari tiga fakultas: Tarbiyah, Dakwah, dan Syariah. Read More KKN Lingkar Kampus IPRIJA Tahun 2025 di Kelurahan Kelapa Dua Wetan

Seminar Bedah Buku: “Integrasi Iman dan Ilmu, Pendekatan Sinektik bagi Pendidikan di Indonesia”

Ciracas, 8 Januari 2025 – Aula Rapat Digital IPRIJA. Seminar Bedah Buku dengan judul “Integrasi Iman dan Ilmu, Pendekatan Sinektik bagi Pendidikan di Indonesia” sukses digelar di Aula Rapat Digital IPRIJA. Buku ini merupakan karya monumental KH. Dr. Asep Maskur, M.Kom.i. Penulis adalah pengasuh pondok pesantren Al-Hidayah Jakarta Timur sekaligus dosen Fakultas Dakwah IPRIJA. Read More Seminar Bedah Buku: “Integrasi Iman dan Ilmu, Pendekatan Sinektik bagi Pendidikan di Indonesia”

Webinar LP2M IPRIJA: Transformasi Dakwah di Era Digital melalui Pendekatan Komunikasi yang Kontekstual

Menanggapi dinamika masyarakat digital yang terus berkembang, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Institut Pendidikan RI Jakarta (IPRIJA) menyelenggarakan webinar bertajuk “Paradigma Komunikasi dan Penyiaran Islam dan Trend Dakwah Digital”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Kamis, 21 November 2024 ini berhasil menggugah kesadaran para peserta tentang pentingnya transformasi metode dakwah di era kontemporer.

Read more: Webinar LP2M IPRIJA: Transformasi Dakwah di Era Digital melalui Pendekatan Komunikasi yang Kontekstual

Webinar menghadirkan dua pembicara kompeten di bidang komunikasi dan dakwah. H. Andi Edwin Rewira, MM, selaku Kepala Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IPRIJA, hadir sebagai pembicara pertama. Dalam paparannya, beliau menekankan perlunya pergeseran paradigma dari pendekatan dakwah konvensional menuju metode yang selaras dengan karakteristik masyarakat digital.

“Generasi milenial dan Gen Z hidup dalam ekosistem digital yang serba cepat dan visual. Dakwah hari ini tidak bisa lagi mengandalkan metode ceramah satu arah yang monoton. Kita perlu memikirkan ulang bagaimana menyampaikan pesan-pesan Islami melalui medium dan bahasa yang mereka pahami dan nikmati,” tegas Edwin Rewira.

Pembicara kedua, Dr. H. Mohammad Ridwan, MA, seorang penulis dan praktisi komunikasi ternama yang kerap menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah dan swasta, menyoroti aspek strategis dakwah digital. Beliau membedah tren terkini dalam konten keislaman di platform digital dan memberikan strategi untuk meningkatkan efektivitas dakwah di ruang maya.

“Kunci keberhasilan dakwah digital terletak pada tiga hal: konten yang berkualitas dan mendalam, kemasan yang kreatif dan profesional, serta konsistensi dalam membangun engagement. Seorang dai digital harus menjadi ‘content creator’ yang paham algoritma, namun tidak kehilangan substansi ilmu yang sahih,” papar Dr. Ridwan dengan mendalam.

Lebih lanjut, Dr. Ridwan juga mengingatkan pentingnya etika (adab) dalam berdakwah di dunia digital. Menurutnya, ruang digital yang seringkali panas dan penuh dengan debat tidak produktif, justru membutuhkan keteladanan dari para dai untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman dengan cara yang santun, bijak, dan meneduhkan.

Webinar yang dimoderatori dengan apik ini diikuti secara antusias oleh ratusan peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, praktisi dakwah, dan masyarakat umum. Sesi tanya jawab berlangsung dinamis, menandakan tingginya minat peserta terhadap tema yang diangkat.

Melalui webinar ini, LP2M IPRIJA kembali menegaskan peran strategisnya dalam menjadi wadah diskusi dan pengembangan ilmu yang relevan dengan tantangan zaman. Acara ini diharapkan dapat menginspirasi lahirnya para komunikator dan dai digital yang tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga kokoh dalam menjaga integritas keilmuan dan akhlakul karimah dalam menyebarkan pesan Islam rahmatan lil ‘alamin.