Ritual 12 Anggur di Pergantian Tahun 2026: Tradisi Viral dalam Tinjauan Islam dan Budaya Digital

Oleh : M. Zainul Umam, Umi Sulistyani, Husnul Khotimah, Mujiono
Pergantian tahun selalu menjadi momentum penting dalam kehidupan manusia. Ia bukan sekadar penanda perubahan kalender, tetapi juga ruang refleksi, harapan, dan evaluasi diri. Menjelang Tahun Baru 2026, media sosial global diramaikan oleh sebuah fenomena budaya yang kembali viral, yakni ritual makan 12 anggur saat detik-detik pergantian tahun. Praktik ini dipercaya oleh sebagian masyarakat dunia sebagai simbol keberuntungan, kelancaran rezeki, dan kebahagiaan selama satu tahun ke depan. Fenomena tersebut menjadi menarik untuk dikaji, terutama ketika dilihat dari perspektif budaya digital dan pandangan Islam.
Asal-Usul Ritual 12 Anggur
Ritual 12 anggur bukanlah tradisi baru. Ia berasal dari Spanyol dan dikenal dengan istilah Las Doce Uvas de la Suerte atau “dua belas anggur keberuntungan”. Tradisi ini telah dilakukan sejak awal abad ke-20. Dalam praktiknya, seseorang memakan satu butir anggur setiap kali lonceng jam berbunyi pada detik-detik terakhir pergantian tahun. Setiap butir anggur melambangkan satu bulan dalam setahun, yang diharapkan membawa keberuntungan dan kebaikan.
Seiring perkembangan zaman, tradisi ini menyebar ke berbagai negara Eropa dan Amerika Latin. Namun, lonjakan popularitasnya secara global terjadi ketika media sosial mengambil peran besar dalam mendistribusikan budaya. TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi medium utama yang mengubah ritual lokal menjadi fenomena internasional.
Ritual 12 Anggur dalam Budaya Digital
Di era budaya digital, tradisi tidak lagi dibatasi oleh ruang dan wilayah. Media sosial telah menjadi ruang baru tempat lahirnya makna, simbol, dan praktik budaya. Ritual 12 anggur mengalami transformasi makna: dari tradisi lokal menjadi konten global. Para kreator konten mengemas ritual ini dengan narasi visual yang menarik, musik emosional, serta pesan afirmasi positif seperti manifestation, positive vibes, dan new year goals.
Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya digital bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga arena pembentukan identitas dan harapan. Generasi muda, khususnya, memaknai ritual ini sebagai simbol optimisme, resolusi hidup, dan penguatan mental. Dalam konteks ini, ritual 12 anggur sering diposisikan bukan sebagai keyakinan religius, melainkan sebagai simbol motivasi personal.
Namun demikian, budaya digital juga memiliki kecenderungan untuk menyederhanakan makna. Simbol-simbol budaya sering kali dilepaskan dari konteks sejarah dan nilai asalnya. Ritual 12 anggur yang awalnya memiliki latar budaya tertentu kini hadir dalam berbagai tafsir, bahkan terkadang bercampur dengan keyakinan spiritual baru yang tidak memiliki dasar yang jelas.

Perspektif Islam terhadap Ritual dan Tradisi
Islam sebagai agama yang sempurna memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi tradisi dan budaya. Dalam kaidah ushul fiqh dikenal prinsip al-‘adah muhakkamah (adat atau kebiasaan dapat dijadikan pertimbangan hukum), selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariat Islam. Artinya, tidak semua tradisi otomatis ditolak, tetapi perlu dikaji substansi dan maknanya.
Dalam konteks ritual 12 anggur, persoalan utama bukan pada aktivitas makan buahnya, melainkan keyakinan yang menyertainya. Jika ritual tersebut diyakini sebagai penentu keberuntungan, keselamatan, atau rezeki, maka hal ini berpotensi bertentangan dengan prinsip tauhid. Islam menegaskan bahwa hanya Allah SWT yang memiliki kuasa mutlak atas takdir dan rezeki manusia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada satu pun musibah atau kebaikan yang terjadi kecuali atas izin-Nya. Keyakinan bahwa suatu benda, ritual, atau simbol tertentu dapat menentukan nasib secara independen termasuk dalam bentuk tathayyur (anggapan sial atau keberuntungan dari sesuatu), yang dalam Islam perlu dihindari.
Namun, apabila ritual tersebut dimaknai sekadar sebagai tradisi budaya, hiburan, atau simbol refleksi diri tanpa keyakinan spiritual tertentu, maka posisinya menjadi berbeda. Di sinilah pentingnya niat dan pemahaman yang lurus.
Antara Simbol dan Keyakinan
Islam sangat menekankan pentingnya niat (innamal a‘malu binniyat). Aktivitas yang sama dapat bernilai ibadah atau sebaliknya, tergantung pada niat dan keyakinan yang mendasarinya. Ritual 12 anggur, ketika diyakini membawa keberuntungan secara otomatis, berpotensi menggeser ketergantungan manusia dari Allah kepada simbol.
Sebaliknya, Islam mengajarkan umatnya untuk menggantungkan harapan kepada Allah melalui doa, ikhtiar, dan tawakal. Pergantian tahun dalam Islam tidak dirayakan dengan ritual khusus, tetapi dimaknai sebagai momentum muhasabah (evaluasi diri). Umar bin Khattab pernah menegaskan pentingnya menghitung diri sendiri sebelum dihitung oleh Allah.
Dalam tradisi Islam, pergantian waktu seharusnya diisi dengan refleksi iman, perbaikan akhlak, dan peningkatan amal saleh. Inilah pembeda mendasar antara simbolisme budaya populer dan spiritualitas Islam.

