Revitalisasi Pendidikan Karakter Islami untuk Generasi Emas

Mengintegrasikan Empat Sifat Profetik Rasulullah SAW sebagai Pilar Peradaban

Di tengah derasnya arus globalisasi, digitalisasi, dan krisis keteladanan, pendidikan tidak lagi cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata. Tantangan zaman menuntut hadirnya pendidikan yang mampu membentuk manusia seutuhnya cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara spiritual. Menjawab kebutuhan inilah buku Revitalisasi Pendidikan Karakter Islami untuk Generasi Emas hadir sebagai rujukan strategis bagi dunia pendidikan Islam kontemporer.

Buku ini menegaskan bahwa pendidikan karakter Islami bukan sekadar slogan normatif, melainkan sebuah sistem pembinaan yang harus dirancang secara sadar, terstruktur, dan berkelanjutan. Penulis mengajak pembaca kembali pada sumber teladan utama dalam Islam, yakni Rasulullah SAW, dengan menjadikan empat sifat profetik shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah sebagai pilar utama pembentukan karakter generasi emas Indonesia.

Keunggulan buku ini terletak pada pendekatan integratifnya. Pendidikan karakter tidak diposisikan sebagai mata pelajaran tambahan, tetapi sebagai ruh yang menjiwai seluruh proses pendidikan: mulai dari perencanaan kurikulum, strategi pembelajaran, budaya sekolah, hingga keteladanan pendidik. Dengan demikian, nilai-nilai karakter tidak berhenti pada tataran kognitif, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam sikap dan perilaku peserta didik.

Disusun dengan alur yang sistematis, buku ini menguraikan secara runtut konsep dasar pendidikan karakter Islami, urgensinya dalam konteks tantangan zaman, serta strategi revitalisasi yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Setiap pembahasan dilengkapi dengan analisis konseptual dan refleksi aplikatif, sehingga memudahkan pembaca baik akademisi, guru, mahasiswa, maupun pemerhati Pendidikan untuk memahami sekaligus menerapkannya dalam konteks nyata.

Tidak hanya bersifat teoritis, buku ini juga menawarkan kerangka praktis implementasi pendidikan karakter berbasis nilai profetik. Penulis menekankan pentingnya peran pendidik sebagai moral agent dan role model yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik dengan keteladanan. Dalam perspektif ini, sekolah dan madrasah dipandang sebagai ekosistem pembentukan karakter, bukan sekadar ruang transfer ilmu.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini relatif komunikatif, lugas, dan tetap menjaga kedalaman akademik. Hal ini menjadikan buku Revitalisasi Pendidikan Karakter Islami untuk Generasi Emas tidak hanya relevan sebagai referensi ilmiah, tetapi juga sebagai bacaan strategis yang inspiratif dan aplikatif. Buku ini cocok digunakan sebagai bahan ajar, referensi penelitian, maupun pegangan praktis bagi pendidik dan pengelola lembaga pendidikan Islam.

Diterbitkan oleh Rajawali Pers, buku ini menjadi bagian dari komitmen penerbit dalam menghadirkan karya-karya akademik yang bermutu, kontekstual, dan berdampak nyata bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Kehadiran buku ini diharapkan dapat memperkaya khazanah literatur pendidikan karakter serta menjadi kontribusi nyata dalam membangun generasi emas yang berakhlak mulia, berdaya saing, dan berperadaban.

Dengan landasan nilai profetik yang kokoh dan pendekatan pendidikan yang relevan dengan tantangan zaman, buku ini layak menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang peduli terhadap masa depan pendidikan dan karakter generasi bangsa.

#PendidikanIslam
#PendidikanKarakter
#LiterasiPendidikan
#BukuPendidikan
#ReferensiAkademik
#PendidikInspiratif

Perencanaan dan Strategi Pembelajaran: Membangun Ruang Belajar untuk Semua

Mengapa Buku ini layak di miliki ?

Buku Perencanaan dan Strategi Pembelajaran: Membangun Ruang Belajar untuk Semua bukan sekadar buku teori pendidikan, melainkan panduan praktis dan komprehensif bagi mahasiswa, calon guru, dan pendidik profesional yang ingin merancang pembelajaran secara terarah, efektif, dan relevan dengan tantangan pendidikan masa kini.

Di dalam buku ini, pembaca akan menemukan pembahasan yang disusun secara sistematis dan runtut, mulai dari landasan konseptual perencanaan pembelajaran, analisis kurikulum, perumusan tujuan, pemilihan strategi dan metode, hingga perancangan evaluasi pembelajaran. Setiap bab dirancang untuk saling terhubung, sehingga pembaca memperoleh gambaran utuh tentang bagaimana sebuah pembelajaran yang berkualitas dirancang sejak awal.

