Ritual 12 Anggur di Pergantian Tahun 2026: Tradisi Viral dalam Tinjauan Islam dan Budaya Digital

Oleh : M. Zainul Umam, Umi Sulistyani, Husnul Khotimah, Mujiono
Pergantian tahun selalu menjadi momentum penting dalam kehidupan manusia. Ia bukan sekadar penanda perubahan kalender, tetapi juga ruang refleksi, harapan, dan evaluasi diri. Menjelang Tahun Baru 2026, media sosial global diramaikan oleh sebuah fenomena budaya yang kembali viral, yakni ritual makan 12 anggur saat detik-detik pergantian tahun. Praktik ini dipercaya oleh sebagian masyarakat dunia sebagai simbol keberuntungan, kelancaran rezeki, dan kebahagiaan selama satu tahun ke depan. Fenomena tersebut menjadi menarik untuk dikaji, terutama ketika dilihat dari perspektif budaya digital dan pandangan Islam.
Asal-Usul Ritual 12 Anggur
Ritual 12 anggur bukanlah tradisi baru. Ia berasal dari Spanyol dan dikenal dengan istilah Las Doce Uvas de la Suerte atau “dua belas anggur keberuntungan”. Tradisi ini telah dilakukan sejak awal abad ke-20. Dalam praktiknya, seseorang memakan satu butir anggur setiap kali lonceng jam berbunyi pada detik-detik terakhir pergantian tahun. Setiap butir anggur melambangkan satu bulan dalam setahun, yang diharapkan membawa keberuntungan dan kebaikan.
Seiring perkembangan zaman, tradisi ini menyebar ke berbagai negara Eropa dan Amerika Latin. Namun, lonjakan popularitasnya secara global terjadi ketika media sosial mengambil peran besar dalam mendistribusikan budaya. TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi medium utama yang mengubah ritual lokal menjadi fenomena internasional.
Ritual 12 Anggur dalam Budaya Digital
Di era budaya digital, tradisi tidak lagi dibatasi oleh ruang dan wilayah. Media sosial telah menjadi ruang baru tempat lahirnya makna, simbol, dan praktik budaya. Ritual 12 anggur mengalami transformasi makna: dari tradisi lokal menjadi konten global. Para kreator konten mengemas ritual ini dengan narasi visual yang menarik, musik emosional, serta pesan afirmasi positif seperti manifestation, positive vibes, dan new year goals.
Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya digital bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga arena pembentukan identitas dan harapan. Generasi muda, khususnya, memaknai ritual ini sebagai simbol optimisme, resolusi hidup, dan penguatan mental. Dalam konteks ini, ritual 12 anggur sering diposisikan bukan sebagai keyakinan religius, melainkan sebagai simbol motivasi personal.
Namun demikian, budaya digital juga memiliki kecenderungan untuk menyederhanakan makna. Simbol-simbol budaya sering kali dilepaskan dari konteks sejarah dan nilai asalnya. Ritual 12 anggur yang awalnya memiliki latar budaya tertentu kini hadir dalam berbagai tafsir, bahkan terkadang bercampur dengan keyakinan spiritual baru yang tidak memiliki dasar yang jelas.

Perspektif Islam terhadap Ritual dan Tradisi
Islam sebagai agama yang sempurna memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi tradisi dan budaya. Dalam kaidah ushul fiqh dikenal prinsip al-‘adah muhakkamah (adat atau kebiasaan dapat dijadikan pertimbangan hukum), selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariat Islam. Artinya, tidak semua tradisi otomatis ditolak, tetapi perlu dikaji substansi dan maknanya.
Dalam konteks ritual 12 anggur, persoalan utama bukan pada aktivitas makan buahnya, melainkan keyakinan yang menyertainya. Jika ritual tersebut diyakini sebagai penentu keberuntungan, keselamatan, atau rezeki, maka hal ini berpotensi bertentangan dengan prinsip tauhid. Islam menegaskan bahwa hanya Allah SWT yang memiliki kuasa mutlak atas takdir dan rezeki manusia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada satu pun musibah atau kebaikan yang terjadi kecuali atas izin-Nya. Keyakinan bahwa suatu benda, ritual, atau simbol tertentu dapat menentukan nasib secara independen termasuk dalam bentuk tathayyur (anggapan sial atau keberuntungan dari sesuatu), yang dalam Islam perlu dihindari.
Namun, apabila ritual tersebut dimaknai sekadar sebagai tradisi budaya, hiburan, atau simbol refleksi diri tanpa keyakinan spiritual tertentu, maka posisinya menjadi berbeda. Di sinilah pentingnya niat dan pemahaman yang lurus.
Antara Simbol dan Keyakinan
Islam sangat menekankan pentingnya niat (innamal a‘malu binniyat). Aktivitas yang sama dapat bernilai ibadah atau sebaliknya, tergantung pada niat dan keyakinan yang mendasarinya. Ritual 12 anggur, ketika diyakini membawa keberuntungan secara otomatis, berpotensi menggeser ketergantungan manusia dari Allah kepada simbol.
Sebaliknya, Islam mengajarkan umatnya untuk menggantungkan harapan kepada Allah melalui doa, ikhtiar, dan tawakal. Pergantian tahun dalam Islam tidak dirayakan dengan ritual khusus, tetapi dimaknai sebagai momentum muhasabah (evaluasi diri). Umar bin Khattab pernah menegaskan pentingnya menghitung diri sendiri sebelum dihitung oleh Allah.
Dalam tradisi Islam, pergantian waktu seharusnya diisi dengan refleksi iman, perbaikan akhlak, dan peningkatan amal saleh. Inilah pembeda mendasar antara simbolisme budaya populer dan spiritualitas Islam.