Literasi Digital dan Tantangan Umat
Viralnya ritual 12 anggur juga menjadi pengingat akan pentingnya literasi digital, khususnya bagi umat Islam. Tidak semua tren yang populer sesuai dengan nilai keislaman. Media sosial sering kali membungkus praktik budaya dengan narasi emosional yang menarik, tetapi minim konteks.
Umat Islam dituntut untuk bersikap kritis, selektif, dan berimbang. Menolak secara total tanpa pemahaman juga bukan solusi, sebagaimana menerima tanpa kritik dapat berisiko terhadap akidah. Sikap wasathiyah (moderat) menjadi kunci dalam menyikapi fenomena budaya digital.
Lembaga pendidikan Islam, kampus, dan media akademik memiliki peran strategis dalam memberikan pemahaman yang jernih. Diskursus tentang budaya populer perlu dihadirkan dengan pendekatan edukatif, bukan menghakimi. Dengan demikian, generasi muda dapat memahami batas antara tradisi, hiburan, dan keyakinan.
Tahun Baru dalam Perspektif Islam
Islam tidak mengenal perayaan tahun baru sebagaimana tradisi modern. Namun, Islam sangat menghargai waktu. Allah bersumpah atas waktu dalam banyak ayat Al-Qur’an, seperti wal-‘ashr dan wal-fajr. Ini menunjukkan bahwa waktu memiliki nilai spiritual yang tinggi.
Pergantian tahun, termasuk tahun Masehi, dapat dijadikan momentum evaluasi diri. Sejauh mana kualitas iman meningkat, amal bertambah, dan akhlak membaik. Resolusi terbaik dalam Islam bukan sekadar target duniawi, tetapi juga komitmen untuk menjadi hamba yang lebih taat dan bermanfaat.
Daripada menggantungkan harapan pada simbol ritual, Islam mengajarkan doa yang tulus, ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta tawakal kepada Allah. Inilah fondasi keberuntungan sejati dalam pandangan Islam.

Ritual 12 anggur di pergantian Tahun Baru 2026 adalah contoh nyata bagaimana tradisi lokal dapat berubah menjadi fenomena global melalui budaya digital. Ia merepresentasikan kebutuhan manusia akan harapan, optimisme, dan rasa kendali di tengah ketidakpastian zaman.
Dalam perspektif Islam, fenomena ini perlu disikapi dengan bijak dan proporsional. Bukan semata-mata ditolak atau diikuti, tetapi dipahami secara kritis. Islam mengajarkan bahwa keberuntungan sejati tidak datang dari ritual simbolik, melainkan dari iman, amal saleh, dan ketergantungan penuh kepada Allah SWT.
Budaya boleh berubah, tren boleh berganti, tetapi prinsip tauhid tetap menjadi kompas utama bagi umat Islam. Pergantian tahun seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, memperbaiki diri, dan meneguhkan niat untuk hidup lebih bermakna. Dengan demikian, umat Islam dapat hadir secara aktif dan cerdas di tengah arus budaya digital global, tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai keislaman.

Menutup Tahun 2025, Membaca Arah Pendidikan Indonesia: Refleksi Kritis dari PGMI

Jakarta, 31 Desember 2025. Menjelang pergantian tahun, dunia pendidikan Indonesia kembali dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: sejauh mana perjalanan pendidikan telah membawa perubahan yang bermakna, dan ke arah mana langkah berikutnya harus diarahkan. Refleksi inilah yang menjadi ruh utama dalam podcast refleksi akhir tahun yang menghadirkan Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Bapak M. Zainul Umam, M.Pd.I, dengan moderator Ibu Umi Sulistyani, M.Pd.

Podcast yang diselenggarakan pada 31 Desember 2025 ini menjadi ruang dialog akademik sekaligus reflektif, tidak hanya untuk sivitas akademika PGMI, tetapi juga bagi para pemerhati pendidikan dasar di Indonesia. Dalam suasana akhir tahun yang sarat evaluasi, diskusi berlangsung hangat, mendalam, dan menyentuh persoalan-persoalan esensial pendidikan nasional.

Pendidikan Indonesia dalam Fase Transisi

Mengawali diskusi, moderator mengajak narasumber untuk merefleksikan kondisi umum pendidikan Indonesia sepanjang tahun 2025, khususnya pada pendidikan dasar dan PGMI. Menurut M. Zainul Umam, pendidikan Indonesia saat ini berada dalam fase transisi yang sangat dinamis.

Ia menegaskan bahwa di satu sisi, terdapat sejumlah kemajuan yang patut diapresiasi. Digitalisasi pembelajaran semakin masif, kesadaran akan pentingnya literasi dan numerasi kian menguat, serta upaya penguatan kurikulum terus dilakukan oleh berbagai pemangku kebijakan. Transformasi ini menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia tidak diam, melainkan terus bergerak mengikuti tuntutan zaman.

Namun demikian, di balik capaian tersebut, tantangan mendasar masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah, beban administratif yang tinggi bagi guru, serta kesiapan sumber daya manusia yang belum merata menjadi catatan penting. Dalam konteks PGMI, tantangan utama adalah menyiapkan calon guru madrasah ibtidaiyah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, spiritualitas, dan karakter yang kuat.

“Guru PGMI ke depan tidak cukup hanya pintar mengajar, tetapi juga harus mampu membaca realitas sosial peserta didik dan lingkungannya,” ungkapnya.

Evaluasi Kebijakan: Dari Konsep ke Implementasi

Diskusi kemudian berlanjut pada evaluasi kebijakan pendidikan. Moderator menanyakan kebijakan atau praktik pendidikan apa yang menurut narasumber perlu mendapat perhatian serius ke depan. Menjawab hal ini, M. Zainul Umam menekankan pentingnya mengevaluasi implementasi kebijakan di lapangan, bukan sekadar merumuskan konsep di atas kertas.

Ia menilai bahwa banyak kebijakan pendidikan yang sejatinya baik dan visioner, namun belum sepenuhnya dipahami dan dijalankan secara utuh oleh satuan pendidikan. Kesenjangan antara regulasi dan praktik sering kali melahirkan kebingungan di tingkat guru dan dosen.

