Mahasiswa IPRIJA Berperan Aktif dalam Pelayanan Umat di KUA Tapos

DEPOK – Program Praktikum Profesi Lapangan (PPL) kembali menjadi ajang implementasi kompetensi mahasiswa Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA). Kali ini, Aufa Zaki (NIM S.323246), mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, sukses merampungkan kegiatan magang di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tapos, Kota Depok, dengan capaian yang impresif.

Kegiatan yang berlangsung sejak pertengahan September hingga awal November 2025 di kantor yang berlokasi di Jl. Rawa Kebo, Cimpaeun ini, bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik. Zaki terlibat aktif dalam hampir seluruh lini pelayanan KUA, mulai dari administrasi digital hingga pelayanan bimbingan masyarakat yang krusial.

Dari Digitalisasi hingga Konseling Keluarga

Pada minggu-minggu awal magang, kegiatan difokuskan pada adaptasi lingkungan kerja dan penguatan administrasi. Salah satu kontribusi nyata Zaki adalah membantu proses digitalisasi data Akta Nikah tahun 2015 yang menjadi sejarah awal KUA Tapos karena sebelum tahun 2015 administratif pencatatan nikah pada wilayah Tapos menginduk kepada KUA Cimanggis kemudian pada tahun 2015 KUA Tapos hadir untuk wilayah kecamatan Tapos, maka proses digitalisasi dari tahun 2015 ini merupakan sebuah langkah vital dalam mengamankan arsip negara.

Namun, kompetensi mahasiswa IPRIJA ini benar-benar diuji ketika dihadapkan pada kasus-kasus riil di lapangan. Dalam kegiatannya, Zaki tercatat tidak hanya menjadi penonton, melainkan dipercaya menjadi konselor. Pada akhir Oktober, ia menangani sesi konsultasi bagi seorang istri yang mengadukan problematika rumah tangga, serta mempelajari penanganan kasus sensitif seperti KDRT.

“Pengalaman menghadapi problematika riil dalam menangani permasalahan rumah tangga, menjadi pembicara pada bimbingan remaja usia sekolah, moderator pada kegiatan bimbingan perkawinan serta terjun langsung mengikuti rangkaian pernikahan, membaca khutbah nikah, penyuluhan kajian keagamaan di Masjid hingga menangani kasus kendala pernikahan WNA asal Pakistan, hal ini semuanya menjadikan dan memperkaya wawasan hukum syariah serta experience yang menyempurnakan landasan teori keilmuan yang telah saya pelajari di bangku perkuliahan.” ujar Zaki.

Dedikasi dalam Dakwah dan Literasi Digital

Selain aspek hukum syariah, kemampuan public speaking dan dakwah mahasiswa IPRIJA juga mendapat panggung. Zaki dipercaya menjadi moderator dalam berbagai sesi Bimbingan Perkawinan (Binwin), baik tatap muka maupun virtual. Kreativitasnya pun tersalurkan melalui pembuatan konten edukasi digital, seperti reels “Tepuk Sakinah” dan konten peringatan Kesaktian Pancasila.

Puncak dari kegiatan praktikum ini terlihat di minggu-minggu terakhir bulan Oktober. Zaki menunjukkan kapasitasnya sebagai calon tokoh agama dengan menjadi pemateri program BRUSS (Bimbingan Remaja Usia Sekolah) di SMP Tritura, sekaligus menjadi Khotib Jumat di masjid setempat.

Tak berhenti di situ, kepercayaan Kepala KUA Tapos kepada Zaki dibuktikan dengan pelibatan dirinya dalam tugas kepenghuluan. Tercatat pada 25 dan 26 Oktober, Zaki mendampingi Bapak Penghulu dan berkesempatan menyampaikan Khutbah Nikah di empat lokasi akad yang berbeda, serta mengisi kajian subuh membahas kitab Mukhtarul Ahadits di Masjid At-Thohir.

Penutupan yang Berkesan

Rangkaian kegiatan praktikum ini ditutup secara resmi pada Senin, 3 November 2025. Dalam acara perpisahan yang hangat, Zaki menyerahkan plakat akrilik dan gelas mug sebagai tanda terima kasih kepada keluarga besar KUA Tapos.

Kegiatan praktikum ini membuktikan bahwa mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam IPRIJA siap terjun ke masyarakat, tidak hanya dengan bekal teori hukum, tetapi juga dengan kecakapan sosial, kemampuan konseling, dan kompetensi dakwah yang mumpuni.