Literasi Digital dan Tantangan Umat
Viralnya ritual 12 anggur juga menjadi pengingat akan pentingnya literasi digital, khususnya bagi umat Islam. Tidak semua tren yang populer sesuai dengan nilai keislaman. Media sosial sering kali membungkus praktik budaya dengan narasi emosional yang menarik, tetapi minim konteks.
Umat Islam dituntut untuk bersikap kritis, selektif, dan berimbang. Menolak secara total tanpa pemahaman juga bukan solusi, sebagaimana menerima tanpa kritik dapat berisiko terhadap akidah. Sikap wasathiyah (moderat) menjadi kunci dalam menyikapi fenomena budaya digital.
Lembaga pendidikan Islam, kampus, dan media akademik memiliki peran strategis dalam memberikan pemahaman yang jernih. Diskursus tentang budaya populer perlu dihadirkan dengan pendekatan edukatif, bukan menghakimi. Dengan demikian, generasi muda dapat memahami batas antara tradisi, hiburan, dan keyakinan.
Tahun Baru dalam Perspektif Islam
Islam tidak mengenal perayaan tahun baru sebagaimana tradisi modern. Namun, Islam sangat menghargai waktu. Allah bersumpah atas waktu dalam banyak ayat Al-Qur’an, seperti wal-‘ashr dan wal-fajr. Ini menunjukkan bahwa waktu memiliki nilai spiritual yang tinggi.
Pergantian tahun, termasuk tahun Masehi, dapat dijadikan momentum evaluasi diri. Sejauh mana kualitas iman meningkat, amal bertambah, dan akhlak membaik. Resolusi terbaik dalam Islam bukan sekadar target duniawi, tetapi juga komitmen untuk menjadi hamba yang lebih taat dan bermanfaat.
Daripada menggantungkan harapan pada simbol ritual, Islam mengajarkan doa yang tulus, ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta tawakal kepada Allah. Inilah fondasi keberuntungan sejati dalam pandangan Islam.

Ritual 12 anggur di pergantian Tahun Baru 2026 adalah contoh nyata bagaimana tradisi lokal dapat berubah menjadi fenomena global melalui budaya digital. Ia merepresentasikan kebutuhan manusia akan harapan, optimisme, dan rasa kendali di tengah ketidakpastian zaman.
Dalam perspektif Islam, fenomena ini perlu disikapi dengan bijak dan proporsional. Bukan semata-mata ditolak atau diikuti, tetapi dipahami secara kritis. Islam mengajarkan bahwa keberuntungan sejati tidak datang dari ritual simbolik, melainkan dari iman, amal saleh, dan ketergantungan penuh kepada Allah SWT.
Budaya boleh berubah, tren boleh berganti, tetapi prinsip tauhid tetap menjadi kompas utama bagi umat Islam. Pergantian tahun seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, memperbaiki diri, dan meneguhkan niat untuk hidup lebih bermakna. Dengan demikian, umat Islam dapat hadir secara aktif dan cerdas di tengah arus budaya digital global, tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai keislaman.

Menutup Tahun 2025, Membaca Arah Pendidikan Indonesia: Refleksi Kritis dari PGMI

Jakarta, 31 Desember 2025. Menjelang pergantian tahun, dunia pendidikan Indonesia kembali dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: sejauh mana perjalanan pendidikan telah membawa perubahan yang bermakna, dan ke arah mana langkah berikutnya harus diarahkan. Refleksi inilah yang menjadi ruh utama dalam podcast refleksi akhir tahun yang menghadirkan Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Bapak M. Zainul Umam, M.Pd.I, dengan moderator Ibu Umi Sulistyani, M.Pd.

Podcast yang diselenggarakan pada 31 Desember 2025 ini menjadi ruang dialog akademik sekaligus reflektif, tidak hanya untuk sivitas akademika PGMI, tetapi juga bagi para pemerhati pendidikan dasar di Indonesia. Dalam suasana akhir tahun yang sarat evaluasi, diskusi berlangsung hangat, mendalam, dan menyentuh persoalan-persoalan esensial pendidikan nasional.

Pendidikan Indonesia dalam Fase Transisi

Mengawali diskusi, moderator mengajak narasumber untuk merefleksikan kondisi umum pendidikan Indonesia sepanjang tahun 2025, khususnya pada pendidikan dasar dan PGMI. Menurut M. Zainul Umam, pendidikan Indonesia saat ini berada dalam fase transisi yang sangat dinamis.

Ia menegaskan bahwa di satu sisi, terdapat sejumlah kemajuan yang patut diapresiasi. Digitalisasi pembelajaran semakin masif, kesadaran akan pentingnya literasi dan numerasi kian menguat, serta upaya penguatan kurikulum terus dilakukan oleh berbagai pemangku kebijakan. Transformasi ini menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia tidak diam, melainkan terus bergerak mengikuti tuntutan zaman.

Namun demikian, di balik capaian tersebut, tantangan mendasar masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah, beban administratif yang tinggi bagi guru, serta kesiapan sumber daya manusia yang belum merata menjadi catatan penting. Dalam konteks PGMI, tantangan utama adalah menyiapkan calon guru madrasah ibtidaiyah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, spiritualitas, dan karakter yang kuat.

“Guru PGMI ke depan tidak cukup hanya pintar mengajar, tetapi juga harus mampu membaca realitas sosial peserta didik dan lingkungannya,” ungkapnya.

Evaluasi Kebijakan: Dari Konsep ke Implementasi

Diskusi kemudian berlanjut pada evaluasi kebijakan pendidikan. Moderator menanyakan kebijakan atau praktik pendidikan apa yang menurut narasumber perlu mendapat perhatian serius ke depan. Menjawab hal ini, M. Zainul Umam menekankan pentingnya mengevaluasi implementasi kebijakan di lapangan, bukan sekadar merumuskan konsep di atas kertas.

Ia menilai bahwa banyak kebijakan pendidikan yang sejatinya baik dan visioner, namun belum sepenuhnya dipahami dan dijalankan secara utuh oleh satuan pendidikan. Kesenjangan antara regulasi dan praktik sering kali melahirkan kebingungan di tingkat guru dan dosen.

Selain itu, ia menyoroti perlunya keseimbangan antara tuntutan administratif dan esensi pendidikan. Guru dan dosen, menurutnya, seharusnya lebih banyak diberi ruang untuk mendidik, membimbing, dan menginspirasi peserta didik. Ketika energi pendidik terkuras pada pelaporan dan administrasi, maka ruh pendidikan berpotensi melemah.

“Pendidikan bukan hanya soal dokumen, tetapi tentang proses memanusiakan manusia,” tegasnya.

Inovasi yang Berpihak pada Peserta Didik

Dalam sesi berikutnya, moderator mengangkat isu inovasi pendidikan yang kerap menjadi jargon dalam berbagai forum. Menurut M. Zainul Umam, inovasi sejati dalam pendidikan bukan semata-mata soal penggunaan teknologi, melainkan tentang keberpihakan pada kebutuhan peserta didik.

Ia mencontohkan pentingnya pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata siswa. Pembelajaran semacam ini tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, empati, dan kepekaan sosial.

Teknologi, lanjutnya, harus diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkuat proses belajar, bukan menggantikan peran pendidik. Dalam pendidikan dasar dan PGMI, peran guru sebagai teladan nilai dan pembimbing karakter tetap tidak tergantikan.

“Inovasi tanpa sentuhan kemanusiaan justru berpotensi menjauhkan pendidikan dari tujuan hakikinya,” ujarnya.

Dosen dan Guru sebagai Penjaga Nilai

Sebagai pimpinan program studi, M. Zainul Umam juga memberikan pandangannya tentang peran dosen dan guru di tengah perubahan kebijakan yang begitu cepat. Ia menyebut dosen dan guru sebagai penjaga nilai dan arah pendidikan.

Di tengah dinamika kebijakan, pendidik dituntut untuk adaptif dan terus belajar. Namun, adaptasi tersebut tidak boleh mengorbankan prinsip dan etika profesi. Dosen, khususnya di lingkungan PGMI, memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk cara berpikir, sikap, dan tanggung jawab moral mahasiswa sebagai calon pendidik.

Menurutnya, mahasiswa PGMI tidak hanya perlu dibekali kompetensi pedagogik, tetapi juga kesadaran bahwa profesi guru adalah amanah sosial dan moral. Keteladanan dosen dalam bersikap, berinteraksi, dan mengambil keputusan menjadi bagian penting dari proses pendidikan itu sendiri.

Pendidikan Karakter sebagai Fondasi

Isu pendidikan karakter menjadi salah satu titik tekan dalam diskusi ini. Moderator menyoroti kecenderungan dunia pendidikan yang lebih menonjolkan capaian akademik dibandingkan pembentukan karakter. Menanggapi hal tersebut, M. Zainul Umam menegaskan bahwa pendidikan karakter seharusnya menjadi fondasi utama, bukan sekadar pelengkap.

Ia mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa karakter berpotensi melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin empati dan tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran, budaya kampus, serta keteladanan pendidik.

Di lingkungan PGMI, pendidikan karakter memiliki relevansi yang sangat kuat, mengingat lulusan PGMI kelak akan berperan langsung dalam membentuk karakter generasi sejak usia dini. Nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan akhlak mulia harus ditanamkan secara konsisten.

Harapan dan Pesan Akhir Tahun

Menutup diskusi, moderator mengajak narasumber untuk menyampaikan harapan dan pesan akhir tahun bagi dunia pendidikan Indonesia. Dalam refleksi penutupnya, M. Zainul Umam menyampaikan harapan agar pendidikan Indonesia ke depan semakin humanis, adil, dan berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya.

Ia mengajak seluruh insan pendidikan untuk menjadikan refleksi akhir tahun sebagai momentum memperbaiki niat, meningkatkan kualitas diri, dan memperkuat kolaborasi. Pendidikan, menurutnya, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan sinergi antara pendidik, institusi, kebijakan, dan masyarakat.

Khusus bagi para guru, dosen, dan mahasiswa PGMI, ia berpesan agar tetap menjadi pendidik yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial. Di tengah tantangan zaman, nilai-nilai inilah yang akan menjaga marwah dan kebermaknaan pendidikan.

Refleksi untuk Melangkah ke Tahun Baru

Podcast refleksi akhir tahun ini tidak hanya menjadi ruang evaluasi, tetapi juga pengingat bahwa pendidikan adalah proses panjang yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan komitmen. Di penghujung tahun 2025, refleksi yang disampaikan oleh Ketua Prodi PGMI ini menjadi cermin sekaligus kompas bagi langkah pendidikan ke depan.

Dengan semangat reflektif dan optimisme yang realistis, dunia pendidikan Indonesia diharapkan mampu melangkah ke tahun 2026 dengan arah yang lebih jelas: membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan berkeadaban. Dari ruang podcast sederhana, pesan besar tentang masa depan pendidikan kembali ditegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah upaya memanusiakan manusia.

Reportase : Umi Sulistyani, Rifaya Meherunnisa Arisalsabila, Najla Laila Arisalsabila, M. Zainul Umam

Percepatan Karier Dosen dan Misi Kemanusiaan untuk Sumatra: Peran Akademisi Menjawab Tantangan Bangsa

Jakarta, 25 Desember 2025, Dalam upaya memperkuat peran dosen sebagai penggerak pendidikan sekaligus agen kemanusiaan, Seminar Nasional “Percepatan Karier Dosen dan Misi Kemanusiaan untuk Sumatra” sukses diselenggarakan secara daring pada Kamis pagi, 25 Desember 2025, mulai pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, khususnya wilayah Sumatra dan sekitarnya.
Seminar nasional ini tidak hanya membahas strategi pengembangan karier dosen, tetapi juga mengaitkannya dengan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan, terutama dalam merespons berbagai tantangan pendidikan dan sosial yang dihadapi masyarakat Sumatra. Hal tersebut menjadi benang merah diskusi sepanjang kegiatan berlangsung.
Acara dibuka secara resmi oleh MC Umi Sulistyani, M.Pd, yang mengantarkan suasana seminar dengan tertib dan komunikatif. Selanjutnya, forum dipandu oleh Moderator M. Zainul Umam, M.Pd.I, yang secara sistematis mengarahkan alur diskusi agar berjalan dinamis dan tetap fokus pada substansi tema.
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Hj. Husnul Khotimah, M.Pd, yang menekankan pentingnya percepatan karier dosen tidak hanya sebagai target administratif, tetapi sebagai bagian dari peningkatan kualitas pendidikan nasional. Menurutnya, dosen perlu memiliki perencanaan karier yang matang, konsisten dalam tridarma perguruan tinggi, serta mampu menempatkan pengabdian masyarakat sebagai fondasi etis dalam pengembangan profesi.
Sementara itu, Assoc. Prof. Dr. Sadari, S.HI., M.SI., mengulas strategi percepatan jabatan fungsional dosen dalam perspektif kebijakan dan etika akademik. Ia menegaskan bahwa percepatan karier harus tetap berlandaskan integritas, kualitas karya ilmiah, dan komitmen terhadap pengembangan keilmuan. “Karier dosen bukan sekadar naik pangkat, tetapi juga tentang kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa,” ujarnya.
Narasumber berikutnya, Dr. Muhamad, M.A., mengaitkan pengembangan karier dosen dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial. Ia menyoroti pentingnya dosen terlibat aktif dalam misi kemanusiaan, khususnya di wilayah-wilayah yang terdampak bencana dan ketimpangan akses pendidikan seperti di beberapa daerah Sumatra. Menurutnya, dosen memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat.
Dari sisi teknologi dan inovasi pendidikan, Wahyudi, S.Kom., M.Pd., menyampaikan materi tentang pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung percepatan karier dosen. Ia menjelaskan bahwa literasi digital, pengelolaan portofolio akademik, serta pemanfaatan platform publikasi ilmiah menjadi kunci penting di era transformasi digital. Selain itu, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pengabdian masyarakat secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Banyak peserta menyoroti tantangan dosen di daerah, keterbatasan akses publikasi, serta pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam misi kemanusiaan. Moderator berhasil merangkum diskusi dengan menegaskan bahwa percepatan karier dosen harus berjalan seiring dengan penguatan nilai empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
Seminar nasional ini menjadi ruang refleksi bersama bahwa dosen bukan hanya aktor akademik di ruang kelas dan jurnal ilmiah, tetapi juga pelaku perubahan sosial. Keterlibatan dosen dalam misi kemanusiaan untuk Sumatra dipandang sebagai bentuk nyata implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif tentang pengembangan karier dosen yang berorientasi pada kualitas, integritas, dan kemanusiaan. Seminar ini sekaligus menegaskan komitmen institusi pendidikan tinggi dalam mencetak dosen yang profesional, berdaya saing, dan peka terhadap persoalan sosial.
Dengan terselenggaranya seminar nasional ini, diharapkan lahir sinergi yang lebih kuat antar-akademisi dalam mempercepat karier dosen sekaligus memperluas kontribusi nyata bagi masyarakat Sumatra dan Indonesia secara umum.

Reportase : M. Zainul Umam, Umi Sulistyani

Revitalisasi Pendidikan Karakter Islami untuk Generasi Emas

Mengintegrasikan Empat Sifat Profetik Rasulullah SAW sebagai Pilar Peradaban

Di tengah derasnya arus globalisasi, digitalisasi, dan krisis keteladanan, pendidikan tidak lagi cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata. Tantangan zaman menuntut hadirnya pendidikan yang mampu membentuk manusia seutuhnya cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara spiritual. Menjawab kebutuhan inilah buku Revitalisasi Pendidikan Karakter Islami untuk Generasi Emas hadir sebagai rujukan strategis bagi dunia pendidikan Islam kontemporer.

Buku ini menegaskan bahwa pendidikan karakter Islami bukan sekadar slogan normatif, melainkan sebuah sistem pembinaan yang harus dirancang secara sadar, terstruktur, dan berkelanjutan. Penulis mengajak pembaca kembali pada sumber teladan utama dalam Islam, yakni Rasulullah SAW, dengan menjadikan empat sifat profetik shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah sebagai pilar utama pembentukan karakter generasi emas Indonesia.

Keunggulan buku ini terletak pada pendekatan integratifnya. Pendidikan karakter tidak diposisikan sebagai mata pelajaran tambahan, tetapi sebagai ruh yang menjiwai seluruh proses pendidikan: mulai dari perencanaan kurikulum, strategi pembelajaran, budaya sekolah, hingga keteladanan pendidik. Dengan demikian, nilai-nilai karakter tidak berhenti pada tataran kognitif, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam sikap dan perilaku peserta didik.

Disusun dengan alur yang sistematis, buku ini menguraikan secara runtut konsep dasar pendidikan karakter Islami, urgensinya dalam konteks tantangan zaman, serta strategi revitalisasi yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Setiap pembahasan dilengkapi dengan analisis konseptual dan refleksi aplikatif, sehingga memudahkan pembaca baik akademisi, guru, mahasiswa, maupun pemerhati Pendidikan untuk memahami sekaligus menerapkannya dalam konteks nyata.

Tidak hanya bersifat teoritis, buku ini juga menawarkan kerangka praktis implementasi pendidikan karakter berbasis nilai profetik. Penulis menekankan pentingnya peran pendidik sebagai moral agent dan role model yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik dengan keteladanan. Dalam perspektif ini, sekolah dan madrasah dipandang sebagai ekosistem pembentukan karakter, bukan sekadar ruang transfer ilmu.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini relatif komunikatif, lugas, dan tetap menjaga kedalaman akademik. Hal ini menjadikan buku Revitalisasi Pendidikan Karakter Islami untuk Generasi Emas tidak hanya relevan sebagai referensi ilmiah, tetapi juga sebagai bacaan strategis yang inspiratif dan aplikatif. Buku ini cocok digunakan sebagai bahan ajar, referensi penelitian, maupun pegangan praktis bagi pendidik dan pengelola lembaga pendidikan Islam.

Diterbitkan oleh Rajawali Pers, buku ini menjadi bagian dari komitmen penerbit dalam menghadirkan karya-karya akademik yang bermutu, kontekstual, dan berdampak nyata bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Kehadiran buku ini diharapkan dapat memperkaya khazanah literatur pendidikan karakter serta menjadi kontribusi nyata dalam membangun generasi emas yang berakhlak mulia, berdaya saing, dan berperadaban.

Dengan landasan nilai profetik yang kokoh dan pendekatan pendidikan yang relevan dengan tantangan zaman, buku ini layak menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang peduli terhadap masa depan pendidikan dan karakter generasi bangsa.

#PendidikanIslam
#PendidikanKarakter
#LiterasiPendidikan
#BukuPendidikan
#ReferensiAkademik
#PendidikInspiratif

Perencanaan dan Strategi Pembelajaran: Membangun Ruang Belajar untuk Semua

Mengapa Buku ini layak di miliki ?

Buku Perencanaan dan Strategi Pembelajaran: Membangun Ruang Belajar untuk Semua bukan sekadar buku teori pendidikan, melainkan panduan praktis dan komprehensif bagi mahasiswa, calon guru, dan pendidik profesional yang ingin merancang pembelajaran secara terarah, efektif, dan relevan dengan tantangan pendidikan masa kini.

Di dalam buku ini, pembaca akan menemukan pembahasan yang disusun secara sistematis dan runtut, mulai dari landasan konseptual perencanaan pembelajaran, analisis kurikulum, perumusan tujuan, pemilihan strategi dan metode, hingga perancangan evaluasi pembelajaran. Setiap bab dirancang untuk saling terhubung, sehingga pembaca memperoleh gambaran utuh tentang bagaimana sebuah pembelajaran yang berkualitas dirancang sejak awal.

Keunggulan utama buku ini terletak pada kekuatan metodologinya yang aplikatif dan mudah diterapkan. Konsep-konsep penting tidak disajikan secara abstrak, tetapi diterjemahkan ke dalam langkah-langkah konkret yang dapat langsung digunakan dalam praktik pembelajaran. Hal ini menjadikan buku ini sangat relevan sebagai pegangan dalam perkuliahan, pelatihan guru, maupun pengembangan profesional pendidik.

Untuk memudahkan pemahaman, setiap materi disajikan secara poin per poin, ringkas, dan fokus, sehingga pembaca dapat dengan cepat menangkap inti pembahasan dan menggunakannya sebagai rujukan praktis dalam menyusun perangkat pembelajaran. Pola penyajian ini juga membuat buku mudah dipelajari secara mandiri maupun digunakan sebagai buku ajar di kelas.

Ditulis dengan bahasa yang lugas, komunikatif, dan bersahabat, buku ini praktis dan siap pakai. Materi di dalamnya dapat langsung diaplikasikan untuk menyusun RPP, modul ajar, strategi pembelajaran inklusif, serta perencanaan pembelajaran yang berorientasi pada penguatan karakter dan kebutuhan peserta didik. Buku ini sangat tepat bagi pendidik yang tidak hanya ingin mengajar, tetapi juga ingin membangun ruang belajar yang bermakna, humanis, dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan yang menyatukan teori, praktik, dan nilai, buku ini menjadi referensi penting bagi dunia pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam, sekaligus kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di berbagai satuan pendidikan.

#BukuWajibGuru
#BukuReferensi
#PendidikanBerkualitas
#BelajarSepanjangHayat
#RuangBelajarInklusif
#StrategiPembelajaran
#PerencanaanPembelajaran
#PressIPRIJA