Selain itu, ia menyoroti perlunya keseimbangan antara tuntutan administratif dan esensi pendidikan. Guru dan dosen, menurutnya, seharusnya lebih banyak diberi ruang untuk mendidik, membimbing, dan menginspirasi peserta didik. Ketika energi pendidik terkuras pada pelaporan dan administrasi, maka ruh pendidikan berpotensi melemah.

“Pendidikan bukan hanya soal dokumen, tetapi tentang proses memanusiakan manusia,” tegasnya.

Inovasi yang Berpihak pada Peserta Didik

Dalam sesi berikutnya, moderator mengangkat isu inovasi pendidikan yang kerap menjadi jargon dalam berbagai forum. Menurut M. Zainul Umam, inovasi sejati dalam pendidikan bukan semata-mata soal penggunaan teknologi, melainkan tentang keberpihakan pada kebutuhan peserta didik.

Ia mencontohkan pentingnya pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata siswa. Pembelajaran semacam ini tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, empati, dan kepekaan sosial.

Teknologi, lanjutnya, harus diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkuat proses belajar, bukan menggantikan peran pendidik. Dalam pendidikan dasar dan PGMI, peran guru sebagai teladan nilai dan pembimbing karakter tetap tidak tergantikan.

“Inovasi tanpa sentuhan kemanusiaan justru berpotensi menjauhkan pendidikan dari tujuan hakikinya,” ujarnya.

Dosen dan Guru sebagai Penjaga Nilai

Sebagai pimpinan program studi, M. Zainul Umam juga memberikan pandangannya tentang peran dosen dan guru di tengah perubahan kebijakan yang begitu cepat. Ia menyebut dosen dan guru sebagai penjaga nilai dan arah pendidikan.

Di tengah dinamika kebijakan, pendidik dituntut untuk adaptif dan terus belajar. Namun, adaptasi tersebut tidak boleh mengorbankan prinsip dan etika profesi. Dosen, khususnya di lingkungan PGMI, memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk cara berpikir, sikap, dan tanggung jawab moral mahasiswa sebagai calon pendidik.

Menurutnya, mahasiswa PGMI tidak hanya perlu dibekali kompetensi pedagogik, tetapi juga kesadaran bahwa profesi guru adalah amanah sosial dan moral. Keteladanan dosen dalam bersikap, berinteraksi, dan mengambil keputusan menjadi bagian penting dari proses pendidikan itu sendiri.

Pendidikan Karakter sebagai Fondasi

Isu pendidikan karakter menjadi salah satu titik tekan dalam diskusi ini. Moderator menyoroti kecenderungan dunia pendidikan yang lebih menonjolkan capaian akademik dibandingkan pembentukan karakter. Menanggapi hal tersebut, M. Zainul Umam menegaskan bahwa pendidikan karakter seharusnya menjadi fondasi utama, bukan sekadar pelengkap.

Ia mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa karakter berpotensi melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin empati dan tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran, budaya kampus, serta keteladanan pendidik.

Di lingkungan PGMI, pendidikan karakter memiliki relevansi yang sangat kuat, mengingat lulusan PGMI kelak akan berperan langsung dalam membentuk karakter generasi sejak usia dini. Nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan akhlak mulia harus ditanamkan secara konsisten.

Harapan dan Pesan Akhir Tahun

Menutup diskusi, moderator mengajak narasumber untuk menyampaikan harapan dan pesan akhir tahun bagi dunia pendidikan Indonesia. Dalam refleksi penutupnya, M. Zainul Umam menyampaikan harapan agar pendidikan Indonesia ke depan semakin humanis, adil, dan berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya.

Ia mengajak seluruh insan pendidikan untuk menjadikan refleksi akhir tahun sebagai momentum memperbaiki niat, meningkatkan kualitas diri, dan memperkuat kolaborasi. Pendidikan, menurutnya, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan sinergi antara pendidik, institusi, kebijakan, dan masyarakat.

Khusus bagi para guru, dosen, dan mahasiswa PGMI, ia berpesan agar tetap menjadi pendidik yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial. Di tengah tantangan zaman, nilai-nilai inilah yang akan menjaga marwah dan kebermaknaan pendidikan.

Refleksi untuk Melangkah ke Tahun Baru

Podcast refleksi akhir tahun ini tidak hanya menjadi ruang evaluasi, tetapi juga pengingat bahwa pendidikan adalah proses panjang yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan komitmen. Di penghujung tahun 2025, refleksi yang disampaikan oleh Ketua Prodi PGMI ini menjadi cermin sekaligus kompas bagi langkah pendidikan ke depan.

Dengan semangat reflektif dan optimisme yang realistis, dunia pendidikan Indonesia diharapkan mampu melangkah ke tahun 2026 dengan arah yang lebih jelas: membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan berkeadaban. Dari ruang podcast sederhana, pesan besar tentang masa depan pendidikan kembali ditegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah upaya memanusiakan manusia.

Reportase : Umi Sulistyani, Rifaya Meherunnisa Arisalsabila, Najla Laila Arisalsabila, M. Zainul Umam

Percepatan Karier Dosen dan Misi Kemanusiaan untuk Sumatra: Peran Akademisi Menjawab Tantangan Bangsa

Jakarta, 25 Desember 2025, Dalam upaya memperkuat peran dosen sebagai penggerak pendidikan sekaligus agen kemanusiaan, Seminar Nasional “Percepatan Karier Dosen dan Misi Kemanusiaan untuk Sumatra” sukses diselenggarakan secara daring pada Kamis pagi, 25 Desember 2025, mulai pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, khususnya wilayah Sumatra dan sekitarnya.
Seminar nasional ini tidak hanya membahas strategi pengembangan karier dosen, tetapi juga mengaitkannya dengan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan, terutama dalam merespons berbagai tantangan pendidikan dan sosial yang dihadapi masyarakat Sumatra. Hal tersebut menjadi benang merah diskusi sepanjang kegiatan berlangsung.
Acara dibuka secara resmi oleh MC Umi Sulistyani, M.Pd, yang mengantarkan suasana seminar dengan tertib dan komunikatif. Selanjutnya, forum dipandu oleh Moderator M. Zainul Umam, M.Pd.I, yang secara sistematis mengarahkan alur diskusi agar berjalan dinamis dan tetap fokus pada substansi tema.
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Hj. Husnul Khotimah, M.Pd, yang menekankan pentingnya percepatan karier dosen tidak hanya sebagai target administratif, tetapi sebagai bagian dari peningkatan kualitas pendidikan nasional. Menurutnya, dosen perlu memiliki perencanaan karier yang matang, konsisten dalam tridarma perguruan tinggi, serta mampu menempatkan pengabdian masyarakat sebagai fondasi etis dalam pengembangan profesi.
Sementara itu, Assoc. Prof. Dr. Sadari, S.HI., M.SI., mengulas strategi percepatan jabatan fungsional dosen dalam perspektif kebijakan dan etika akademik. Ia menegaskan bahwa percepatan karier harus tetap berlandaskan integritas, kualitas karya ilmiah, dan komitmen terhadap pengembangan keilmuan. “Karier dosen bukan sekadar naik pangkat, tetapi juga tentang kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa,” ujarnya.
Narasumber berikutnya, Dr. Muhamad, M.A., mengaitkan pengembangan karier dosen dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial. Ia menyoroti pentingnya dosen terlibat aktif dalam misi kemanusiaan, khususnya di wilayah-wilayah yang terdampak bencana dan ketimpangan akses pendidikan seperti di beberapa daerah Sumatra. Menurutnya, dosen memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat.
Dari sisi teknologi dan inovasi pendidikan, Wahyudi, S.Kom., M.Pd., menyampaikan materi tentang pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung percepatan karier dosen. Ia menjelaskan bahwa literasi digital, pengelolaan portofolio akademik, serta pemanfaatan platform publikasi ilmiah menjadi kunci penting di era transformasi digital. Selain itu, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pengabdian masyarakat secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Banyak peserta menyoroti tantangan dosen di daerah, keterbatasan akses publikasi, serta pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam misi kemanusiaan. Moderator berhasil merangkum diskusi dengan menegaskan bahwa percepatan karier dosen harus berjalan seiring dengan penguatan nilai empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
Seminar nasional ini menjadi ruang refleksi bersama bahwa dosen bukan hanya aktor akademik di ruang kelas dan jurnal ilmiah, tetapi juga pelaku perubahan sosial. Keterlibatan dosen dalam misi kemanusiaan untuk Sumatra dipandang sebagai bentuk nyata implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif tentang pengembangan karier dosen yang berorientasi pada kualitas, integritas, dan kemanusiaan. Seminar ini sekaligus menegaskan komitmen institusi pendidikan tinggi dalam mencetak dosen yang profesional, berdaya saing, dan peka terhadap persoalan sosial.
Dengan terselenggaranya seminar nasional ini, diharapkan lahir sinergi yang lebih kuat antar-akademisi dalam mempercepat karier dosen sekaligus memperluas kontribusi nyata bagi masyarakat Sumatra dan Indonesia secara umum.

Reportase : M. Zainul Umam, Umi Sulistyani

Revitalisasi Pendidikan Karakter Islami untuk Generasi Emas

Mengintegrasikan Empat Sifat Profetik Rasulullah SAW sebagai Pilar Peradaban

Di tengah derasnya arus globalisasi, digitalisasi, dan krisis keteladanan, pendidikan tidak lagi cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata. Tantangan zaman menuntut hadirnya pendidikan yang mampu membentuk manusia seutuhnya cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara spiritual. Menjawab kebutuhan inilah buku Revitalisasi Pendidikan Karakter Islami untuk Generasi Emas hadir sebagai rujukan strategis bagi dunia pendidikan Islam kontemporer.

Buku ini menegaskan bahwa pendidikan karakter Islami bukan sekadar slogan normatif, melainkan sebuah sistem pembinaan yang harus dirancang secara sadar, terstruktur, dan berkelanjutan. Penulis mengajak pembaca kembali pada sumber teladan utama dalam Islam, yakni Rasulullah SAW, dengan menjadikan empat sifat profetik shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah sebagai pilar utama pembentukan karakter generasi emas Indonesia.

Keunggulan buku ini terletak pada pendekatan integratifnya. Pendidikan karakter tidak diposisikan sebagai mata pelajaran tambahan, tetapi sebagai ruh yang menjiwai seluruh proses pendidikan: mulai dari perencanaan kurikulum, strategi pembelajaran, budaya sekolah, hingga keteladanan pendidik. Dengan demikian, nilai-nilai karakter tidak berhenti pada tataran kognitif, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam sikap dan perilaku peserta didik.

Disusun dengan alur yang sistematis, buku ini menguraikan secara runtut konsep dasar pendidikan karakter Islami, urgensinya dalam konteks tantangan zaman, serta strategi revitalisasi yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Setiap pembahasan dilengkapi dengan analisis konseptual dan refleksi aplikatif, sehingga memudahkan pembaca baik akademisi, guru, mahasiswa, maupun pemerhati Pendidikan untuk memahami sekaligus menerapkannya dalam konteks nyata.

Tidak hanya bersifat teoritis, buku ini juga menawarkan kerangka praktis implementasi pendidikan karakter berbasis nilai profetik. Penulis menekankan pentingnya peran pendidik sebagai moral agent dan role model yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik dengan keteladanan. Dalam perspektif ini, sekolah dan madrasah dipandang sebagai ekosistem pembentukan karakter, bukan sekadar ruang transfer ilmu.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini relatif komunikatif, lugas, dan tetap menjaga kedalaman akademik. Hal ini menjadikan buku Revitalisasi Pendidikan Karakter Islami untuk Generasi Emas tidak hanya relevan sebagai referensi ilmiah, tetapi juga sebagai bacaan strategis yang inspiratif dan aplikatif. Buku ini cocok digunakan sebagai bahan ajar, referensi penelitian, maupun pegangan praktis bagi pendidik dan pengelola lembaga pendidikan Islam.

Diterbitkan oleh Rajawali Pers, buku ini menjadi bagian dari komitmen penerbit dalam menghadirkan karya-karya akademik yang bermutu, kontekstual, dan berdampak nyata bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Kehadiran buku ini diharapkan dapat memperkaya khazanah literatur pendidikan karakter serta menjadi kontribusi nyata dalam membangun generasi emas yang berakhlak mulia, berdaya saing, dan berperadaban.

Dengan landasan nilai profetik yang kokoh dan pendekatan pendidikan yang relevan dengan tantangan zaman, buku ini layak menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang peduli terhadap masa depan pendidikan dan karakter generasi bangsa.

#PendidikanIslam
#PendidikanKarakter
#LiterasiPendidikan
#BukuPendidikan
#ReferensiAkademik
#PendidikInspiratif

Perencanaan dan Strategi Pembelajaran: Membangun Ruang Belajar untuk Semua

Mengapa Buku ini layak di miliki ?

Buku Perencanaan dan Strategi Pembelajaran: Membangun Ruang Belajar untuk Semua bukan sekadar buku teori pendidikan, melainkan panduan praktis dan komprehensif bagi mahasiswa, calon guru, dan pendidik profesional yang ingin merancang pembelajaran secara terarah, efektif, dan relevan dengan tantangan pendidikan masa kini.

Di dalam buku ini, pembaca akan menemukan pembahasan yang disusun secara sistematis dan runtut, mulai dari landasan konseptual perencanaan pembelajaran, analisis kurikulum, perumusan tujuan, pemilihan strategi dan metode, hingga perancangan evaluasi pembelajaran. Setiap bab dirancang untuk saling terhubung, sehingga pembaca memperoleh gambaran utuh tentang bagaimana sebuah pembelajaran yang berkualitas dirancang sejak awal.

Keunggulan utama buku ini terletak pada kekuatan metodologinya yang aplikatif dan mudah diterapkan. Konsep-konsep penting tidak disajikan secara abstrak, tetapi diterjemahkan ke dalam langkah-langkah konkret yang dapat langsung digunakan dalam praktik pembelajaran. Hal ini menjadikan buku ini sangat relevan sebagai pegangan dalam perkuliahan, pelatihan guru, maupun pengembangan profesional pendidik.

Untuk memudahkan pemahaman, setiap materi disajikan secara poin per poin, ringkas, dan fokus, sehingga pembaca dapat dengan cepat menangkap inti pembahasan dan menggunakannya sebagai rujukan praktis dalam menyusun perangkat pembelajaran. Pola penyajian ini juga membuat buku mudah dipelajari secara mandiri maupun digunakan sebagai buku ajar di kelas.

Ditulis dengan bahasa yang lugas, komunikatif, dan bersahabat, buku ini praktis dan siap pakai. Materi di dalamnya dapat langsung diaplikasikan untuk menyusun RPP, modul ajar, strategi pembelajaran inklusif, serta perencanaan pembelajaran yang berorientasi pada penguatan karakter dan kebutuhan peserta didik. Buku ini sangat tepat bagi pendidik yang tidak hanya ingin mengajar, tetapi juga ingin membangun ruang belajar yang bermakna, humanis, dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan yang menyatukan teori, praktik, dan nilai, buku ini menjadi referensi penting bagi dunia pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam, sekaligus kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di berbagai satuan pendidikan.

#BukuWajibGuru
#BukuReferensi
#PendidikanBerkualitas
#BelajarSepanjangHayat
#RuangBelajarInklusif
#StrategiPembelajaran
#PerencanaanPembelajaran
#PressIPRIJA

