QURANIC READING: An English Reading Comprehension for Islamic Students
QURANIC READING: An English Reading Comprehension for Islamic Students

Sinopsis

Buku ini menyediakan kurikulum terpadu bagi mahasiswa kajian Islam untuk mengembangkan kemahiran membaca teks-teks keagamaan berbahasa Inggris secara mandiri. Dirancang dalam 14 unit untuk satu semester, materi ini berfokus pada penguasaan teknik membaca akademik—seperti previewing, inferencing, dan summarizing—melalui materi otentik dari karya tafsir kontemporer. Tujuannya adalah menciptakan kemandirian akademik, sehingga mahasiswa dapat secara kritis mengolah sumber-sumber primer dan sekunder dalam bahasa Inggris untuk mendukung studi dan penelitian mereka.

This module provides an integrated curriculum designed to develop proficiency in reading English-language religious texts for students of Islamic studies through self-directed learning. Comprising 14 units for a single semester, the material focuses on mastering academic reading techniques—such as previewing, inferencing, and summarizing—using authentic sources drawn from contemporary works of tafsir. Its ultimate aim is to foster academic autonomy, enabling students to critically engage with primary and secondary sources in English to effectively support their studies and research.

Cover Buku Quranic Reading
Terbaru

Informasi Buku

Penulis Dr. Muhamad, MA
Editor Najma F.A
Ukuran 14 x 21 cm
Halaman 252 halaman
ISBN Dalam proses
Berat 200g
Harga Rp. 55.000 Rp. 50.000 -9%

Keunggulan Buku

Kurikulum Terpadu

Dirancang khusus untuk satu semester dengan 14 unit yang komprehensif

Bahasa Inggris Akademik

Fokus pada teknik membaca akademik untuk teks keagamaan berbahasa Inggris

Pembelajaran Mandiri

Mendorong kemandirian akademik mahasiswa dalam mengolah sumber primer

Kunci Jawaban

Tersedia kunci jawaban khusus bagi instruktur/dosen pengampu untuk seluruh soal latihan

Testimoni

“Buku ini menjadi referensi penting dalam pengajaran bahasa Inggris untuk kajian Islam. Pendekatan yang sistematis dan materi yang relevan membuat mahasiswa mampu menguasai teknik membaca akademik dengan efektif.”

– Dr. Ahmad Andriawan, Dosen Bahasa Inggris PTKI

Dapatkan Buku Ini

Miliki sekarang juga dengan harga spesial Rp. 50.000 untuk meningkatkan kemahiran membaca teks keagamaan berbahasa Inggris Anda

Pesan Buku

Bagikan info ini:

