Menunggu Semester 8: Gerbang Terakhir di Kampus

Oleh: Fauqa Mty – Mahasiswa Semester 7

Ada seorang mahasiswa yang kini duduk di ambang semester 8, bernama Sabrang. Hidupnya selama bertahun-tahun di kampus bagaikan perjalanan panjang dalam serial drama: penuh kejutan, kadang kocak, kadang melelahkan, tapi selalu membuat penasaran apa yang terjadi di episode berikutnya.

Masa Awal Perkuliahan: Manis, Polos, dan Disesatkan Senior

Ketika pertama kali masuk, Sabrang adalah makhluk polos—masih lembut, belum tergores tugas, dan belum mengenal revisi bab 2 yang menyakitkan itu. Orientasi adalah gerbang pertama yang ia lewati. Senior-senior tampil dengan wibawa palsu dan selera humor yang meragukan. Ada yang bilang:

“Kalau mau cepat lulus, jangan pernah menatap mata patung rektor. Pamali.”

Atau: “Kalau dapat dosen killer, cukup tersenyum. Walau nilai tetap C.”

Dan seperti kebanyakan mahasiswa baru, Sabrang percaya semua itu.

Masa semester awal terasa manis, walaupun diselipkan kenakalan senior yang kadang membuat jengkel tapi lucu untuk dikenang. Kampus terasa seperti dunia baru yang menjanjikan… sampai tugas datang.

Tugas Mendadak: Kejutan yang Jadi Rutinitas

Setelah jam kuliah berjalan normal, kehidupan Sabrang berubah drastis. Tugas datang bertubi-tubi. Dosen mengakhiri materi dengan kalimat:

“Minggu depan kita presentasi kelompok, ya.”

Tapi yang dimaksud minggu depan biasanya tidak sampai satu minggu. Dua hari kemudian, Sabrang sudah berdiri di depan kelas dengan slide yang dibuat terburu-buru. Begitulah ritme perkuliahan: dosen bicara santai, mahasiswa panik.

Tugas makalah, jurnal, esai, sampai analisis film yang bahkan tidak tersedia di platform legal—semua menghiasi perjalanan Sabrang. Ia sering merasa sedang mengikuti lomba lari yang track-nya berubah setiap jam.

Hampir Menyerah, Tapi Ingat Orang Tua

Di semester-semester selanjutnya, ada titik di mana Sabrang hampir menyerah. Deadline bertebaran seperti undangan kondangan. Tiga mata kuliah menuntut laporan pada hari yang sama. Sabrang sempat membayangkan hidup sebagai penjaga warkop saja mungkin lebih damai.

Namun setiap kali melihat foto orang tuanya, semangatnya kembali menyala.

Ibunya pernah berkata, “Nak, selesaikan kuliahmu. Ilmu itu bekal hidup.”

Kalimat sederhana itu menjadi jangkar yang menahan Sabrang dari niat dropout halus.

Organisasi Kampus: Minat Ada, Nyali Tidak

Suatu masa, Sabrang tergoda masuk organisasi kemahasiswaan. Ia melihat senior rapat dengan gaya seperti anggota kabinet. Namun setelah melihat jadwal rapat yang mencurigakan intensitasnya, minatnya langsung surut.

Rapat internal, rapat evaluasi, rapat rencana rapat, dan rapat tindak lanjut rapat.

Sabrang berpikir: “Saya ini mau kuliah atau mau jual waktu?”

Akhirnya, ia menjadi mahasiswa yang hampir masuk organisasi—nyaris berkomitmen—lalu menghilang seperti angin. Keputusan itu cukup membahagiakan hatinya.

Tugas Legendaris: Badal Khatib Jumat di Pinang Ranti

Di antara semua tugas unik yang Sabrang terima, ada satu yang paling epik: menjadi badal khatib Jumat. Bukan di kampus. Bukan juga simulasi. Tapi di Masjid Pinang Ranti, dekat rumah sang dosen.

