IPRIJA Dorong Akses Pendidikan Berkualitas Berkarakter Islami melalui Sosialisasi PMB SMAS Nurul Hikmah

Jakarta — Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) melalui Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di SMAS Nurul Hikmah Jonggol Kabupaten Bogor Jawa Barat sebagai bagian dari upaya memperluas akses informasi pendidikan tinggi kepada peserta didik tingkat menengah atas. Kegiatan ini menjadi langkah strategis IPRIJA dalam memperkenalkan dunia perguruan tinggi sekaligus membangun motivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kegiatan sosialisasi berlangsung dengan antusias dan penuh interaksi. Hadir sebagai pembicara utama, Ketua Program Studi PGMI IPRIJA, M. Zainul Umam, M.Pd.I, yang memaparkan secara komprehensif profil IPRIJA, visi keilmuan, serta peluang akademik dan nonakademik yang dapat diakses oleh calon mahasiswa. Kegiatan ini dipandu oleh Umi Sulistyani, M.Pd, dosen PGMI IPRIJA, yang bertindak sebagai moderator dan mengarahkan jalannya acara secara komunikatif dan inspiratif.

Dalam sambutannya, M. Zainul Umam, M.Pd.I menyampaikan bahwa sosialisasi PMB merupakan bagian dari komitmen IPRIJA untuk hadir lebih dekat dengan sekolah-sekolah menengah atas, khususnya dalam memberikan pemahaman yang utuh mengenai pentingnya pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam pembinaan karakter dan nilai-nilai keislaman. Menurutnya, tantangan pendidikan di era modern menuntut perguruan tinggi untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa IPRIJA Institute hadir sebagai perguruan tinggi yang mengintegrasikan ilmu pendidikan, sains, dan teknologi dengan nilai-nilai rohani Islam. Hal ini tercermin dalam kurikulum yang dirancang adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam proses pembelajaran. Dengan pendekatan tersebut, lulusan IPRIJA diharapkan memiliki kompetensi akademik, keterampilan profesional, serta integritas moral yang kuat.

Pada sesi pemaparan materi, peserta sosialisasi diperkenalkan dengan berbagai program studi yang tersedia di IPRIJA, khususnya Program Studi PGMI yang berfokus pada pencetakan pendidik profesional di jenjang madrasah ibtidaiyah dan sekolah dasar. Disampaikan pula prospek lulusan PGMI yang tidak hanya terbatas pada profesi guru, tetapi juga terbuka peluang sebagai peneliti pendidikan, pengembang media pembelajaran, praktisi pendidikan Islam, serta wirausaha di bidang pendidikan.

Moderator, Umi Sulistyani, M.Pd, dalam pengantarnya menekankan pentingnya peran guru masa depan yang adaptif, kreatif, dan memiliki kepekaan sosial. Ia mengajak para siswa SMAS Nurul Hikmah untuk mulai mempersiapkan diri sejak dini, baik secara akademik maupun mental, dalam menentukan pilihan studi lanjut. Menurutnya, memilih perguruan tinggi bukan sekadar memilih tempat belajar, tetapi juga memilih lingkungan yang akan membentuk karakter dan arah masa depan.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah pemaparan terkait Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2026/2027. Dalam kesempatan tersebut dijelaskan bahwa pendaftaran PMB IPRIJA telah dimulai sejak 1 Februari 2024, dengan berbagai jalur seleksi yang dapat diikuti oleh calon mahasiswa. Jalur tersebut dirancang untuk memberikan kesempatan yang adil dan luas bagi lulusan SMA/MA/SMK dari berbagai latar belakang.

Selain itu, disampaikan pula informasi mengenai fasilitas pendukung pembelajaran di IPRIJA, seperti ruang kelas representatif, dosen yang kompeten dan berpengalaman, serta kegiatan kemahasiswaan yang mendukung pengembangan soft skills. IPRIJA juga memberikan perhatian khusus pada pembinaan spiritual mahasiswa melalui berbagai program keagamaan yang terintegrasi dalam kehidupan kampus.

Antusiasme peserta terlihat jelas dari banyaknya pertanyaan yang diajukan pada sesi diskusi dan tanya jawab. Para siswa SMAS Nurul Hikmah tampak aktif menggali informasi seputar sistem perkuliahan, peluang beasiswa, hingga prospek kerja setelah lulus. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab secara lugas dan informatif oleh narasumber, sehingga memberikan gambaran yang jelas dan realistis mengenai dunia perkuliahan di IPRIJA.

Kegiatan sosialisasi ini tidak hanya menjadi ajang promosi institusi, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan motivasi bagi siswa. Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa memiliki wawasan yang lebih luas tentang pentingnya melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sebagai bekal menghadapi tantangan global di masa depan.

Pihak SMAS Nurul Hikmah menyambut baik pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini dan mengapresiasi kehadiran tim dari IPRIJA. Kerja sama antara sekolah dan perguruan tinggi dinilai sangat penting dalam membangun kesinambungan pendidikan serta mempersiapkan lulusan yang siap bersaing dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

Sebagai penutup, M. Zainul Umam, M.Pd.I mengajak seluruh peserta untuk tidak ragu melanjutkan studi dan terus mengembangkan potensi diri. Ia menegaskan bahwa IPRIJA terbuka bagi generasi muda yang ingin tumbuh menjadi pendidik dan insan intelektual yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing. Melalui sosialisasi PMB ini, IPRIJA berharap dapat menjadi bagian dari perjalanan akademik para siswa SMAS Nurul Hikmah menuju masa depan yang lebih cerah.

Dengan terselenggaranya kegiatan Sosialisasi PMB di SMAS Nurul Hikmah, IPRIJA kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif, responsif, dan berkomitmen dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang bermutu dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Reportase: Miss Umi, Zainul

PGMI IPRIJA Dorong Literasi Akademik Lewat Seminar Nasional Penulisan Karya Ilmiah di Era AI

Jakarta — Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) menyelenggarakan Seminar Nasional Webinar Series PGMI bertema “Menulis Skripsi/Tesis, Jurnal, dan Buku di Era Artificial Intelligence” pada Kamis (29/1/2026). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan secara langsung melalui PGMI IPRIJA TV, serta diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Seminar nasional ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Peserta yang hadir berasal dari kalangan mahasiswa, dosen pemula, praktisi pendidikan, hingga masyarakat umum yang memiliki minat dalam pengembangan keterampilan menulis akademik. Tema yang diangkat dinilai relevan dengan kebutuhan akademik saat ini, seiring pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang turut memengaruhi dunia pendidikan dan penelitian.

Acara dimulai pukul 08.00 WIB dan dipandu oleh Miss Ratih Yuni Widyaningsih, mahasiswa PGMI semester 2, yang bertindak sebagai Master of Ceremony (MC). Dengan gaya komunikatif dan tertata, MC mengarahkan jalannya acara sejak pembukaan hingga penutupan, sekaligus memastikan kegiatan berjalan dengan tertib dan kondusif.

Dorongan Penguatan Budaya Menulis Akademik

Seminar ini menghadirkan Keynote Speaker Dr. Muhamad, M.A, selaku Kepala Lembaga Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IPRIJA. Dalam sambutannya, Dr. Muhamad menekankan pentingnya penguatan budaya menulis di lingkungan perguruan tinggi sebagai bagian integral dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Menurutnya, kemampuan menulis karya ilmiah bukan hanya menjadi tuntutan akademik, tetapi juga sarana strategis untuk menyebarluaskan gagasan, hasil penelitian, dan kontribusi keilmuan kepada masyarakat luas. Ia menegaskan bahwa kehadiran teknologi Artificial Intelligence harus disikapi secara bijak.

“Artificial Intelligence bukan untuk menggantikan peran akademisi, tetapi sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas karya ilmiah, selama digunakan secara etis dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Moderator Tekankan Etika dan Literasi Digital

Sesi inti seminar dipandu oleh M. Zainul Umam, M.Pd.I, selaku Ketua Program Studi PGMI IPRIJA, yang bertindak sebagai moderator. Dalam pengantarnya, ia menyampaikan bahwa tantangan utama penulisan karya ilmiah di era digital bukan hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada etika akademik dan literasi digital.

Ia menekankan bahwa mahasiswa PGMI sebagai calon pendidik perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, integritas akademik, serta pemahaman yang baik tentang pemanfaatan teknologi digital, termasuk AI, dalam proses penulisan ilmiah.

“Mahasiswa tidak cukup hanya mampu menulis, tetapi juga harus memahami batasan etis dalam menggunakan teknologi, agar karya yang dihasilkan tetap orisinal dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik,” ungkapnya.

Strategi Menulis Karya Ilmiah di Era AI

Narasumber pertama, M. Ghifari, SHd, M.Ag, Kepala LP2M IDAQU, memaparkan materi mengenai strategi menulis skripsi, tesis, dan artikel jurnal di era Artificial Intelligence. Ia menjelaskan bahwa AI dapat dimanfaatkan pada tahap awal penulisan, seperti pencarian referensi, pengelompokan ide, serta penyuntingan bahasa.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa penguasaan metodologi penelitian tetap menjadi fondasi utama dalam penulisan karya ilmiah. Tanpa pemahaman metodologi yang kuat, pemanfaatan AI justru berpotensi menurunkan kualitas dan kredibilitas karya akademik.

“AI hanyalah alat bantu. Substansi, analisis, dan kedalaman pemikiran tetap harus berasal dari penulis itu sendiri,” tegasnya.

Peluang Publikasi Jurnal dan Penulisan Buku

Sementara itu, narasumber kedua, Dr. M. Ridwan, M.A, dosen IPRIJA, membahas peluang dan tantangan menulis jurnal serta buku akademik di era digital. Ia memaparkan tahapan praktis penulisan artikel jurnal, mulai dari pemilihan topik yang relevan, penyusunan kerangka artikel, hingga proses submit ke jurnal nasional dan internasional.

Selain jurnal, Dr. M. Ridwan, MA juga mendorong mahasiswa dan dosen pemula untuk mulai menulis buku, baik buku ajar, buku referensi, maupun book chapter. Menurutnya, menulis buku merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata akademisi dalam pengembangan keilmuan dan peningkatan reputasi institusi.

“Jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis. Konsistensi dan keberanian memulai adalah kunci utama produktivitas akademik,” ujarnya.

Diskusi Interaktif dan Antusiasme Peserta

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta yang disampaikan melalui kolom chat Zoom. Pertanyaan yang diajukan mencakup topik etika penggunaan AI, strategi menghindari plagiarisme, pemanfaatan AI secara aman dalam penulisan skripsi, hingga tips membagi waktu antara menulis dan aktivitas akademik lainnya.

Moderator menyaring dan merangkum pertanyaan peserta, sementara para narasumber memberikan jawaban yang aplikatif dan mudah dipahami. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi tanya jawab serta respon positif terhadap materi yang disampaikan.

Komitmen PGMI IPRIJA Hadapi Tantangan Zaman

Seminar nasional ini menjadi bagian dari komitmen Program Studi PGMI Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) dalam membekali mahasiswa dan sivitas akademika dengan keterampilan akademik yang relevan dengan perkembangan zaman.

Melalui kegiatan Webinar Series PGMI, IPRIJA terus berupaya menciptakan ruang diskusi ilmiah yang adaptif, inovatif, dan kontekstual, sekaligus mendorong lahirnya generasi akademisi dan pendidik yang produktif, berintegritas, serta mampu memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence secara bijak.

Acara ditutup dengan penyampaian kesimpulan dan ucapan terima kasih kepada seluruh narasumber, moderator, panitia, serta peserta. Peserta seminar juga memperoleh fasilitas berupa e-sertifikat, modul materi, serta kesempatan membangun jejaring akademik lintas institusi.