Hari Ibu: Merawat Ingatan, Menguatkan Peran Perempuan dalam Peradaban

Oleh : M. Zainul Umam, Husnul Khotimah, Umi Sulistyani

Setiap tanggal 22 Desember, bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu sebagai momentum refleksi atas peran penting perempuan khususnya ibu dalam membangun keluarga, masyarakat, dan bangsa. Hari Ibu bukan sekadar perayaan simbolik dengan bunga atau ucapan manis, melainkan ruang untuk mengenang perjuangan, pengorbanan, serta kontribusi nyata perempuan dalam sejarah dan kehidupan sehari-hari.
Secara historis, Hari Ibu di Indonesia berakar dari Kongres Perempuan Indonesia pertama yang diselenggarakan pada 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres tersebut menjadi tonggak persatuan gerakan perempuan Indonesia dalam memperjuangkan hak, pendidikan, dan peran sosial perempuan di tengah perjuangan kemerdekaan. Oleh karena itu, Hari Ibu di Indonesia memiliki makna yang lebih luas dibandingkan peringatan serupa di negara lain, ia adalah hari kesadaran, perjuangan, dan pemberdayaan perempuan.
Dalam konteks keluarga, ibu sering disebut sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dari ibu, seorang anak pertama kali belajar tentang nilai kehidupan: kejujuran, kasih sayang, kesabaran, dan tanggung jawab. Ibu bukan hanya sosok yang melahirkan, tetapi juga mendidik, merawat, dan membentuk karakter generasi masa depan. Peran ini kerap dijalani dengan penuh pengorbanan, bahkan tanpa pengakuan atau balasan yang setimpal.
Namun, peran ibu di era modern tidak lagi terbatas pada ranah domestik. Banyak ibu yang juga berperan sebagai pendidik, pekerja profesional, pemimpin komunitas, hingga penggerak perubahan sosial. Mereka menjalani peran ganda bahkan sering kali peran berlapis dengan keteguhan dan ketulusan. Tantangan yang dihadapi pun semakin kompleks, mulai dari tuntutan ekonomi, perkembangan teknologi, hingga dinamika sosial yang terus berubah.
Peringatan Hari Ibu menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan belum sepenuhnya usai. Masih terdapat berbagai persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama, seperti akses pendidikan yang setara, perlindungan terhadap kekerasan, kesehatan ibu dan anak, serta penghargaan terhadap kerja-kerja perawatan (care work) yang selama ini kerap tidak terlihat. Menghormati ibu berarti juga memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh perempuan.
Dalam perspektif pendidikan, peran ibu sangat strategis dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan sejak dini. Ibu memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan anak, sehingga mampu menjadi agen pembentukan karakter yang efektif. Di sinilah pentingnya dukungan negara dan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas perempuan melalui pendidikan, literasi, dan pemberdayaan ekonomi.
Hari Ibu juga menjadi momentum untuk merefleksikan relasi dalam keluarga. Apresiasi terhadap ibu tidak seharusnya berhenti pada satu hari dalam setahun, tetapi diwujudkan dalam sikap saling menghargai, berbagi peran, dan membangun komunikasi yang sehat di dalam rumah tangga. Keterlibatan ayah dan anggota keluarga lain dalam tugas pengasuhan adalah bentuk nyata penghormatan terhadap peran ibu.
Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, tantangan ibu semakin beragam. Ibu dituntut untuk adaptif terhadap perubahan, sekaligus tetap menjadi penjaga nilai dan moral keluarga. Oleh karena itu, ibu juga membutuhkan ruang untuk bertumbuh, didukung secara psikologis, sosial, dan struktural agar mampu menjalankan perannya secara optimal.
Akhirnya, Hari Ibu adalah tentang merawat ingatan kolektif kita terhadap perjuangan perempuan, sekaligus meneguhkan komitmen untuk terus menguatkan peran ibu dalam peradaban. Menghormati ibu berarti menghargai kehidupan, menumbuhkan kasih sayang, dan membangun masa depan yang lebih adil dan manusiawi.
Selamat Hari Ibu. Terima kasih atas cinta yang tak pernah selesai, doa yang tak pernah putus, dan perjuangan yang sering kali tak terlihat, namun selalu terasa.

#HariIbu #PeranIbu #PerempuanBerdaya #IbuInspirasi #KasihIbu #PerempuanIndonesia #KeluargaBerkarakter #CintaTakBersyarat

🛑 PRAY FOR SUMATRA 🛑

Segenap Civitas Akademik Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) menyampaikan dukacita yang mendalam atas musibah banjir dan tanah longsor yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara .

Mari ringankan beban mereka dengan infak terbaik melalui:


BANK BRI
7197-01-002205-53-1

a.n Institut Pembina Rohani Islam Jakarta

📌 Tambahkan kode 002 pada akhir nominal (contoh: Rp 100.002)

INFORMASI & KONFIRMASI:
0882-9404-1119

#iprija_peduli
#kampusiprija #donasi
#PrayForSumatra #SolidaritasUntukSumatra

IPRIJA membuka wawasan, membina rohani, membangun negeri.