Tags:

#IPRIJA #HukumKeluargaIslam #KUATapos #MahasiswaBerprestasi #PPL2025 #FakultasSyariah

PGMI IPRIJA Akan Gelar Seminar Nasional “Rahasia Percepatan Karir Dosen & Misi Kemanusiaan untuk Sumatra”

Jakarta, 10 Desember 2025 – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) kembali akan menyelenggarakan kegiatan akademik berskala nasional berupa Seminar Nasional bertajuk “Rahasia Percepatan Karir Dosen & Misi Kemanusiaan untuk Sumatra.” Kegiatan ini dijadwalkan akan dilaksanakan pada Kamis, 25 Desember 2025, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui PGMI IPRIJA TV.

Seminar nasional ini terbuka untuk umum dan gratis, sehingga dapat diikuti oleh dosen, mahasiswa, praktisi pendidikan, serta masyarakat luas yang memiliki perhatian terhadap pengembangan karir dosen dan isu-isu kemanusiaan, khususnya di wilayah Sumatra. Melalui kegiatan ini, PGMI IPRIJA berupaya menghadirkan ruang diskusi ilmiah yang tidak hanya berorientasi pada penguatan karir akademik, tetapi juga pada kepedulian sosial dan kemanusiaan sebagai wujud implementasi tridharma perguruan tinggi.

Kegiatan ini akan menghadirkan sejumlah pimpinan dan narasumber dari lingkungan IPRIJA yang memiliki kompetensi di bidangnya. Di antaranya Drs. Mujiono, MA selaku Rektor IPRIJA, Assoc. Prof. Dr. Hj. Husnul Khotimah, M.Pd selaku Wakil Rektor I IPRIJA, serta Assoc. Prof. Dr. Sadari, S.H.I., M.S.I selaku Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM). Selain itu, turut menjadi pemateri Wahyudi, S.Kom., M.Pd selaku Kepala Biro ITE dan Dr. Muhamad, MA selaku Kepala LP2M. Sementara itu, Umi Sulistyani, M.Pd (Dosen PGMI) dan M. Zainul Umam, M.Pd.I (Ketua Prodi PGMI) akan bertugas sebagai MC dan moderator yang mengomandoi jalannya seminar.

Ketua Prodi PGMI IPRIJA, M. Zainul Umam, M.Pd.I, menyampaikan bahwa seminar ini dirancang sebagai wadah berbagi pengalaman, strategi, dan informasi penting terkait percepatan karir dosen, khususnya dalam hal pengusulan jabatan fungsional. Menurutnya, masih banyak dosen yang mengalami kendala dalam pengurusan jabatan akademik karena kurangnya informasi teknis, pemahaman regulasi, serta pendampingan yang berkelanjutan.
“Melalui seminar ini, kami ingin membantu para dosen agar lebih siap baik secara administrasi, akademik, maupun mental dalam menapaki jenjang karirnya. Harapannya, semakin banyak dosen yang termotivasi untuk mengurus dan mempercepat jabatan fungsionalnya,” ujarnya.

Sementara itu, dari sisi kebijakan institusi, Rektor IPRIJA Drs. Mujiono, MA menegaskan bahwa peningkatan karir dosen merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peningkatan mutu perguruan tinggi. Ia menilai bahwa dosen yang berkembang secara akademik akan berdampak langsung pada kualitas pembelajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, pihak rektorat mendukung penuh pelaksanaan seminar nasional ini sebagai bagian dari agenda strategis penguatan sumber daya manusia di lingkungan IPRIJA.
“Seminar ini menjadi langkah konkret dalam membangun dosen yang profesional, kompeten, dan berdaya saing,” tegasnya.

Selain fokus pada percepatan karir dosen, seminar ini juga mengangkat tema besar “Misi Kemanusiaan untuk Sumatra.” Tema ini dipilih sebagai bentuk kepedulian sosial sivitas akademika IPRIJA terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang masih terjadi di wilayah Sumatra, baik akibat bencana alam, persoalan pendidikan, maupun masalah sosial lainnya.
Dr. Muhamad, MA selaku Kepala LP2M menjelaskan bahwa kegiatan akademik idealnya selalu terhubung dengan realitas sosial masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi harus hadir tidak hanya dalam ruang kelas dan jurnal ilmiah, tetapi juga di tengah-tengah persoalan umat. Ia berharap seminar ini dapat menumbuhkan kesadaran kolektif dosen dan mahasiswa untuk turut berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan melalui program pengabdian kepada masyarakat.

