Jejak Sunyi di Papan Tulis dan Tanah Bencana
Puisi oleh : M. Zainul Umam, Nur Aisyah Ramdhania, Suhirmanto
Di ruang sunyi bernama kelas,
kau menulis masa depan dengan kapur yang rapuh
setiap debu yang jatuh adalah doa
agar bangsa ini tak kehilangan arah.
Langkahmu tak selalu tersorot cahaya.
Sertifikasimu lahir dari kesabaran panjang,
karirmu ditempa oleh malam-malam tanpa tepuk tangan
hanya iman dan kesetiaan pada ilmu yang kau genggam.
Engkau naik bukan lewat sorak,
melainkan melalui tangga pengabdian yang terjal
dari asisten yang belajar menahan lelah,
hingga guru bangsa yang memikul peradaban.
Namun hari ini kau bukan hanya berdiri di mimbar;
kau juga berdiri bersama tanah yang retak oleh duka.
Sumatra memanggil dengan getir gemetar,
dan nuranimu menjawab tanpa banyak tanya.
Di antara puing dan doa yang tercecer,
kau ajarkan arti harapan tanpa spidol dan layar
kuliah hari ini adalah tentang merawat sesama,
tentang tangan yang menguatkan, tentang hati yang berbagi.
Dari jauh di Jakarta, buku-buku kita menjelma selimut dan bantuan yang dikirimkan
ruang kelas kita berubah menjadi kepedulian yang menembus ribuan kilometer
dan setiap langkah kecil di medan bencana
adalah SK kemanusiaan yang ditandatangani langit.
Wahai dosen, pejuang sunyi peradaban,
karirmu menanjak menapaki tangga dunia,
namun kemuliaanmu tumbuh di jalan pengorbanan
di antara mengajar, mengabdi, dan menyelamatkan kehidupan.
Jika suatu hari namamu hanya tercatat di arsip negara
dan tak lagi di spanduk acara,
ketahuilah namamu telah abadi
di dada mahasiswa, dan di doa Sumatra yang kau kuatkan.
#Puisi
#Pengabdian
#Kepedulian
#Kemanusiaan