Reportase: Miss Ratih, Miss Umi, Zain

Musyawarah Besar DEMA IPRIJA Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebersamaan

Bogor — Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (DEMA IPRIJA) sukses menyelenggarakan Musyawarah Besar (Mubes) pada Sabtu, 10 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Villa Puri Amira 2, Kecamatan Cisarua, Puncak, Bogor, dengan suasana yang sejuk dan kondusif untuk bermusyawarah.
Musyawarah Besar dibuka dengan sambutan Presiden Mahasiswa DEMA IPRIJA periode 2025/2026, Prastian Muhammad Alim. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya Mubes sebagai forum tertinggi mahasiswa untuk melakukan evaluasi, pembaruan regulasi, serta regenerasi kepemimpinan demi keberlangsungan organisasi yang lebih baik dan progresif.
Agenda Musyawarah Besar kemudian dilanjutkan dengan serangkaian pleno yang berlangsung secara tertib dan demokratis. Pleno I membahas dan menetapkan tata tertib persidangan sebagai pedoman jalannya Mubes. Selanjutnya, Pleno II diisi dengan pemaparan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dari masing-masing departemen DEMA IPRIJA sebagai bentuk transparansi dan evaluasi kinerja selama satu periode kepengurusan.
Pada Pleno III, peserta Mubes membahas Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi guna menyesuaikan kebutuhan dan tantangan organisasi ke depan. Pleno IV menjadi momen penting dengan dilaksanakannya pemilihan ketua DEMA IPRIJA secara musyawarah mufakat. Sementara itu, Pleno V ditutup dengan agenda pendemisioneran mahasiswa semester 7 sebagai simbol estafet kepemimpinan dan regenerasi kader organisasi.
Setelah rangkaian pleno selesai, acara dilanjutkan dengan pemutaran video kenang-kenangan yang menampilkan perjalanan, dinamika, serta kebersamaan pengurus selama satu periode kepengurusan. Suasana haru dan kebanggaan pun terasa di antara seluruh peserta. Kegiatan kemudian diteruskan dengan musyawarah struktural untuk menyusun dan menguatkan arah kepengurusan ke depan.
Pada malam harinya, suasana Musyawarah Besar semakin hangat dengan kegiatan kebersamaan seperti bakar-bakaran dan aktivitas santai lainnya. Momen ini menjadi ajang mempererat solidaritas, kekeluargaan, dan kebersamaan antaranggota DEMA IPRIJA.
Secara keseluruhan, Musyawarah Besar DEMA IPRIJA tahun 2026 berlangsung dengan khidmat, tertib, dan penuh semangat kebersamaan. Kegiatan ini menjadi bukti komitmen mahasiswa Institut Pembina Rohani Islam Jakarta dalam menjaga nilai-nilai musyawarah, demokrasi, dan kekeluargaan demi kemajuan organisasi dan kampus tercinta.

Menutup Tahun 2025, Membaca Arah Pendidikan Indonesia: Refleksi Kritis dari PGMI

Jakarta, 31 Desember 2025. Menjelang pergantian tahun, dunia pendidikan Indonesia kembali dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: sejauh mana perjalanan pendidikan telah membawa perubahan yang bermakna, dan ke arah mana langkah berikutnya harus diarahkan. Refleksi inilah yang menjadi ruh utama dalam podcast refleksi akhir tahun yang menghadirkan Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Bapak M. Zainul Umam, M.Pd.I, dengan moderator Ibu Umi Sulistyani, M.Pd.

Podcast yang diselenggarakan pada 31 Desember 2025 ini menjadi ruang dialog akademik sekaligus reflektif, tidak hanya untuk sivitas akademika PGMI, tetapi juga bagi para pemerhati pendidikan dasar di Indonesia. Dalam suasana akhir tahun yang sarat evaluasi, diskusi berlangsung hangat, mendalam, dan menyentuh persoalan-persoalan esensial pendidikan nasional.

Pendidikan Indonesia dalam Fase Transisi

Mengawali diskusi, moderator mengajak narasumber untuk merefleksikan kondisi umum pendidikan Indonesia sepanjang tahun 2025, khususnya pada pendidikan dasar dan PGMI. Menurut M. Zainul Umam, pendidikan Indonesia saat ini berada dalam fase transisi yang sangat dinamis.

Ia menegaskan bahwa di satu sisi, terdapat sejumlah kemajuan yang patut diapresiasi. Digitalisasi pembelajaran semakin masif, kesadaran akan pentingnya literasi dan numerasi kian menguat, serta upaya penguatan kurikulum terus dilakukan oleh berbagai pemangku kebijakan. Transformasi ini menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia tidak diam, melainkan terus bergerak mengikuti tuntutan zaman.

Namun demikian, di balik capaian tersebut, tantangan mendasar masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah, beban administratif yang tinggi bagi guru, serta kesiapan sumber daya manusia yang belum merata menjadi catatan penting. Dalam konteks PGMI, tantangan utama adalah menyiapkan calon guru madrasah ibtidaiyah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, spiritualitas, dan karakter yang kuat.

“Guru PGMI ke depan tidak cukup hanya pintar mengajar, tetapi juga harus mampu membaca realitas sosial peserta didik dan lingkungannya,” ungkapnya.

Evaluasi Kebijakan: Dari Konsep ke Implementasi

Diskusi kemudian berlanjut pada evaluasi kebijakan pendidikan. Moderator menanyakan kebijakan atau praktik pendidikan apa yang menurut narasumber perlu mendapat perhatian serius ke depan. Menjawab hal ini, M. Zainul Umam menekankan pentingnya mengevaluasi implementasi kebijakan di lapangan, bukan sekadar merumuskan konsep di atas kertas.

Ia menilai bahwa banyak kebijakan pendidikan yang sejatinya baik dan visioner, namun belum sepenuhnya dipahami dan dijalankan secara utuh oleh satuan pendidikan. Kesenjangan antara regulasi dan praktik sering kali melahirkan kebingungan di tingkat guru dan dosen.

Selain itu, ia menyoroti perlunya keseimbangan antara tuntutan administratif dan esensi pendidikan. Guru dan dosen, menurutnya, seharusnya lebih banyak diberi ruang untuk mendidik, membimbing, dan menginspirasi peserta didik. Ketika energi pendidik terkuras pada pelaporan dan administrasi, maka ruh pendidikan berpotensi melemah.

“Pendidikan bukan hanya soal dokumen, tetapi tentang proses memanusiakan manusia,” tegasnya.

Inovasi yang Berpihak pada Peserta Didik

Dalam sesi berikutnya, moderator mengangkat isu inovasi pendidikan yang kerap menjadi jargon dalam berbagai forum. Menurut M. Zainul Umam, inovasi sejati dalam pendidikan bukan semata-mata soal penggunaan teknologi, melainkan tentang keberpihakan pada kebutuhan peserta didik.

Ia mencontohkan pentingnya pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata siswa. Pembelajaran semacam ini tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, empati, dan kepekaan sosial.

Teknologi, lanjutnya, harus diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkuat proses belajar, bukan menggantikan peran pendidik. Dalam pendidikan dasar dan PGMI, peran guru sebagai teladan nilai dan pembimbing karakter tetap tidak tergantikan.

“Inovasi tanpa sentuhan kemanusiaan justru berpotensi menjauhkan pendidikan dari tujuan hakikinya,” ujarnya.

Dosen dan Guru sebagai Penjaga Nilai

Sebagai pimpinan program studi, M. Zainul Umam juga memberikan pandangannya tentang peran dosen dan guru di tengah perubahan kebijakan yang begitu cepat. Ia menyebut dosen dan guru sebagai penjaga nilai dan arah pendidikan.

Di tengah dinamika kebijakan, pendidik dituntut untuk adaptif dan terus belajar. Namun, adaptasi tersebut tidak boleh mengorbankan prinsip dan etika profesi. Dosen, khususnya di lingkungan PGMI, memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk cara berpikir, sikap, dan tanggung jawab moral mahasiswa sebagai calon pendidik.

Menurutnya, mahasiswa PGMI tidak hanya perlu dibekali kompetensi pedagogik, tetapi juga kesadaran bahwa profesi guru adalah amanah sosial dan moral. Keteladanan dosen dalam bersikap, berinteraksi, dan mengambil keputusan menjadi bagian penting dari proses pendidikan itu sendiri.

Pendidikan Karakter sebagai Fondasi

Isu pendidikan karakter menjadi salah satu titik tekan dalam diskusi ini. Moderator menyoroti kecenderungan dunia pendidikan yang lebih menonjolkan capaian akademik dibandingkan pembentukan karakter. Menanggapi hal tersebut, M. Zainul Umam menegaskan bahwa pendidikan karakter seharusnya menjadi fondasi utama, bukan sekadar pelengkap.

Ia mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa karakter berpotensi melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin empati dan tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran, budaya kampus, serta keteladanan pendidik.

Di lingkungan PGMI, pendidikan karakter memiliki relevansi yang sangat kuat, mengingat lulusan PGMI kelak akan berperan langsung dalam membentuk karakter generasi sejak usia dini. Nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan akhlak mulia harus ditanamkan secara konsisten.

Harapan dan Pesan Akhir Tahun

Menutup diskusi, moderator mengajak narasumber untuk menyampaikan harapan dan pesan akhir tahun bagi dunia pendidikan Indonesia. Dalam refleksi penutupnya, M. Zainul Umam menyampaikan harapan agar pendidikan Indonesia ke depan semakin humanis, adil, dan berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya.

Ia mengajak seluruh insan pendidikan untuk menjadikan refleksi akhir tahun sebagai momentum memperbaiki niat, meningkatkan kualitas diri, dan memperkuat kolaborasi. Pendidikan, menurutnya, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan sinergi antara pendidik, institusi, kebijakan, dan masyarakat.

Khusus bagi para guru, dosen, dan mahasiswa PGMI, ia berpesan agar tetap menjadi pendidik yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial. Di tengah tantangan zaman, nilai-nilai inilah yang akan menjaga marwah dan kebermaknaan pendidikan.

Refleksi untuk Melangkah ke Tahun Baru

Podcast refleksi akhir tahun ini tidak hanya menjadi ruang evaluasi, tetapi juga pengingat bahwa pendidikan adalah proses panjang yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan komitmen. Di penghujung tahun 2025, refleksi yang disampaikan oleh Ketua Prodi PGMI ini menjadi cermin sekaligus kompas bagi langkah pendidikan ke depan.

Dengan semangat reflektif dan optimisme yang realistis, dunia pendidikan Indonesia diharapkan mampu melangkah ke tahun 2026 dengan arah yang lebih jelas: membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan berkeadaban. Dari ruang podcast sederhana, pesan besar tentang masa depan pendidikan kembali ditegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah upaya memanusiakan manusia.

Reportase : Umi Sulistyani, Rifaya Meherunnisa Arisalsabila, Najla Laila Arisalsabila, M. Zainul Umam

Percepatan Karier Dosen dan Misi Kemanusiaan untuk Sumatra: Peran Akademisi Menjawab Tantangan Bangsa

Jakarta, 25 Desember 2025, Dalam upaya memperkuat peran dosen sebagai penggerak pendidikan sekaligus agen kemanusiaan, Seminar Nasional “Percepatan Karier Dosen dan Misi Kemanusiaan untuk Sumatra” sukses diselenggarakan secara daring pada Kamis pagi, 25 Desember 2025, mulai pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, khususnya wilayah Sumatra dan sekitarnya.
Seminar nasional ini tidak hanya membahas strategi pengembangan karier dosen, tetapi juga mengaitkannya dengan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan, terutama dalam merespons berbagai tantangan pendidikan dan sosial yang dihadapi masyarakat Sumatra. Hal tersebut menjadi benang merah diskusi sepanjang kegiatan berlangsung.
Acara dibuka secara resmi oleh MC Umi Sulistyani, M.Pd, yang mengantarkan suasana seminar dengan tertib dan komunikatif. Selanjutnya, forum dipandu oleh Moderator M. Zainul Umam, M.Pd.I, yang secara sistematis mengarahkan alur diskusi agar berjalan dinamis dan tetap fokus pada substansi tema.
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Hj. Husnul Khotimah, M.Pd, yang menekankan pentingnya percepatan karier dosen tidak hanya sebagai target administratif, tetapi sebagai bagian dari peningkatan kualitas pendidikan nasional. Menurutnya, dosen perlu memiliki perencanaan karier yang matang, konsisten dalam tridarma perguruan tinggi, serta mampu menempatkan pengabdian masyarakat sebagai fondasi etis dalam pengembangan profesi.
Sementara itu, Assoc. Prof. Dr. Sadari, S.HI., M.SI., mengulas strategi percepatan jabatan fungsional dosen dalam perspektif kebijakan dan etika akademik. Ia menegaskan bahwa percepatan karier harus tetap berlandaskan integritas, kualitas karya ilmiah, dan komitmen terhadap pengembangan keilmuan. “Karier dosen bukan sekadar naik pangkat, tetapi juga tentang kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa,” ujarnya.
Narasumber berikutnya, Dr. Muhamad, M.A., mengaitkan pengembangan karier dosen dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial. Ia menyoroti pentingnya dosen terlibat aktif dalam misi kemanusiaan, khususnya di wilayah-wilayah yang terdampak bencana dan ketimpangan akses pendidikan seperti di beberapa daerah Sumatra. Menurutnya, dosen memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat.
Dari sisi teknologi dan inovasi pendidikan, Wahyudi, S.Kom., M.Pd., menyampaikan materi tentang pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung percepatan karier dosen. Ia menjelaskan bahwa literasi digital, pengelolaan portofolio akademik, serta pemanfaatan platform publikasi ilmiah menjadi kunci penting di era transformasi digital. Selain itu, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pengabdian masyarakat secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Banyak peserta menyoroti tantangan dosen di daerah, keterbatasan akses publikasi, serta pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam misi kemanusiaan. Moderator berhasil merangkum diskusi dengan menegaskan bahwa percepatan karier dosen harus berjalan seiring dengan penguatan nilai empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
Seminar nasional ini menjadi ruang refleksi bersama bahwa dosen bukan hanya aktor akademik di ruang kelas dan jurnal ilmiah, tetapi juga pelaku perubahan sosial. Keterlibatan dosen dalam misi kemanusiaan untuk Sumatra dipandang sebagai bentuk nyata implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif tentang pengembangan karier dosen yang berorientasi pada kualitas, integritas, dan kemanusiaan. Seminar ini sekaligus menegaskan komitmen institusi pendidikan tinggi dalam mencetak dosen yang profesional, berdaya saing, dan peka terhadap persoalan sosial.
Dengan terselenggaranya seminar nasional ini, diharapkan lahir sinergi yang lebih kuat antar-akademisi dalam mempercepat karier dosen sekaligus memperluas kontribusi nyata bagi masyarakat Sumatra dan Indonesia secara umum.

Reportase : M. Zainul Umam, Umi Sulistyani

Rasil TV: Mahasiswa IPRIJA Berpotensi Besar Menjadi Wartawan

Jakarta, 8 Desember 2025 — Rasil TV kembali mengupayakan peningkatan kapasitas sumber daya jurnalistik melalui Zoom Meeting bertajuk “Keniscayaan Menjadi Wartawan Handal”. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh kru Rasil TV serta para mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA). Acara dipandu oleh Deritawati selaku moderator dan menghadirkan pembicara utama Rachmat Hidayat.

Sejak awal pemaparan, Rachmat Hidayat menekankan bahwa profesi wartawan tidak hanya bergantung pada kemampuan menulis, tetapi juga pada adaptasi terhadap perubahan zaman. Bahasa jurnalistik, gaya penyampaian, hingga penguasaan platform digital menjadi aspek penting yang wajib dikuasai. Ia menyinggung istilah bahasa populer yang semakin sering digunakan jurnalis modern, karena dinilai efektif menjangkau pembaca yang lebih luas tanpa mengorbankan nilai akurasi.

Menariknya, diskusi berkembang pada isu tentang hilangnya nuansa bahasa sastrawi dalam Majalah Tempo sejak tahun 2010-an. Topik ini memicu perhatian peserta dan ditanggapi langsung oleh Sunodyantoro, seorang wartawan Tempo yang turut hadir dalam forum. Menurutnya, anggapan bahwa Tempo telah meninggalkan kesastrawian sebenarnya tidak tepat. Bagi Sunodyantoro, bahasa Tempo tidak pernah dirancang untuk menjadi baku dalam standar sastra, melainkan bergantung pada gaya dan karakter masing-masing jurnalis. Ia menegaskan bahwa setiap penulis Tempo memiliki warna editorial pribadi, sehingga wajar apabila kehadiran gaya sastrawi tidak selalu dominan di setiap periode penerbitannya.

Pada sesi yang sama, Rachmat Hidayat turut menyinggung bagaimana gaya menulis jurnalis besar dunia seperti Ernest Hemingway dapat menjadi rujukan bagi wartawan masa kini. Hemingway dikenal dengan gaya penulisan yang ringkas, padat, dan bertenaga, sebuah teknik yang dikenal sebagai iceberg theory. Menurut Rachmat, wartawan masa kini dapat belajar bahwa kekuatan tulisan tidak selalu terletak pada kalimat berbunga-bunga, melainkan pada presisi, kejelasan, dan kekuatan fakta. Penyebutan Hemingway membuat diskusi semakin hidup, mengingatkan para peserta bahwa jurnalisme modern terus dipengaruhi oleh gaya penulisan tokoh-tokoh besar dunia.

Diskusi semakin hangat ketika Angga Amiruddin, jurnalis Radio Rasil, mengajukan pertanyaan seputar manajemen bahasa saat siaran langsung. Menurutnya, siaran langsung menuntut spontanitas, namun tetap harus mengikuti kaidah jurnalistik. Rachmat Hidayat menjelaskan bahwa siaran langsung menuntut kemampuan memilih diksi yang cepat, tepat, dan komunikatif. Ia menambahkan bahwa penggunaan bahasa populer pun tidak masalah selama tidak melanggar prinsip dasar jurnalistik dan tetap mengutamakan keakuratan informasi.

Keterlibatan mahasiswa IPR IJA yang sedang menjalani PPL menjadi salah satu sorotan penting dalam kegiatan ini. Banyak dari mereka mengaku mendapatkan wawasan baru tentang dunia jurnalistik setelah mendengar penjelasan para praktisi. Paparan mengenai perkembangan bahasa media, perbandingan gaya penulisan jurnalis Indonesia dengan tokoh internasional seperti Hemingway, hingga pengelolaan bahasa dalam siaran, membuat mereka semakin terdorong untuk memperdalam ilmu jurnalistik selama masa PPL. Beberapa mahasiswa bahkan menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka pandangan mereka tentang jurnalistik sebagai bidang yang dinamis dan menantang.

Perwakilan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Jimmy Senduk, turut hadir dan memberikan pandangan singkat mengenai pentingnya etika dalam profesi wartawan. Ia menegaskan bahwa integritas merupakan pondasi utama yang menentukan kualitas seorang jurnalis. Menurutnya, kemampuan menulis yang baik tidak akan berarti tanpa kejujuran, ketelitian, dan komitmen terhadap kebenaran.

Menutup sesi diskusi, peserta dan narasumber sepakat bahwa menjadi wartawan handal bukanlah sesuatu yang lahir dalam semalam. Profesi ini menuntut ketekunan, latihan terus-menerus, dan pemahaman mendalam tentang bahasa. Rasil TV menyampaikan harapannya agar kegiatan ini mampu memicu semangat para mahasiswa IPR IJA untuk terus belajar, mempertajam kemampuan menulis, dan memahami dunia jurnalistik dari para praktisi secara langsung.

Zoom Meeting ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Selain memperkaya wawasan mengenai perkembangan bahasa jurnalistik, kegiatan ini juga mempertemukan mahasiswa dengan para praktisi yang memberikan gambaran nyata tentang tantangan profesi wartawan di era digital. Dengan semangat yang terbentuk, para mahasiswa IPRIJA berharap pengalaman ini menjadi bekal penting bagi perjalanan mereka setelah menyelesaikan PPL.

Webinar IPRIJA: Bekali Guru Madrasah Hadapi Peluang dan Tantangan Pendidikan Masa Depan

Memasuki era disrupsi teknologi dan perubahan sosial yang cepat, peran guru madrasah menjadi semakin strategis dalam mencetak generasi penerus bangsa yang unggul dan berkarakter. Menyikapi hal tersebut, Institut Pendidikan RI Jakarta (IPRIJA) menyelenggarakan Webinar dengan tema “Peluang dan Tantangan Guru Madrasah Songsong Masa Depan Indonesia”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Rabu, 12 Maret 2025 ini berhasil menarik minat para peserta dari kalangan mahasiswa, guru dan calon guru madrasah. Read More Webinar IPRIJA: Bekali Guru Madrasah Hadapi Peluang dan Tantangan Pendidikan Masa Depan