Natal dan Toleransi: Menjaga Harmoni tanpa Mengaburkan Keyakinan

Oleh : M. Zainul Umam, Mujiono, Dicky Dwi Prakosa, Ahmad Bahruddin

Perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember merupakan momen keagamaan yang sakral bagi umat Kristiani. Di Indonesia yang dikenal sebagai bangsa majemuk, Natal tidak hanya menjadi peristiwa religius, tetapi juga ruang sosial yang menguji kedewasaan masyarakat dalam mempraktikkan toleransi beragama. Namun demikian, toleransi tidak berarti tanpa batas. Ia harus dijalankan secara proporsional, berlandaskan penghormatan terhadap keyakinan masing-masing, serta tidak mencampuradukkan ajaran agama.
Toleransi beragama di Indonesia berakar kuat pada nilai Pancasila dan konstitusi yang menjamin kebebasan setiap warga negara dalam menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya. Dalam konteks Natal, toleransi diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menjaga keamanan dan kenyamanan umat Kristiani dalam beribadah, serta menciptakan suasana sosial yang damai. Praktik seperti menjaga rumah ibadah, membantu pengamanan perayaan, dan menyampaikan ucapan selamat secara sosial menjadi contoh toleransi yang hidup di tengah masyarakat.
Namun, penting untuk dipahami bahwa toleransi memiliki batas yang jelas. Dalam perspektif keagamaan, toleransi tidak boleh melanggar prinsip akidah dan keyakinan masing-masing pemeluk agama. Menghormati perayaan agama lain tidak sama dengan ikut serta dalam ritual keagamaan yang bertentangan dengan keyakinan pribadi. Inilah batas fundamental toleransi yang harus dipahami secara bijak agar harmoni sosial tetap terjaga tanpa mengorbankan prinsip keimanan.
Natal, sebagai perayaan keagamaan umat Kristiani, hendaknya ditempatkan sebagai ruang ibadah internal yang dihormati oleh pemeluk agama lain. Kehadiran umat beragama lain dalam konteks sosial seperti menjaga keamanan atau menunjukkan simpati kemanusiaan tidak dapat disamakan dengan keterlibatan dalam ritual ibadah. Pemahaman ini penting untuk menghindari kesalahpahaman yang kerap muncul akibat kurangnya literasi keagamaan.
Di lingkungan pendidikan dan kampus, isu toleransi dan batas-batasnya menjadi semakin relevan. Perguruan tinggi merupakan ruang perjumpaan berbagai latar belakang agama dan budaya. Oleh karena itu, institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menanamkan pemahaman moderasi beragama kepada mahasiswa. Moderasi beragama mengajarkan keseimbangan: bersikap terbuka dan menghormati perbedaan, namun tetap teguh pada keyakinan sendiri.
Tantangan toleransi beragama di era digital juga tidak bisa diabaikan. Media sosial sering kali menjadi ruang penyebaran narasi ekstrem, baik yang terlalu eksklusif maupun yang terlalu permisif. Dalam konteks Natal, perdebatan tentang ucapan selamat, simbol keagamaan, dan partisipasi lintas iman kerap memicu polemik. Oleh karena itu, sikap bijak dan literasi digital menjadi kunci agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi konflik sosial.
Batas toleransi beragama juga berkaitan erat dengan etika sosial. Menghormati perayaan Natal berarti tidak mengganggu jalannya ibadah, tidak menyebarkan ujaran kebencian, serta tidak memaksakan pandangan pribadi kepada orang lain. Sebaliknya, umat Kristiani juga memiliki peran dalam menjaga sensitivitas sosial, dengan memahami keberagaman keyakinan di sekitarnya dan tidak menuntut keterlibatan religius dari pemeluk agama lain.
Dalam konteks kebangsaan, menjaga batas toleransi adalah bagian dari upaya merawat persatuan. Indonesia tidak dibangun di atas keseragaman, melainkan keberagaman yang diikat oleh kesepakatan bersama. Toleransi yang sehat adalah toleransi yang berkeadaban menghargai perbedaan, menjunjung tinggi hukum, serta menjaga ruang publik agar tetap inklusif dan damai.
Akhirnya, Natal dan toleransi beragama mengajarkan satu hal penting: hidup berdampingan secara damai membutuhkan pemahaman, kedewasaan, dan saling menghormati batas. Toleransi bukan tentang menghilangkan identitas keagamaan, melainkan tentang mengelola perbedaan dengan bijaksana. Dengan pemahaman yang tepat tentang batas-batas toleransi, masyarakat Indonesia dapat terus menjaga harmoni sosial tanpa kehilangan jati diri keagamaannya masing-masing.
Semoga perayaan Natal menjadi momentum refleksi bersama untuk memperkuat moderasi beragama, mempererat persaudaraan kebangsaan, dan merawat Indonesia sebagai rumah bersama yang damai dan berkeadilan.

#Natal

#ToleransiBeragama

#ModerasiBeragama

#KerukunanUmatBeragama

#BatasToleransi

QURANIC READING: An English Reading Comprehension for Islamic Students
QURANIC READING: An English Reading Comprehension for Islamic Students

Sinopsis

Buku ini menyediakan kurikulum terpadu bagi mahasiswa kajian Islam untuk mengembangkan kemahiran membaca teks-teks keagamaan berbahasa Inggris secara mandiri. Dirancang dalam 14 unit untuk satu semester, materi ini berfokus pada penguasaan teknik membaca akademik—seperti previewing, inferencing, dan summarizing—melalui materi otentik dari karya tafsir kontemporer. Tujuannya adalah menciptakan kemandirian akademik, sehingga mahasiswa dapat secara kritis mengolah sumber-sumber primer dan sekunder dalam bahasa Inggris untuk mendukung studi dan penelitian mereka.

This module provides an integrated curriculum designed to develop proficiency in reading English-language religious texts for students of Islamic studies through self-directed learning. Comprising 14 units for a single semester, the material focuses on mastering academic reading techniques—such as previewing, inferencing, and summarizing—using authentic sources drawn from contemporary works of tafsir. Its ultimate aim is to foster academic autonomy, enabling students to critically engage with primary and secondary sources in English to effectively support their studies and research.

Cover Buku Quranic Reading
Terbaru

Informasi Buku

Penulis Dr. Muhamad, MA
Editor Najma F.A
Ukuran 14 x 21 cm
Halaman 252 halaman
ISBN Dalam proses
Berat 200g
Harga Rp. 55.000 Rp. 50.000 -9%

Keunggulan Buku

Kurikulum Terpadu

Dirancang khusus untuk satu semester dengan 14 unit yang komprehensif

Bahasa Inggris Akademik

Fokus pada teknik membaca akademik untuk teks keagamaan berbahasa Inggris

Pembelajaran Mandiri

Mendorong kemandirian akademik mahasiswa dalam mengolah sumber primer

Kunci Jawaban

Tersedia kunci jawaban khusus bagi instruktur/dosen pengampu untuk seluruh soal latihan

Testimoni

“Buku ini menjadi referensi penting dalam pengajaran bahasa Inggris untuk kajian Islam. Pendekatan yang sistematis dan materi yang relevan membuat mahasiswa mampu menguasai teknik membaca akademik dengan efektif.”

– Dr. Ahmad Andriawan, Dosen Bahasa Inggris PTKI

Dapatkan Buku Ini

Miliki sekarang juga dengan harga spesial Rp. 50.000 untuk meningkatkan kemahiran membaca teks keagamaan berbahasa Inggris Anda

Pesan Buku

Bagikan info ini:

Penyerahan Donasi dari IPRIJA ke Baznas Bazis DKI Jakarta untuk Korban Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Jakarta, 22 Desember 2025 – Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) berkolaborasi dengan DEMA dan MCI El-Mahabbah secara resmi menyerahkan donasi sebesar Rp15.000.000 kepada Baznas Bazis DKI Jakarta untuk membantu korban bencana musibah banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Acara penyerahan berlangsung pada hari ini, pukul 12.00 siang, di kantor Baznas Bazis DKI Jakarta.

Turut hadir dalam acara penyerahan donasi ini beberapa pimpinan kampus IPRIJA yaitu Wakil Rektor 1 sekaligus Direktur MCI El-Mahabbah Dr. Hj. Husnul Khotimah M.Pd., Wakil Rektor 3 Dr. H. AH Bahruddin, MA., Kabiro ITE Wahyudi S.Kom. M.Pd., dan perwakilan dari mahasiswa Prastian Muhammad Alim selaku Presiden Mahasiswa DEMA IPRIJA dan Siti Hapsoh selaku Sekretaris Umum DEMA IPRIJA.

Acara dimulai dengan sambutan dari Wakil Rektor 3 IPRIJA, Dr. H. AH Bahruddin, MA., yang menekankan pentingnya gotong royong dalam menghadapi musibah seperti ini. “Bencana ini mengingatkan kita akan kerapuhan kehidupan manusia. Melalui donasi ini, kami berharap dapat berkontribusi dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah terdampak,” ujarnya.

Selanjutnya, Wakil Rektor 1 IPRIJA sekaligus Direktur MCI El-Mahabbah, Dr. Hj. Husnul Khotimah M.Pd, memimpin delegasi dan menyampaikan bahwa donasi ini merupakan bentuk kepedulian institut terhadap korban bencana alam yang sedang menderita. “Kami di IPRIJA merasa terpanggil untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana. Semoga donasi ini dapat meringankan beban mereka dan mempercepat proses pemulihan,” ungkap Dr. Hj. Husnul Khotimah.

Donasi tersebut diterima langsung oleh Kepala UPZ Baznas Bazis DKI Jakarta, Bapak Ahmad Aminuddin M. Ag. Dalam sambutannya, Bapak Ahmad Aminuddin M.Ag., menyampaikan terima kasih atas kontribusi IPRIJA. “Donasi ini akan kami salurkan secara tepat sasaran melalui program-program Baznas Bazis DKI Jakarta untuk membantu korban di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Kami mengapresiasi inisiatif IPRIJA yang telah menunjukkan empati dan solidaritas tinggi,” ungkapnya.

Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di ketiga wilayah tersebut telah menyebabkan kerugian besar, termasuk hilangnya nyawa, kerusakan infrastruktur, dan kesulitan akses bagi masyarakat setempat. Baznas Bazis DKI Jakarta berkomitmen untuk mendistribusikan bantuan ini dalam bentuk logistik, bantuan medis, dan dukungan rehabilitasi.

Acara penyerahan donasi ini diharapkan dapat menginspirasi pihak lain untuk turut berkontribusi dalam upaya kemanusiaan. IPRIJA sendiri dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan berbasis nilai-nilai Islam, dan langkah ini semakin memperkuat citra institut sebagai lembaga yang peduli terhadap masyarakat luas.

Hari Ibu: Merawat Ingatan, Menguatkan Peran Perempuan dalam Peradaban

Oleh : M. Zainul Umam, Husnul Khotimah, Umi Sulistyani

Setiap tanggal 22 Desember, bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu sebagai momentum refleksi atas peran penting perempuan khususnya ibu dalam membangun keluarga, masyarakat, dan bangsa. Hari Ibu bukan sekadar perayaan simbolik dengan bunga atau ucapan manis, melainkan ruang untuk mengenang perjuangan, pengorbanan, serta kontribusi nyata perempuan dalam sejarah dan kehidupan sehari-hari.
Secara historis, Hari Ibu di Indonesia berakar dari Kongres Perempuan Indonesia pertama yang diselenggarakan pada 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres tersebut menjadi tonggak persatuan gerakan perempuan Indonesia dalam memperjuangkan hak, pendidikan, dan peran sosial perempuan di tengah perjuangan kemerdekaan. Oleh karena itu, Hari Ibu di Indonesia memiliki makna yang lebih luas dibandingkan peringatan serupa di negara lain, ia adalah hari kesadaran, perjuangan, dan pemberdayaan perempuan.
Dalam konteks keluarga, ibu sering disebut sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dari ibu, seorang anak pertama kali belajar tentang nilai kehidupan: kejujuran, kasih sayang, kesabaran, dan tanggung jawab. Ibu bukan hanya sosok yang melahirkan, tetapi juga mendidik, merawat, dan membentuk karakter generasi masa depan. Peran ini kerap dijalani dengan penuh pengorbanan, bahkan tanpa pengakuan atau balasan yang setimpal.
Namun, peran ibu di era modern tidak lagi terbatas pada ranah domestik. Banyak ibu yang juga berperan sebagai pendidik, pekerja profesional, pemimpin komunitas, hingga penggerak perubahan sosial. Mereka menjalani peran ganda bahkan sering kali peran berlapis dengan keteguhan dan ketulusan. Tantangan yang dihadapi pun semakin kompleks, mulai dari tuntutan ekonomi, perkembangan teknologi, hingga dinamika sosial yang terus berubah.
Peringatan Hari Ibu menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan belum sepenuhnya usai. Masih terdapat berbagai persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama, seperti akses pendidikan yang setara, perlindungan terhadap kekerasan, kesehatan ibu dan anak, serta penghargaan terhadap kerja-kerja perawatan (care work) yang selama ini kerap tidak terlihat. Menghormati ibu berarti juga memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh perempuan.
Dalam perspektif pendidikan, peran ibu sangat strategis dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan sejak dini. Ibu memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan anak, sehingga mampu menjadi agen pembentukan karakter yang efektif. Di sinilah pentingnya dukungan negara dan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas perempuan melalui pendidikan, literasi, dan pemberdayaan ekonomi.
Hari Ibu juga menjadi momentum untuk merefleksikan relasi dalam keluarga. Apresiasi terhadap ibu tidak seharusnya berhenti pada satu hari dalam setahun, tetapi diwujudkan dalam sikap saling menghargai, berbagi peran, dan membangun komunikasi yang sehat di dalam rumah tangga. Keterlibatan ayah dan anggota keluarga lain dalam tugas pengasuhan adalah bentuk nyata penghormatan terhadap peran ibu.
Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, tantangan ibu semakin beragam. Ibu dituntut untuk adaptif terhadap perubahan, sekaligus tetap menjadi penjaga nilai dan moral keluarga. Oleh karena itu, ibu juga membutuhkan ruang untuk bertumbuh, didukung secara psikologis, sosial, dan struktural agar mampu menjalankan perannya secara optimal.
Akhirnya, Hari Ibu adalah tentang merawat ingatan kolektif kita terhadap perjuangan perempuan, sekaligus meneguhkan komitmen untuk terus menguatkan peran ibu dalam peradaban. Menghormati ibu berarti menghargai kehidupan, menumbuhkan kasih sayang, dan membangun masa depan yang lebih adil dan manusiawi.
Selamat Hari Ibu. Terima kasih atas cinta yang tak pernah selesai, doa yang tak pernah putus, dan perjuangan yang sering kali tak terlihat, namun selalu terasa.

#HariIbu #PeranIbu #PerempuanBerdaya #IbuInspirasi #KasihIbu #PerempuanIndonesia #KeluargaBerkarakter #CintaTakBersyarat

Menutup Tahun dengan Refleksi: PGMI IPRIJA Siap Ungkap Arah Pendidikan Indonesia Lewat Podcast Spesial Akhir Tahun

Jakarta – 17 Desember 2025, menjelang akhir tahun 2025, dunia pendidikan kembali dihadapkan pada kebutuhan untuk berhenti sejenak, merenung, dan mengevaluasi arah perjalanan yang telah ditempuh. Menyikapi hal tersebut, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) akan menyelenggarakan diskusi reflektif melalui PGMI IPRIJA TV Podcast, yang mengangkat tema “Refleksi Pendidikan Akhir Tahun: Evaluasi, Inovasi, dan Arah Kebijakan Pendidikan Indonesia”.

Podcast ini akan disiarkan secara live pada Rabu, 31 Desember 2025, dan dirancang sebagai ruang dialog akademik sekaligus penutup rangkaian kegiatan PGMI IPRIJA di penghujung tahun. Melalui media digital, kegiatan ini diharapkan dapat menjangkau lebih luas kalangan akademisi, mahasiswa, praktisi pendidikan, serta masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan dan kebijakan pendidikan nasional.

PGMI IPRIJA TV Podcast kali ini akan menghadirkan M. Zainul Umam, M.Pd.I, Ketua Program Studi PGMI IPRIJA, sebagai narasumber utama. Diskusi akan dipandu oleh Umi Sulistyani, M.Pd, dosen PGMI IPRIJA, yang akan berperan sebagai moderator. Perpaduan narasumber dan moderator ini diharapkan mampu menghadirkan diskusi yang tajam, reflektif, sekaligus kontekstual dengan realitas pendidikan di Indonesia.

Dalam podcast yang akan datang ini, M. Zainul Umam dijadwalkan membahas pentingnya refleksi akhir tahun sebagai momentum strategis bagi insan pendidikan. Refleksi tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan evaluasi formal, tetapi sebagai proses kritis untuk membaca ulang kebijakan, praktik pembelajaran, serta kesiapan sumber daya manusia pendidikan dalam menghadapi tantangan masa depan. Menurutnya, pendidikan harus terus dimaknai sebagai proses pembentukan karakter, nalar kritis, dan tanggung jawab sosial peserta didik.

Podcast ini juga akan menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi pendidikan Indonesia sepanjang tahun 2025. Mulai dari percepatan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah, hingga tuntutan profesionalisme guru yang semakin kompleks. Topik-topik tersebut akan dibahas sebagai bahan evaluasi bersama, sekaligus pintu masuk untuk merumuskan inovasi pendidikan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Khusus dalam konteks pendidikan dasar dan madrasah ibtidaiyah, diskusi direncanakan akan menekankan peran strategis guru sebagai agen perubahan. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial, kemampuan pedagogik yang adaptif, serta keteladanan akhlak. Melalui podcast ini, PGMI IPRIJA ingin menegaskan komitmennya dalam menyiapkan calon guru madrasah ibtidaiyah yang unggul secara akademik dan kuat dalam nilai-nilai keislaman.

Sebagai moderator, Umi Sulistyani, M.Pd akan mengarahkan diskusi agar tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi juga menyentuh realitas implementasi kebijakan pendidikan di lapangan. Isu kesenjangan antara kebijakan pusat dan kebutuhan nyata satuan pendidikan diproyeksikan menjadi salah satu fokus diskusi. Dengan pendekatan dialogis, podcast ini diharapkan mampu menghadirkan sudut pandang yang relevan dengan pengalaman guru dan lembaga pendidikan.

Selain itu, podcast ini juga akan mengangkat pentingnya menjadikan refleksi sebagai budaya akademik yang berkelanjutan. Refleksi akhir tahun diharapkan tidak berhenti pada wacana, tetapi melahirkan rekomendasi dan langkah tindak lanjut yang dapat diterapkan oleh institusi pendidikan tinggi, dosen, maupun mahasiswa sebagai calon pendidik.

Melalui PGMI IPRIJA TV, program studi PGMI terus berupaya memanfaatkan media digital sebagai ruang intelektual yang produktif. Podcast ini bukan hanya menjadi sarana berbagi informasi, tetapi juga media untuk membangun tradisi berpikir kritis, dialog ilmiah, dan kesadaran kolektif tentang masa depan pendidikan Indonesia.

Dengan terselenggaranya PGMI IPRIJA TV Podcast ini, PGMI IPRIJA mengajak seluruh insan pendidikan untuk bersama-sama menutup tahun dengan refleksi yang jujur dan membuka tahun baru dengan semangat perbaikan. Pendidikan adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi, kolaborasi, dan inovasi berkelanjutan. Melalui diskusi ini, diharapkan lahir gagasan dan semangat baru untuk membangun pendidikan Indonesia yang lebih bermutu dan berkarakter.