Dari aspek mutu dan sistem akademik, Assoc. Prof. Dr. Sadari, S.H.I., M.S.I selaku Kepala LPM akan memaparkan strategi sistematis percepatan jabatan fungsional dosen sesuai dengan regulasi yang berlaku. Materi yang akan disampaikan mencakup pemetaan angka kredit, publikasi ilmiah pada jurnal terindeks, pengelolaan Beban Kerja Dosen (BKD), serta optimalisasi kinerja tridharma perguruan tinggi. Pemateri juga akan mengulas berbagai kendala yang sering dihadapi dosen dalam pengusulan jabatan fungsional beserta solusi praktisnya.

Sementara itu, Wahyudi, S.Kom., M.Pd selaku Kepala Biro ITE akan menyoroti pentingnya digitalisasi dalam menunjang karir dosen. Ia akan membahas pemanfaatan teknologi informasi mulai dari pengelolaan data kepegawaian, sistem informasi akademik, publikasi daring, hingga pemanfaatan platform digital untuk mendukung produktivitas dosen di bidang penelitian dan pengabdian. Sedangkan Umi Sulistyani, M.Pd akan memoderatori jalannya diskusi antara pemateri dan peserta agar berlangsung interaktif dan dinamis.

Panitia seminar juga menyiapkan berbagai fasilitas bagi peserta, antara lain e-sertifikat, modul materi, perluasan relasi akademik, serta tambahan wawasan dan pengetahuan baru. Pendaftaran peserta dilakukan secara daring melalui tautan yang telah disediakan oleh panitia dan dapat diakses oleh seluruh calon peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Melalui pelaksanaan seminar nasional ini, PGMI IPRIJA berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan karir dosen di Indonesia sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya misi kemanusiaan sebagai bagian dari tanggung jawab akademisi. Kegiatan ini menjadi wujud komitmen IPRIJA dalam menghadirkan program-program akademik yang relevan, bermutu, dan berdampak luas bagi masyarakat.

Reportase: M. Zainul Umam

Jejak Sunyi di Papan Tulis dan Tanah Bencana

Puisi oleh : M. Zainul Umam, Nur Aisyah Ramdhania, Suhirmanto

Di ruang sunyi bernama kelas,
kau menulis masa depan dengan kapur yang rapuh
setiap debu yang jatuh adalah doa
agar bangsa ini tak kehilangan arah.

Langkahmu tak selalu tersorot cahaya.
Sertifikasimu lahir dari kesabaran panjang,
karirmu ditempa oleh malam-malam tanpa tepuk tangan
hanya iman dan kesetiaan pada ilmu yang kau genggam.

Engkau naik bukan lewat sorak,
melainkan melalui tangga pengabdian yang terjal
dari asisten yang belajar menahan lelah,
hingga guru bangsa yang memikul peradaban.

Namun hari ini kau bukan hanya berdiri di mimbar;
kau juga berdiri bersama tanah yang retak oleh duka.
Sumatra memanggil dengan getir gemetar,
dan nuranimu menjawab tanpa banyak tanya.

Di antara puing dan doa yang tercecer,
kau ajarkan arti harapan tanpa spidol dan layar
kuliah hari ini adalah tentang merawat sesama,
tentang tangan yang menguatkan, tentang hati yang berbagi.

Dari jauh di Jakarta, buku-buku kita menjelma selimut dan bantuan yang dikirimkan
ruang kelas kita berubah menjadi kepedulian yang menembus ribuan kilometer
dan setiap langkah kecil di medan bencana
adalah SK kemanusiaan yang ditandatangani langit.

Wahai dosen, pejuang sunyi peradaban,
karirmu menanjak menapaki tangga dunia,
namun kemuliaanmu tumbuh di jalan pengorbanan
di antara mengajar, mengabdi, dan menyelamatkan kehidupan.

Jika suatu hari namamu hanya tercatat di arsip negara
dan tak lagi di spanduk acara,
ketahuilah namamu telah abadi
di dada mahasiswa, dan di doa Sumatra yang kau kuatkan.

#Puisi

#Pengabdian

#Kepedulian

#Kemanusiaan

Rasil TV: Mahasiswa IPRIJA Berpotensi Besar Menjadi Wartawan

Jakarta, 8 Desember 2025 — Rasil TV kembali mengupayakan peningkatan kapasitas sumber daya jurnalistik melalui Zoom Meeting bertajuk “Keniscayaan Menjadi Wartawan Handal”. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh kru Rasil TV serta para mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA). Acara dipandu oleh Deritawati selaku moderator dan menghadirkan pembicara utama Rachmat Hidayat.

Sejak awal pemaparan, Rachmat Hidayat menekankan bahwa profesi wartawan tidak hanya bergantung pada kemampuan menulis, tetapi juga pada adaptasi terhadap perubahan zaman. Bahasa jurnalistik, gaya penyampaian, hingga penguasaan platform digital menjadi aspek penting yang wajib dikuasai. Ia menyinggung istilah bahasa populer yang semakin sering digunakan jurnalis modern, karena dinilai efektif menjangkau pembaca yang lebih luas tanpa mengorbankan nilai akurasi.

Menariknya, diskusi berkembang pada isu tentang hilangnya nuansa bahasa sastrawi dalam Majalah Tempo sejak tahun 2010-an. Topik ini memicu perhatian peserta dan ditanggapi langsung oleh Sunodyantoro, seorang wartawan Tempo yang turut hadir dalam forum. Menurutnya, anggapan bahwa Tempo telah meninggalkan kesastrawian sebenarnya tidak tepat. Bagi Sunodyantoro, bahasa Tempo tidak pernah dirancang untuk menjadi baku dalam standar sastra, melainkan bergantung pada gaya dan karakter masing-masing jurnalis. Ia menegaskan bahwa setiap penulis Tempo memiliki warna editorial pribadi, sehingga wajar apabila kehadiran gaya sastrawi tidak selalu dominan di setiap periode penerbitannya.

Pada sesi yang sama, Rachmat Hidayat turut menyinggung bagaimana gaya menulis jurnalis besar dunia seperti Ernest Hemingway dapat menjadi rujukan bagi wartawan masa kini. Hemingway dikenal dengan gaya penulisan yang ringkas, padat, dan bertenaga, sebuah teknik yang dikenal sebagai iceberg theory. Menurut Rachmat, wartawan masa kini dapat belajar bahwa kekuatan tulisan tidak selalu terletak pada kalimat berbunga-bunga, melainkan pada presisi, kejelasan, dan kekuatan fakta. Penyebutan Hemingway membuat diskusi semakin hidup, mengingatkan para peserta bahwa jurnalisme modern terus dipengaruhi oleh gaya penulisan tokoh-tokoh besar dunia.

Diskusi semakin hangat ketika Angga Amiruddin, jurnalis Radio Rasil, mengajukan pertanyaan seputar manajemen bahasa saat siaran langsung. Menurutnya, siaran langsung menuntut spontanitas, namun tetap harus mengikuti kaidah jurnalistik. Rachmat Hidayat menjelaskan bahwa siaran langsung menuntut kemampuan memilih diksi yang cepat, tepat, dan komunikatif. Ia menambahkan bahwa penggunaan bahasa populer pun tidak masalah selama tidak melanggar prinsip dasar jurnalistik dan tetap mengutamakan keakuratan informasi.

Keterlibatan mahasiswa IPR IJA yang sedang menjalani PPL menjadi salah satu sorotan penting dalam kegiatan ini. Banyak dari mereka mengaku mendapatkan wawasan baru tentang dunia jurnalistik setelah mendengar penjelasan para praktisi. Paparan mengenai perkembangan bahasa media, perbandingan gaya penulisan jurnalis Indonesia dengan tokoh internasional seperti Hemingway, hingga pengelolaan bahasa dalam siaran, membuat mereka semakin terdorong untuk memperdalam ilmu jurnalistik selama masa PPL. Beberapa mahasiswa bahkan menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka pandangan mereka tentang jurnalistik sebagai bidang yang dinamis dan menantang.

Perwakilan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Jimmy Senduk, turut hadir dan memberikan pandangan singkat mengenai pentingnya etika dalam profesi wartawan. Ia menegaskan bahwa integritas merupakan pondasi utama yang menentukan kualitas seorang jurnalis. Menurutnya, kemampuan menulis yang baik tidak akan berarti tanpa kejujuran, ketelitian, dan komitmen terhadap kebenaran.

Menutup sesi diskusi, peserta dan narasumber sepakat bahwa menjadi wartawan handal bukanlah sesuatu yang lahir dalam semalam. Profesi ini menuntut ketekunan, latihan terus-menerus, dan pemahaman mendalam tentang bahasa. Rasil TV menyampaikan harapannya agar kegiatan ini mampu memicu semangat para mahasiswa IPR IJA untuk terus belajar, mempertajam kemampuan menulis, dan memahami dunia jurnalistik dari para praktisi secara langsung.

Zoom Meeting ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Selain memperkaya wawasan mengenai perkembangan bahasa jurnalistik, kegiatan ini juga mempertemukan mahasiswa dengan para praktisi yang memberikan gambaran nyata tentang tantangan profesi wartawan di era digital. Dengan semangat yang terbentuk, para mahasiswa IPRIJA berharap pengalaman ini menjadi bekal penting bagi perjalanan mereka setelah menyelesaikan PPL.

🛑 PRAY FOR SUMATRA 🛑

Segenap Civitas Akademik Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) menyampaikan dukacita yang mendalam atas musibah banjir dan tanah longsor yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara .

Mari ringankan beban mereka dengan infak terbaik melalui:


BANK BRI
7197-01-002205-53-1

a.n Institut Pembina Rohani Islam Jakarta

📌 Tambahkan kode 002 pada akhir nominal (contoh: Rp 100.002)

INFORMASI & KONFIRMASI:
0882-9404-1119

#iprija_peduli
#kampusiprija #donasi
#PrayForSumatra #SolidaritasUntukSumatra

IPRIJA membuka wawasan, membina rohani, membangun negeri.

Menunggu Semester 8: Gerbang Terakhir di Kampus

Oleh: Fauqa Mty – Mahasiswa Semester 7

Ada seorang mahasiswa yang kini duduk di ambang semester 8, bernama Sabrang. Hidupnya selama bertahun-tahun di kampus bagaikan perjalanan panjang dalam serial drama: penuh kejutan, kadang kocak, kadang melelahkan, tapi selalu membuat penasaran apa yang terjadi di episode berikutnya.

Masa Awal Perkuliahan: Manis, Polos, dan Disesatkan Senior

Ketika pertama kali masuk, Sabrang adalah makhluk polos—masih lembut, belum tergores tugas, dan belum mengenal revisi bab 2 yang menyakitkan itu. Orientasi adalah gerbang pertama yang ia lewati. Senior-senior tampil dengan wibawa palsu dan selera humor yang meragukan. Ada yang bilang:

“Kalau mau cepat lulus, jangan pernah menatap mata patung rektor. Pamali.”

Atau: “Kalau dapat dosen killer, cukup tersenyum. Walau nilai tetap C.”

Dan seperti kebanyakan mahasiswa baru, Sabrang percaya semua itu.

Masa semester awal terasa manis, walaupun diselipkan kenakalan senior yang kadang membuat jengkel tapi lucu untuk dikenang. Kampus terasa seperti dunia baru yang menjanjikan… sampai tugas datang.

Tugas Mendadak: Kejutan yang Jadi Rutinitas

Setelah jam kuliah berjalan normal, kehidupan Sabrang berubah drastis. Tugas datang bertubi-tubi. Dosen mengakhiri materi dengan kalimat:

“Minggu depan kita presentasi kelompok, ya.”

Tapi yang dimaksud minggu depan biasanya tidak sampai satu minggu. Dua hari kemudian, Sabrang sudah berdiri di depan kelas dengan slide yang dibuat terburu-buru. Begitulah ritme perkuliahan: dosen bicara santai, mahasiswa panik.

Tugas makalah, jurnal, esai, sampai analisis film yang bahkan tidak tersedia di platform legal—semua menghiasi perjalanan Sabrang. Ia sering merasa sedang mengikuti lomba lari yang track-nya berubah setiap jam.

Hampir Menyerah, Tapi Ingat Orang Tua

Di semester-semester selanjutnya, ada titik di mana Sabrang hampir menyerah. Deadline bertebaran seperti undangan kondangan. Tiga mata kuliah menuntut laporan pada hari yang sama. Sabrang sempat membayangkan hidup sebagai penjaga warkop saja mungkin lebih damai.

Namun setiap kali melihat foto orang tuanya, semangatnya kembali menyala.

Ibunya pernah berkata, “Nak, selesaikan kuliahmu. Ilmu itu bekal hidup.”

Kalimat sederhana itu menjadi jangkar yang menahan Sabrang dari niat dropout halus.

Organisasi Kampus: Minat Ada, Nyali Tidak

Suatu masa, Sabrang tergoda masuk organisasi kemahasiswaan. Ia melihat senior rapat dengan gaya seperti anggota kabinet. Namun setelah melihat jadwal rapat yang mencurigakan intensitasnya, minatnya langsung surut.

Rapat internal, rapat evaluasi, rapat rencana rapat, dan rapat tindak lanjut rapat.

Sabrang berpikir: “Saya ini mau kuliah atau mau jual waktu?”

Akhirnya, ia menjadi mahasiswa yang hampir masuk organisasi—nyaris berkomitmen—lalu menghilang seperti angin. Keputusan itu cukup membahagiakan hatinya.

Tugas Legendaris: Badal Khatib Jumat di Pinang Ranti

Di antara semua tugas unik yang Sabrang terima, ada satu yang paling epik: menjadi badal khatib Jumat. Bukan di kampus. Bukan juga simulasi. Tapi di Masjid Pinang Ranti, dekat rumah sang dosen.

Dosen yang biasanya tegas itu mendadak harus keluar kota. Maka dengan ringan dia berkata:

“Sabrang, kamu jadi badal khatib ya. Masjidnya dekat rumah saya di Pinang Ranti. Jamaahnya cukup banyak. Bawa teks saja.”

Sabrang nyaris jatuh dari kursi.

Hari Jumat itu, ia berdiri di mimbar masjid dengan tangan dingin. Jamaah menatap serius. Bapak-bapak saf depan seperti ingin menguji apakah khutbahnya layak tayang di televisi. Tapi Sabrang tetap maju. Selesai khutbah, ia turun dengan napas lepas dan satu kesimpulan penting:

“Tugas kuliah ini seharusnya dapat nilai A plus plus.” Sejak saat itu, ia punya cerita legendaris di kampus: mahasiswa yang turun panggung bukan dari seminar kelas, tapi dari mimbar masjid.

Semakin Banyak Belajar, Semakin Banyak Tidak Tahu

Seiring semester berganti, Sabrang merasakan paradoks besar: semakin banyak ilmu yang ia pelajari, semakin sering ia merasa bodoh. Setiap memahami teori baru, muncul tiga teori lain yang tidak ia pahami. Setiap mengerti satu konsep, muncul lima pertanyaan lain yang tidak punya jawaban. Ia akhirnya menyimpulkan: “Kampus adalah tempat di mana kebingungan dianggap proses belajar.” Dan memang benar. Ilmu itu luas. Kepala mahasiswa itu sempit. Maka ketidaktahuan adalah perjalanan, bukan kegagalan.

Para Dosen: Antara Malaikat dan Monster Jam Akademik

Dalam kisah Sabrang, dosen-dosen hadir sebagai tokoh yang sangat berpengaruh. Ada dosen yang luar biasa disiplin, datang lebih cepat dari mahasiswa, menjelaskan materi dengan jelas, memberi nilai adil, dan membuat mahasiswa percaya bahwa pendidikan masih punya harapan. Sabrang sangat menghargai mereka.

Lalu ada dosen killer: tegas, suaranya menggetarkan, dan nilainya bikin jantung mahasiswa berdetak seperti speaker masjid saat takbir. Ada pula dosen molor, yang datang terlambat 35 menit lalu berkata, “Waktu kita sedikit, jadi langsung quiz ya.”

Jenis dosen seperti ini membuat mahasiswa mempertanyakan banyak hal dalam hidup. Tapi apa pun gaya mereka, Sabrang tetap hormat. Karena tanpa mereka, perjalanan akademis hanyalah lorong kosong tanpa cahaya.

Semester 8: Gerbang Terakhir

Kini Sabrang berdiri di pintu semester 8. Perasaan campur aduk: senang, gugup, bangga, dan takut. Di depannya ada skripsi, bimbingan, revisi, sidang, dan segala drama akademik yang siap menunggu. Namun di balik itu ada akhir yang indah: wisuda, toga, dan pelukan orang tua. Perjalanan panjang ini membuatnya sadar bahwa kampus bukan sekadar tempat belajar. Kampus adalah tempat manusia dibentuk: logikanya, mentalnya, humornya, dan kekuatan bertahannya. Karena tanpa humor, tak ada mahasiswa yang selamat sampai semester 8.

GlosSarium
  • Badal khatib – khatib pengganti; tugas yang mendadak namun penuh keberkahan (atau kepanikan).
  • Dosen killer – dosen yang membuat mahasiswa mendadak rajin belajar atau rajin pasrah.
  • Rapat organisasi – ritual panjang yang menguji kesabaran mahasiswa.
  • Deadline – jam kematian kreativitas yang memaksa mahasiswa berpikir cepat.
  • Molor waktu – kebiasaan dosen tertentu datang terlambat tapi tetap mengambil waktu dosen berikutnya.
  • Semester 8 – gerbang final, antara kemerdekaan dan ketakutan.