Keunggulan utama buku ini terletak pada kekuatan metodologinya yang aplikatif dan mudah diterapkan. Konsep-konsep penting tidak disajikan secara abstrak, tetapi diterjemahkan ke dalam langkah-langkah konkret yang dapat langsung digunakan dalam praktik pembelajaran. Hal ini menjadikan buku ini sangat relevan sebagai pegangan dalam perkuliahan, pelatihan guru, maupun pengembangan profesional pendidik.

Untuk memudahkan pemahaman, setiap materi disajikan secara poin per poin, ringkas, dan fokus, sehingga pembaca dapat dengan cepat menangkap inti pembahasan dan menggunakannya sebagai rujukan praktis dalam menyusun perangkat pembelajaran. Pola penyajian ini juga membuat buku mudah dipelajari secara mandiri maupun digunakan sebagai buku ajar di kelas.

Ditulis dengan bahasa yang lugas, komunikatif, dan bersahabat, buku ini praktis dan siap pakai. Materi di dalamnya dapat langsung diaplikasikan untuk menyusun RPP, modul ajar, strategi pembelajaran inklusif, serta perencanaan pembelajaran yang berorientasi pada penguatan karakter dan kebutuhan peserta didik. Buku ini sangat tepat bagi pendidik yang tidak hanya ingin mengajar, tetapi juga ingin membangun ruang belajar yang bermakna, humanis, dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan yang menyatukan teori, praktik, dan nilai, buku ini menjadi referensi penting bagi dunia pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam, sekaligus kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di berbagai satuan pendidikan.

#BukuWajibGuru
#BukuReferensi
#PendidikanBerkualitas
#BelajarSepanjangHayat
#RuangBelajarInklusif
#StrategiPembelajaran
#PerencanaanPembelajaran
#PressIPRIJA

Natal dan Toleransi: Menjaga Harmoni tanpa Mengaburkan Keyakinan

Oleh : M. Zainul Umam, Mujiono, Dicky Dwi Prakosa, Ahmad Bahruddin

Perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember merupakan momen keagamaan yang sakral bagi umat Kristiani. Di Indonesia yang dikenal sebagai bangsa majemuk, Natal tidak hanya menjadi peristiwa religius, tetapi juga ruang sosial yang menguji kedewasaan masyarakat dalam mempraktikkan toleransi beragama. Namun demikian, toleransi tidak berarti tanpa batas. Ia harus dijalankan secara proporsional, berlandaskan penghormatan terhadap keyakinan masing-masing, serta tidak mencampuradukkan ajaran agama.
Toleransi beragama di Indonesia berakar kuat pada nilai Pancasila dan konstitusi yang menjamin kebebasan setiap warga negara dalam menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya. Dalam konteks Natal, toleransi diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menjaga keamanan dan kenyamanan umat Kristiani dalam beribadah, serta menciptakan suasana sosial yang damai. Praktik seperti menjaga rumah ibadah, membantu pengamanan perayaan, dan menyampaikan ucapan selamat secara sosial menjadi contoh toleransi yang hidup di tengah masyarakat.
Namun, penting untuk dipahami bahwa toleransi memiliki batas yang jelas. Dalam perspektif keagamaan, toleransi tidak boleh melanggar prinsip akidah dan keyakinan masing-masing pemeluk agama. Menghormati perayaan agama lain tidak sama dengan ikut serta dalam ritual keagamaan yang bertentangan dengan keyakinan pribadi. Inilah batas fundamental toleransi yang harus dipahami secara bijak agar harmoni sosial tetap terjaga tanpa mengorbankan prinsip keimanan.
Natal, sebagai perayaan keagamaan umat Kristiani, hendaknya ditempatkan sebagai ruang ibadah internal yang dihormati oleh pemeluk agama lain. Kehadiran umat beragama lain dalam konteks sosial seperti menjaga keamanan atau menunjukkan simpati kemanusiaan tidak dapat disamakan dengan keterlibatan dalam ritual ibadah. Pemahaman ini penting untuk menghindari kesalahpahaman yang kerap muncul akibat kurangnya literasi keagamaan.
Di lingkungan pendidikan dan kampus, isu toleransi dan batas-batasnya menjadi semakin relevan. Perguruan tinggi merupakan ruang perjumpaan berbagai latar belakang agama dan budaya. Oleh karena itu, institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menanamkan pemahaman moderasi beragama kepada mahasiswa. Moderasi beragama mengajarkan keseimbangan: bersikap terbuka dan menghormati perbedaan, namun tetap teguh pada keyakinan sendiri.
Tantangan toleransi beragama di era digital juga tidak bisa diabaikan. Media sosial sering kali menjadi ruang penyebaran narasi ekstrem, baik yang terlalu eksklusif maupun yang terlalu permisif. Dalam konteks Natal, perdebatan tentang ucapan selamat, simbol keagamaan, dan partisipasi lintas iman kerap memicu polemik. Oleh karena itu, sikap bijak dan literasi digital menjadi kunci agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi konflik sosial.
Batas toleransi beragama juga berkaitan erat dengan etika sosial. Menghormati perayaan Natal berarti tidak mengganggu jalannya ibadah, tidak menyebarkan ujaran kebencian, serta tidak memaksakan pandangan pribadi kepada orang lain. Sebaliknya, umat Kristiani juga memiliki peran dalam menjaga sensitivitas sosial, dengan memahami keberagaman keyakinan di sekitarnya dan tidak menuntut keterlibatan religius dari pemeluk agama lain.
Dalam konteks kebangsaan, menjaga batas toleransi adalah bagian dari upaya merawat persatuan. Indonesia tidak dibangun di atas keseragaman, melainkan keberagaman yang diikat oleh kesepakatan bersama. Toleransi yang sehat adalah toleransi yang berkeadaban menghargai perbedaan, menjunjung tinggi hukum, serta menjaga ruang publik agar tetap inklusif dan damai.
Akhirnya, Natal dan toleransi beragama mengajarkan satu hal penting: hidup berdampingan secara damai membutuhkan pemahaman, kedewasaan, dan saling menghormati batas. Toleransi bukan tentang menghilangkan identitas keagamaan, melainkan tentang mengelola perbedaan dengan bijaksana. Dengan pemahaman yang tepat tentang batas-batas toleransi, masyarakat Indonesia dapat terus menjaga harmoni sosial tanpa kehilangan jati diri keagamaannya masing-masing.
Semoga perayaan Natal menjadi momentum refleksi bersama untuk memperkuat moderasi beragama, mempererat persaudaraan kebangsaan, dan merawat Indonesia sebagai rumah bersama yang damai dan berkeadilan.