Dosen yang biasanya tegas itu mendadak harus keluar kota. Maka dengan ringan dia berkata:

“Sabrang, kamu jadi badal khatib ya. Masjidnya dekat rumah saya di Pinang Ranti. Jamaahnya cukup banyak. Bawa teks saja.”

Sabrang nyaris jatuh dari kursi.

Hari Jumat itu, ia berdiri di mimbar masjid dengan tangan dingin. Jamaah menatap serius. Bapak-bapak saf depan seperti ingin menguji apakah khutbahnya layak tayang di televisi. Tapi Sabrang tetap maju. Selesai khutbah, ia turun dengan napas lepas dan satu kesimpulan penting:

“Tugas kuliah ini seharusnya dapat nilai A plus plus.” Sejak saat itu, ia punya cerita legendaris di kampus: mahasiswa yang turun panggung bukan dari seminar kelas, tapi dari mimbar masjid.

Semakin Banyak Belajar, Semakin Banyak Tidak Tahu

Seiring semester berganti, Sabrang merasakan paradoks besar: semakin banyak ilmu yang ia pelajari, semakin sering ia merasa bodoh. Setiap memahami teori baru, muncul tiga teori lain yang tidak ia pahami. Setiap mengerti satu konsep, muncul lima pertanyaan lain yang tidak punya jawaban. Ia akhirnya menyimpulkan: “Kampus adalah tempat di mana kebingungan dianggap proses belajar.” Dan memang benar. Ilmu itu luas. Kepala mahasiswa itu sempit. Maka ketidaktahuan adalah perjalanan, bukan kegagalan.

Para Dosen: Antara Malaikat dan Monster Jam Akademik

Dalam kisah Sabrang, dosen-dosen hadir sebagai tokoh yang sangat berpengaruh. Ada dosen yang luar biasa disiplin, datang lebih cepat dari mahasiswa, menjelaskan materi dengan jelas, memberi nilai adil, dan membuat mahasiswa percaya bahwa pendidikan masih punya harapan. Sabrang sangat menghargai mereka.

Lalu ada dosen killer: tegas, suaranya menggetarkan, dan nilainya bikin jantung mahasiswa berdetak seperti speaker masjid saat takbir. Ada pula dosen molor, yang datang terlambat 35 menit lalu berkata, “Waktu kita sedikit, jadi langsung quiz ya.”

Jenis dosen seperti ini membuat mahasiswa mempertanyakan banyak hal dalam hidup. Tapi apa pun gaya mereka, Sabrang tetap hormat. Karena tanpa mereka, perjalanan akademis hanyalah lorong kosong tanpa cahaya.

Semester 8: Gerbang Terakhir

Kini Sabrang berdiri di pintu semester 8. Perasaan campur aduk: senang, gugup, bangga, dan takut. Di depannya ada skripsi, bimbingan, revisi, sidang, dan segala drama akademik yang siap menunggu. Namun di balik itu ada akhir yang indah: wisuda, toga, dan pelukan orang tua. Perjalanan panjang ini membuatnya sadar bahwa kampus bukan sekadar tempat belajar. Kampus adalah tempat manusia dibentuk: logikanya, mentalnya, humornya, dan kekuatan bertahannya. Karena tanpa humor, tak ada mahasiswa yang selamat sampai semester 8.

GlosSarium
  • Badal khatib – khatib pengganti; tugas yang mendadak namun penuh keberkahan (atau kepanikan).
  • Dosen killer – dosen yang membuat mahasiswa mendadak rajin belajar atau rajin pasrah.
  • Rapat organisasi – ritual panjang yang menguji kesabaran mahasiswa.
  • Deadline – jam kematian kreativitas yang memaksa mahasiswa berpikir cepat.
  • Molor waktu – kebiasaan dosen tertentu datang terlambat tapi tetap mengambil waktu dosen berikutnya.
  • Semester 8 – gerbang final, antara kemerdekaan dan ketakutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *