Mahasiswa IPRIJA Jalani PPL di Radio Rasil: Belajar Dakwah, Profesionalisme, dan Semangat Tak Kenal Batas
Oleh: Muhamad Tohayudin
Jakarta — Radio Dakwah Rasil kembali menjadi tempat belajar lapangan bagi mahasiswa semester tujuh Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA). Melalui program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), para mahasiswa dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) mendapatkan kesempatan berharga untuk menimba ilmu langsung di dunia penyiaran dakwah yang profesional dan inspiratif.
Dalam pelaksanaan PPL kali ini, mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Hingga kini, sudah berjalan dua kelompok, sedangkan kelompok tiga masih dalam tahap persiapan. Karena kelompok pertama sulit dihubungi, wawancara dilakukan secara daring (online) kepada kelompok kedua yang diketuai oleh Vidinar Rakhmadin. Salah satu mahasiswa yang aktif memberikan keterangan adalah Eko Jak Putra, yang dikenal semangat dalam mengikuti kegiatan siaran dan pelatihan di Rasil.
Sementara itu, di kelompok berikutnya, terdapat kisah menarik dari Maulani Nur Hanifah, mahasiswi yang saat ini sedang hamil namun tetap menunjukkan semangat luar biasa. Ia belum melaksanakan PPL dan kini tengah menunggu dengan cemas dan penuh penasaran. “Saya ingin segera PPL di Rasil, meskipun sedikit takut di perjalanan karena sedang mengandung. Tapi rasa ingin belajar dan ikut berkontribusi jauh lebih besar,” ujarnya dengan senyum haru. Dedikasi Maulani menjadi gambaran nyata semangat mahasiswa IPRIJA yang pantang menyerah demi menuntut ilmu.
Mahasiswa yang telah menjalani PPL di Radio Rasil, Jakarta Timur, mendapatkan pengalaman langsung dalam dunia media dakwah modern. Mereka belajar mengoperasikan kamera shooting, mengatur sound system, dan menulis artikel jurnalistik dengan kaidah 5W + 1H (What, Who, When, Where, Why, dan How). Tak hanya itu, setiap pagi sebelum kegiatan dimulai, para peserta melakukan tadarus Al-Qur’an bersama, menjadikan suasana pelatihan penuh nilai spiritual dan keberkahan.

Selain rutinitas tersebut, para mahasiswa juga kerap diminta hadir saat acara besar — seperti kedatangan Syaikh dari luar negeri atau tamu kehormatan dari Gaza — untuk meliput podcast dan siaran langsung. Uniknya, mereka tetap diminta hadir meskipun kegiatan berlangsung di hari libur, seperti Sabtu dan Ahad. Hal ini menjadi pengalaman berharga yang melatih disiplin, tanggung jawab, dan kesiapan mental menghadapi dunia kerja nyata.
Salah satu kisah paling menantang datang dari Siti Zulpahdilla, yang pernah diberi tugas berat membuat 50 artikel dari hasil transkrip video YouTube Radio Rasil. Setiap artikel harus mengandung unsur 5W + 1H dengan gaya jurnalistik yang menarik. Awalnya, Siti sempat menangis karena merasa tidak mampu menyelesaikan tugas sebanyak itu dalam satu hari. Namun setelah berdiskusi, akhirnya disepakati target lima artikel per hari.
“Awalnya berat sekali, tapi lama-lama saya menikmati prosesnya. Sekarang saya jadi lebih cepat menulis dan lebih percaya diri,” ujarnya. Pengalaman itu mengajarkan Siti tentang manajemen waktu, ketekunan, dan semangat pantang menyerah.
Lain halnya dengan Ahmad Saefuddin, mahasiswa yang memiliki studio band pribadi. Ia merasa bersyukur karena pelajaran di Rasil sangat relevan dengan dunia musik dan audio yang ia tekuni. “Saya jadi tahu cara mengatur suara, teknik publikasi, dan standar kualitas audio untuk siaran dakwah,” katanya dengan semangat.
Sementara itu, Ustadz Fadli Malik Husein, mahasiswa yang fasih berbahasa Arab, merasa PPL di Rasil membuka peluang luar biasa baginya. Ia sering dipercaya berinteraksi dengan narasumber Arab dan muballigh nasional. “Bertemu langsung dengan para dai internasional membuat saya semakin bersemangat memperdalam ilmu dakwah,” tuturnya dengan mata berbinar.
Kelompok kedua yang diketuai Vidinar Rakhmadin dikenal kompak dan saling membantu. Mereka tidak hanya fokus menyelesaikan tugas sendiri, tetapi juga memberikan informasi dan panduan kepada kelompok berikutnya, agar lebih siap menghadapi kondisi lapangan. Solidaritas ini menunjukkan semangat ukhuwah Islamiyah yang menjadi ciri khas mahasiswa IPRIJA.
Kegiatan ini dilaksanakan sejak awal semester tujuh tahun akademik 2025 di Radio Dakwah Rasil, Jakarta Timur, dengan sistem bergilir antarkelompok. Setiap peserta mendapatkan bimbingan langsung dari praktisi media dan mentor dakwah profesional.
PPL di Radio Rasil bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan juga laboratorium dakwah nyata. Mahasiswa belajar bahwa dakwah tidak hanya disampaikan lewat mimbar, tetapi juga dapat dikemas melalui siaran radio, artikel digital, dan konten kreatif.
“Kami belajar bahwa dakwah hari ini bukan hanya bicara, tetapi juga tentang bagaimana mengemas pesan kebaikan melalui media yang tepat,” ungkap Vidinar Rakhmadin, ketua kelompok dua.
Kegiatan ini juga menjadi bukti nyata bahwa semangat dakwah tidak mengenal batas — baik waktu, tenaga, maupun kondisi fisik. Seperti Maulani Nur Hanifah yang tengah menanti giliran PPL dengan kandungan di perutnya, semua peserta menunjukkan satu hal yang sama: cinta terhadap ilmu dan dakwah.
Dengan semangat yang menyala, mahasiswa IPRIJA di Radio Rasil membuktikan bahwa dakwah di era digital bukan sekadar tugas kampus, melainkan panggilan hati untuk menyebarkan kebaikan melalui media modern. Mereka bukan hanya calon sarjana dakwah, tetapi juga calon pejuang suara Islam yang siap menyentuh hati umat dengan mikrofon, kamera, dan pena mereka.
Editor: MAA