Natal dan Toleransi: Menjaga Harmoni tanpa Mengaburkan Keyakinan

Oleh : M. Zainul Umam, Mujiono, Dicky Dwi Prakosa, Ahmad Bahruddin

Perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember merupakan momen keagamaan yang sakral bagi umat Kristiani. Di Indonesia yang dikenal sebagai bangsa majemuk, Natal tidak hanya menjadi peristiwa religius, tetapi juga ruang sosial yang menguji kedewasaan masyarakat dalam mempraktikkan toleransi beragama. Namun demikian, toleransi tidak berarti tanpa batas. Ia harus dijalankan secara proporsional, berlandaskan penghormatan terhadap keyakinan masing-masing, serta tidak mencampuradukkan ajaran agama.
Toleransi beragama di Indonesia berakar kuat pada nilai Pancasila dan konstitusi yang menjamin kebebasan setiap warga negara dalam menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya. Dalam konteks Natal, toleransi diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menjaga keamanan dan kenyamanan umat Kristiani dalam beribadah, serta menciptakan suasana sosial yang damai. Praktik seperti menjaga rumah ibadah, membantu pengamanan perayaan, dan menyampaikan ucapan selamat secara sosial menjadi contoh toleransi yang hidup di tengah masyarakat.
Namun, penting untuk dipahami bahwa toleransi memiliki batas yang jelas. Dalam perspektif keagamaan, toleransi tidak boleh melanggar prinsip akidah dan keyakinan masing-masing pemeluk agama. Menghormati perayaan agama lain tidak sama dengan ikut serta dalam ritual keagamaan yang bertentangan dengan keyakinan pribadi. Inilah batas fundamental toleransi yang harus dipahami secara bijak agar harmoni sosial tetap terjaga tanpa mengorbankan prinsip keimanan.
Natal, sebagai perayaan keagamaan umat Kristiani, hendaknya ditempatkan sebagai ruang ibadah internal yang dihormati oleh pemeluk agama lain. Kehadiran umat beragama lain dalam konteks sosial seperti menjaga keamanan atau menunjukkan simpati kemanusiaan tidak dapat disamakan dengan keterlibatan dalam ritual ibadah. Pemahaman ini penting untuk menghindari kesalahpahaman yang kerap muncul akibat kurangnya literasi keagamaan.
Di lingkungan pendidikan dan kampus, isu toleransi dan batas-batasnya menjadi semakin relevan. Perguruan tinggi merupakan ruang perjumpaan berbagai latar belakang agama dan budaya. Oleh karena itu, institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menanamkan pemahaman moderasi beragama kepada mahasiswa. Moderasi beragama mengajarkan keseimbangan: bersikap terbuka dan menghormati perbedaan, namun tetap teguh pada keyakinan sendiri.
Tantangan toleransi beragama di era digital juga tidak bisa diabaikan. Media sosial sering kali menjadi ruang penyebaran narasi ekstrem, baik yang terlalu eksklusif maupun yang terlalu permisif. Dalam konteks Natal, perdebatan tentang ucapan selamat, simbol keagamaan, dan partisipasi lintas iman kerap memicu polemik. Oleh karena itu, sikap bijak dan literasi digital menjadi kunci agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi konflik sosial.
Batas toleransi beragama juga berkaitan erat dengan etika sosial. Menghormati perayaan Natal berarti tidak mengganggu jalannya ibadah, tidak menyebarkan ujaran kebencian, serta tidak memaksakan pandangan pribadi kepada orang lain. Sebaliknya, umat Kristiani juga memiliki peran dalam menjaga sensitivitas sosial, dengan memahami keberagaman keyakinan di sekitarnya dan tidak menuntut keterlibatan religius dari pemeluk agama lain.
Dalam konteks kebangsaan, menjaga batas toleransi adalah bagian dari upaya merawat persatuan. Indonesia tidak dibangun di atas keseragaman, melainkan keberagaman yang diikat oleh kesepakatan bersama. Toleransi yang sehat adalah toleransi yang berkeadaban menghargai perbedaan, menjunjung tinggi hukum, serta menjaga ruang publik agar tetap inklusif dan damai.
Akhirnya, Natal dan toleransi beragama mengajarkan satu hal penting: hidup berdampingan secara damai membutuhkan pemahaman, kedewasaan, dan saling menghormati batas. Toleransi bukan tentang menghilangkan identitas keagamaan, melainkan tentang mengelola perbedaan dengan bijaksana. Dengan pemahaman yang tepat tentang batas-batas toleransi, masyarakat Indonesia dapat terus menjaga harmoni sosial tanpa kehilangan jati diri keagamaannya masing-masing.
Semoga perayaan Natal menjadi momentum refleksi bersama untuk memperkuat moderasi beragama, mempererat persaudaraan kebangsaan, dan merawat Indonesia sebagai rumah bersama yang damai dan berkeadilan.

#Natal

#ToleransiBeragama

#ModerasiBeragama

#KerukunanUmatBeragama

#BatasToleransi

Menutup Tahun dengan Refleksi: PGMI IPRIJA Siap Ungkap Arah Pendidikan Indonesia Lewat Podcast Spesial Akhir Tahun

Jakarta – 17 Desember 2025, menjelang akhir tahun 2025, dunia pendidikan kembali dihadapkan pada kebutuhan untuk berhenti sejenak, merenung, dan mengevaluasi arah perjalanan yang telah ditempuh. Menyikapi hal tersebut, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) akan menyelenggarakan diskusi reflektif melalui PGMI IPRIJA TV Podcast, yang mengangkat tema “Refleksi Pendidikan Akhir Tahun: Evaluasi, Inovasi, dan Arah Kebijakan Pendidikan Indonesia”.

Podcast ini akan disiarkan secara live pada Rabu, 31 Desember 2025, dan dirancang sebagai ruang dialog akademik sekaligus penutup rangkaian kegiatan PGMI IPRIJA di penghujung tahun. Melalui media digital, kegiatan ini diharapkan dapat menjangkau lebih luas kalangan akademisi, mahasiswa, praktisi pendidikan, serta masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan dan kebijakan pendidikan nasional.

PGMI IPRIJA TV Podcast kali ini akan menghadirkan M. Zainul Umam, M.Pd.I, Ketua Program Studi PGMI IPRIJA, sebagai narasumber utama. Diskusi akan dipandu oleh Umi Sulistyani, M.Pd, dosen PGMI IPRIJA, yang akan berperan sebagai moderator. Perpaduan narasumber dan moderator ini diharapkan mampu menghadirkan diskusi yang tajam, reflektif, sekaligus kontekstual dengan realitas pendidikan di Indonesia.

Dalam podcast yang akan datang ini, M. Zainul Umam dijadwalkan membahas pentingnya refleksi akhir tahun sebagai momentum strategis bagi insan pendidikan. Refleksi tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan evaluasi formal, tetapi sebagai proses kritis untuk membaca ulang kebijakan, praktik pembelajaran, serta kesiapan sumber daya manusia pendidikan dalam menghadapi tantangan masa depan. Menurutnya, pendidikan harus terus dimaknai sebagai proses pembentukan karakter, nalar kritis, dan tanggung jawab sosial peserta didik.

Podcast ini juga akan menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi pendidikan Indonesia sepanjang tahun 2025. Mulai dari percepatan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah, hingga tuntutan profesionalisme guru yang semakin kompleks. Topik-topik tersebut akan dibahas sebagai bahan evaluasi bersama, sekaligus pintu masuk untuk merumuskan inovasi pendidikan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Khusus dalam konteks pendidikan dasar dan madrasah ibtidaiyah, diskusi direncanakan akan menekankan peran strategis guru sebagai agen perubahan. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial, kemampuan pedagogik yang adaptif, serta keteladanan akhlak. Melalui podcast ini, PGMI IPRIJA ingin menegaskan komitmennya dalam menyiapkan calon guru madrasah ibtidaiyah yang unggul secara akademik dan kuat dalam nilai-nilai keislaman.

Sebagai moderator, Umi Sulistyani, M.Pd akan mengarahkan diskusi agar tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi juga menyentuh realitas implementasi kebijakan pendidikan di lapangan. Isu kesenjangan antara kebijakan pusat dan kebutuhan nyata satuan pendidikan diproyeksikan menjadi salah satu fokus diskusi. Dengan pendekatan dialogis, podcast ini diharapkan mampu menghadirkan sudut pandang yang relevan dengan pengalaman guru dan lembaga pendidikan.

Selain itu, podcast ini juga akan mengangkat pentingnya menjadikan refleksi sebagai budaya akademik yang berkelanjutan. Refleksi akhir tahun diharapkan tidak berhenti pada wacana, tetapi melahirkan rekomendasi dan langkah tindak lanjut yang dapat diterapkan oleh institusi pendidikan tinggi, dosen, maupun mahasiswa sebagai calon pendidik.

Melalui PGMI IPRIJA TV, program studi PGMI terus berupaya memanfaatkan media digital sebagai ruang intelektual yang produktif. Podcast ini bukan hanya menjadi sarana berbagi informasi, tetapi juga media untuk membangun tradisi berpikir kritis, dialog ilmiah, dan kesadaran kolektif tentang masa depan pendidikan Indonesia.

Dengan terselenggaranya PGMI IPRIJA TV Podcast ini, PGMI IPRIJA mengajak seluruh insan pendidikan untuk bersama-sama menutup tahun dengan refleksi yang jujur dan membuka tahun baru dengan semangat perbaikan. Pendidikan adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi, kolaborasi, dan inovasi berkelanjutan. Melalui diskusi ini, diharapkan lahir gagasan dan semangat baru untuk membangun pendidikan Indonesia yang lebih bermutu dan berkarakter.

PGMI IPRIJA Akan Gelar Seminar Nasional “Rahasia Percepatan Karir Dosen & Misi Kemanusiaan untuk Sumatra”

Jakarta, 10 Desember 2025 – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) kembali akan menyelenggarakan kegiatan akademik berskala nasional berupa Seminar Nasional bertajuk “Rahasia Percepatan Karir Dosen & Misi Kemanusiaan untuk Sumatra.” Kegiatan ini dijadwalkan akan dilaksanakan pada Kamis, 25 Desember 2025, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui PGMI IPRIJA TV.

Seminar nasional ini terbuka untuk umum dan gratis, sehingga dapat diikuti oleh dosen, mahasiswa, praktisi pendidikan, serta masyarakat luas yang memiliki perhatian terhadap pengembangan karir dosen dan isu-isu kemanusiaan, khususnya di wilayah Sumatra. Melalui kegiatan ini, PGMI IPRIJA berupaya menghadirkan ruang diskusi ilmiah yang tidak hanya berorientasi pada penguatan karir akademik, tetapi juga pada kepedulian sosial dan kemanusiaan sebagai wujud implementasi tridharma perguruan tinggi.

Kegiatan ini akan menghadirkan sejumlah pimpinan dan narasumber dari lingkungan IPRIJA yang memiliki kompetensi di bidangnya. Di antaranya Drs. Mujiono, MA selaku Rektor IPRIJA, Assoc. Prof. Dr. Hj. Husnul Khotimah, M.Pd selaku Wakil Rektor I IPRIJA, serta Assoc. Prof. Dr. Sadari, S.H.I., M.S.I selaku Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM). Selain itu, turut menjadi pemateri Wahyudi, S.Kom., M.Pd selaku Kepala Biro ITE dan Dr. Muhamad, MA selaku Kepala LP2M. Sementara itu, Umi Sulistyani, M.Pd (Dosen PGMI) dan M. Zainul Umam, M.Pd.I (Ketua Prodi PGMI) akan bertugas sebagai MC dan moderator yang mengomandoi jalannya seminar.

Ketua Prodi PGMI IPRIJA, M. Zainul Umam, M.Pd.I, menyampaikan bahwa seminar ini dirancang sebagai wadah berbagi pengalaman, strategi, dan informasi penting terkait percepatan karir dosen, khususnya dalam hal pengusulan jabatan fungsional. Menurutnya, masih banyak dosen yang mengalami kendala dalam pengurusan jabatan akademik karena kurangnya informasi teknis, pemahaman regulasi, serta pendampingan yang berkelanjutan.
“Melalui seminar ini, kami ingin membantu para dosen agar lebih siap baik secara administrasi, akademik, maupun mental dalam menapaki jenjang karirnya. Harapannya, semakin banyak dosen yang termotivasi untuk mengurus dan mempercepat jabatan fungsionalnya,” ujarnya.

Sementara itu, dari sisi kebijakan institusi, Rektor IPRIJA Drs. Mujiono, MA menegaskan bahwa peningkatan karir dosen merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peningkatan mutu perguruan tinggi. Ia menilai bahwa dosen yang berkembang secara akademik akan berdampak langsung pada kualitas pembelajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, pihak rektorat mendukung penuh pelaksanaan seminar nasional ini sebagai bagian dari agenda strategis penguatan sumber daya manusia di lingkungan IPRIJA.
“Seminar ini menjadi langkah konkret dalam membangun dosen yang profesional, kompeten, dan berdaya saing,” tegasnya.

Selain fokus pada percepatan karir dosen, seminar ini juga mengangkat tema besar “Misi Kemanusiaan untuk Sumatra.” Tema ini dipilih sebagai bentuk kepedulian sosial sivitas akademika IPRIJA terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang masih terjadi di wilayah Sumatra, baik akibat bencana alam, persoalan pendidikan, maupun masalah sosial lainnya.
Dr. Muhamad, MA selaku Kepala LP2M menjelaskan bahwa kegiatan akademik idealnya selalu terhubung dengan realitas sosial masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi harus hadir tidak hanya dalam ruang kelas dan jurnal ilmiah, tetapi juga di tengah-tengah persoalan umat. Ia berharap seminar ini dapat menumbuhkan kesadaran kolektif dosen dan mahasiswa untuk turut berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan melalui program pengabdian kepada masyarakat.

Dari aspek mutu dan sistem akademik, Assoc. Prof. Dr. Sadari, S.H.I., M.S.I selaku Kepala LPM akan memaparkan strategi sistematis percepatan jabatan fungsional dosen sesuai dengan regulasi yang berlaku. Materi yang akan disampaikan mencakup pemetaan angka kredit, publikasi ilmiah pada jurnal terindeks, pengelolaan Beban Kerja Dosen (BKD), serta optimalisasi kinerja tridharma perguruan tinggi. Pemateri juga akan mengulas berbagai kendala yang sering dihadapi dosen dalam pengusulan jabatan fungsional beserta solusi praktisnya.

Sementara itu, Wahyudi, S.Kom., M.Pd selaku Kepala Biro ITE akan menyoroti pentingnya digitalisasi dalam menunjang karir dosen. Ia akan membahas pemanfaatan teknologi informasi mulai dari pengelolaan data kepegawaian, sistem informasi akademik, publikasi daring, hingga pemanfaatan platform digital untuk mendukung produktivitas dosen di bidang penelitian dan pengabdian. Sedangkan Umi Sulistyani, M.Pd akan memoderatori jalannya diskusi antara pemateri dan peserta agar berlangsung interaktif dan dinamis.

Panitia seminar juga menyiapkan berbagai fasilitas bagi peserta, antara lain e-sertifikat, modul materi, perluasan relasi akademik, serta tambahan wawasan dan pengetahuan baru. Pendaftaran peserta dilakukan secara daring melalui tautan yang telah disediakan oleh panitia dan dapat diakses oleh seluruh calon peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Melalui pelaksanaan seminar nasional ini, PGMI IPRIJA berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan karir dosen di Indonesia sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya misi kemanusiaan sebagai bagian dari tanggung jawab akademisi. Kegiatan ini menjadi wujud komitmen IPRIJA dalam menghadirkan program-program akademik yang relevan, bermutu, dan berdampak luas bagi masyarakat.

Reportase: M. Zainul Umam

Jejak Sunyi di Papan Tulis dan Tanah Bencana

Puisi oleh : M. Zainul Umam, Nur Aisyah Ramdhania, Suhirmanto

Di ruang sunyi bernama kelas,
kau menulis masa depan dengan kapur yang rapuh
setiap debu yang jatuh adalah doa
agar bangsa ini tak kehilangan arah.

Langkahmu tak selalu tersorot cahaya.
Sertifikasimu lahir dari kesabaran panjang,
karirmu ditempa oleh malam-malam tanpa tepuk tangan
hanya iman dan kesetiaan pada ilmu yang kau genggam.

Engkau naik bukan lewat sorak,
melainkan melalui tangga pengabdian yang terjal
dari asisten yang belajar menahan lelah,
hingga guru bangsa yang memikul peradaban.

Namun hari ini kau bukan hanya berdiri di mimbar;
kau juga berdiri bersama tanah yang retak oleh duka.
Sumatra memanggil dengan getir gemetar,
dan nuranimu menjawab tanpa banyak tanya.

Di antara puing dan doa yang tercecer,
kau ajarkan arti harapan tanpa spidol dan layar
kuliah hari ini adalah tentang merawat sesama,
tentang tangan yang menguatkan, tentang hati yang berbagi.

Dari jauh di Jakarta, buku-buku kita menjelma selimut dan bantuan yang dikirimkan
ruang kelas kita berubah menjadi kepedulian yang menembus ribuan kilometer
dan setiap langkah kecil di medan bencana
adalah SK kemanusiaan yang ditandatangani langit.

Wahai dosen, pejuang sunyi peradaban,
karirmu menanjak menapaki tangga dunia,
namun kemuliaanmu tumbuh di jalan pengorbanan
di antara mengajar, mengabdi, dan menyelamatkan kehidupan.

Jika suatu hari namamu hanya tercatat di arsip negara
dan tak lagi di spanduk acara,
ketahuilah namamu telah abadi
di dada mahasiswa, dan di doa Sumatra yang kau kuatkan.

#Puisi

#Pengabdian

#Kepedulian

#Kemanusiaan