Menunggu Semester 8: Gerbang Terakhir di Kampus

Oleh: Fauqa Mty – Mahasiswa Semester 7

Ada seorang mahasiswa yang kini duduk di ambang semester 8, bernama Sabrang. Hidupnya selama bertahun-tahun di kampus bagaikan perjalanan panjang dalam serial drama: penuh kejutan, kadang kocak, kadang melelahkan, tapi selalu membuat penasaran apa yang terjadi di episode berikutnya.

Masa Awal Perkuliahan: Manis, Polos, dan Disesatkan Senior

Ketika pertama kali masuk, Sabrang adalah makhluk polos—masih lembut, belum tergores tugas, dan belum mengenal revisi bab 2 yang menyakitkan itu. Orientasi adalah gerbang pertama yang ia lewati. Senior-senior tampil dengan wibawa palsu dan selera humor yang meragukan. Ada yang bilang:

“Kalau mau cepat lulus, jangan pernah menatap mata patung rektor. Pamali.”

Atau: “Kalau dapat dosen killer, cukup tersenyum. Walau nilai tetap C.”

Dan seperti kebanyakan mahasiswa baru, Sabrang percaya semua itu.

Masa semester awal terasa manis, walaupun diselipkan kenakalan senior yang kadang membuat jengkel tapi lucu untuk dikenang. Kampus terasa seperti dunia baru yang menjanjikan… sampai tugas datang.

Tugas Mendadak: Kejutan yang Jadi Rutinitas

Setelah jam kuliah berjalan normal, kehidupan Sabrang berubah drastis. Tugas datang bertubi-tubi. Dosen mengakhiri materi dengan kalimat:

“Minggu depan kita presentasi kelompok, ya.”

Tapi yang dimaksud minggu depan biasanya tidak sampai satu minggu. Dua hari kemudian, Sabrang sudah berdiri di depan kelas dengan slide yang dibuat terburu-buru. Begitulah ritme perkuliahan: dosen bicara santai, mahasiswa panik.

Tugas makalah, jurnal, esai, sampai analisis film yang bahkan tidak tersedia di platform legal—semua menghiasi perjalanan Sabrang. Ia sering merasa sedang mengikuti lomba lari yang track-nya berubah setiap jam.

Hampir Menyerah, Tapi Ingat Orang Tua

Di semester-semester selanjutnya, ada titik di mana Sabrang hampir menyerah. Deadline bertebaran seperti undangan kondangan. Tiga mata kuliah menuntut laporan pada hari yang sama. Sabrang sempat membayangkan hidup sebagai penjaga warkop saja mungkin lebih damai.

Namun setiap kali melihat foto orang tuanya, semangatnya kembali menyala.

Ibunya pernah berkata, “Nak, selesaikan kuliahmu. Ilmu itu bekal hidup.”

Kalimat sederhana itu menjadi jangkar yang menahan Sabrang dari niat dropout halus.

Organisasi Kampus: Minat Ada, Nyali Tidak

Suatu masa, Sabrang tergoda masuk organisasi kemahasiswaan. Ia melihat senior rapat dengan gaya seperti anggota kabinet. Namun setelah melihat jadwal rapat yang mencurigakan intensitasnya, minatnya langsung surut.

Rapat internal, rapat evaluasi, rapat rencana rapat, dan rapat tindak lanjut rapat.

Sabrang berpikir: “Saya ini mau kuliah atau mau jual waktu?”

Akhirnya, ia menjadi mahasiswa yang hampir masuk organisasi—nyaris berkomitmen—lalu menghilang seperti angin. Keputusan itu cukup membahagiakan hatinya.

Tugas Legendaris: Badal Khatib Jumat di Pinang Ranti

Di antara semua tugas unik yang Sabrang terima, ada satu yang paling epik: menjadi badal khatib Jumat. Bukan di kampus. Bukan juga simulasi. Tapi di Masjid Pinang Ranti, dekat rumah sang dosen.

Dosen yang biasanya tegas itu mendadak harus keluar kota. Maka dengan ringan dia berkata:

“Sabrang, kamu jadi badal khatib ya. Masjidnya dekat rumah saya di Pinang Ranti. Jamaahnya cukup banyak. Bawa teks saja.”

Sabrang nyaris jatuh dari kursi.

Hari Jumat itu, ia berdiri di mimbar masjid dengan tangan dingin. Jamaah menatap serius. Bapak-bapak saf depan seperti ingin menguji apakah khutbahnya layak tayang di televisi. Tapi Sabrang tetap maju. Selesai khutbah, ia turun dengan napas lepas dan satu kesimpulan penting:

“Tugas kuliah ini seharusnya dapat nilai A plus plus.” Sejak saat itu, ia punya cerita legendaris di kampus: mahasiswa yang turun panggung bukan dari seminar kelas, tapi dari mimbar masjid.

Semakin Banyak Belajar, Semakin Banyak Tidak Tahu

Seiring semester berganti, Sabrang merasakan paradoks besar: semakin banyak ilmu yang ia pelajari, semakin sering ia merasa bodoh. Setiap memahami teori baru, muncul tiga teori lain yang tidak ia pahami. Setiap mengerti satu konsep, muncul lima pertanyaan lain yang tidak punya jawaban. Ia akhirnya menyimpulkan: “Kampus adalah tempat di mana kebingungan dianggap proses belajar.” Dan memang benar. Ilmu itu luas. Kepala mahasiswa itu sempit. Maka ketidaktahuan adalah perjalanan, bukan kegagalan.

Para Dosen: Antara Malaikat dan Monster Jam Akademik

Dalam kisah Sabrang, dosen-dosen hadir sebagai tokoh yang sangat berpengaruh. Ada dosen yang luar biasa disiplin, datang lebih cepat dari mahasiswa, menjelaskan materi dengan jelas, memberi nilai adil, dan membuat mahasiswa percaya bahwa pendidikan masih punya harapan. Sabrang sangat menghargai mereka.

Lalu ada dosen killer: tegas, suaranya menggetarkan, dan nilainya bikin jantung mahasiswa berdetak seperti speaker masjid saat takbir. Ada pula dosen molor, yang datang terlambat 35 menit lalu berkata, “Waktu kita sedikit, jadi langsung quiz ya.”

Jenis dosen seperti ini membuat mahasiswa mempertanyakan banyak hal dalam hidup. Tapi apa pun gaya mereka, Sabrang tetap hormat. Karena tanpa mereka, perjalanan akademis hanyalah lorong kosong tanpa cahaya.

Semester 8: Gerbang Terakhir

Kini Sabrang berdiri di pintu semester 8. Perasaan campur aduk: senang, gugup, bangga, dan takut. Di depannya ada skripsi, bimbingan, revisi, sidang, dan segala drama akademik yang siap menunggu. Namun di balik itu ada akhir yang indah: wisuda, toga, dan pelukan orang tua. Perjalanan panjang ini membuatnya sadar bahwa kampus bukan sekadar tempat belajar. Kampus adalah tempat manusia dibentuk: logikanya, mentalnya, humornya, dan kekuatan bertahannya. Karena tanpa humor, tak ada mahasiswa yang selamat sampai semester 8.

GlosSarium
  • Badal khatib – khatib pengganti; tugas yang mendadak namun penuh keberkahan (atau kepanikan).
  • Dosen killer – dosen yang membuat mahasiswa mendadak rajin belajar atau rajin pasrah.
  • Rapat organisasi – ritual panjang yang menguji kesabaran mahasiswa.
  • Deadline – jam kematian kreativitas yang memaksa mahasiswa berpikir cepat.
  • Molor waktu – kebiasaan dosen tertentu datang terlambat tapi tetap mengambil waktu dosen berikutnya.
  • Semester 8 – gerbang final, antara kemerdekaan dan ketakutan.