#Natal

#ToleransiBeragama

#ModerasiBeragama

#KerukunanUmatBeragama

#BatasToleransi

QURANIC READING: An English Reading Comprehension for Islamic Students
QURANIC READING: An English Reading Comprehension for Islamic Students

Sinopsis

Buku ini menyediakan kurikulum terpadu bagi mahasiswa kajian Islam untuk mengembangkan kemahiran membaca teks-teks keagamaan berbahasa Inggris secara mandiri. Dirancang dalam 14 unit untuk satu semester, materi ini berfokus pada penguasaan teknik membaca akademik—seperti previewing, inferencing, dan summarizing—melalui materi otentik dari karya tafsir kontemporer. Tujuannya adalah menciptakan kemandirian akademik, sehingga mahasiswa dapat secara kritis mengolah sumber-sumber primer dan sekunder dalam bahasa Inggris untuk mendukung studi dan penelitian mereka.

This module provides an integrated curriculum designed to develop proficiency in reading English-language religious texts for students of Islamic studies through self-directed learning. Comprising 14 units for a single semester, the material focuses on mastering academic reading techniques—such as previewing, inferencing, and summarizing—using authentic sources drawn from contemporary works of tafsir. Its ultimate aim is to foster academic autonomy, enabling students to critically engage with primary and secondary sources in English to effectively support their studies and research.

Cover Buku Quranic Reading
Terbaru

Informasi Buku

Penulis Dr. Muhamad, MA
Editor Najma F.A
Ukuran 14 x 21 cm
Halaman 252 halaman
ISBN Dalam proses
Berat 200g
Harga Rp. 55.000 Rp. 50.000 -9%

Keunggulan Buku

Kurikulum Terpadu

Dirancang khusus untuk satu semester dengan 14 unit yang komprehensif

Bahasa Inggris Akademik

Fokus pada teknik membaca akademik untuk teks keagamaan berbahasa Inggris

Pembelajaran Mandiri

Mendorong kemandirian akademik mahasiswa dalam mengolah sumber primer

Kunci Jawaban

Tersedia kunci jawaban khusus bagi instruktur/dosen pengampu untuk seluruh soal latihan

Testimoni

“Buku ini menjadi referensi penting dalam pengajaran bahasa Inggris untuk kajian Islam. Pendekatan yang sistematis dan materi yang relevan membuat mahasiswa mampu menguasai teknik membaca akademik dengan efektif.”

– Dr. Ahmad Andriawan, Dosen Bahasa Inggris PTKI

Dapatkan Buku Ini

Miliki sekarang juga dengan harga spesial Rp. 50.000 untuk meningkatkan kemahiran membaca teks keagamaan berbahasa Inggris Anda

Pesan Buku

Bagikan info ini: